Panen Sawi

Cerita WennyNo Comments

You Are Here:Panen Sawi

Sekarang mulai nampak pola atau ritme hidup kami, Keluarga Alwe. Senin hingga Jumat, aktivitas kami dipenuhi dengan pekerjaan di ranah publik. Sabtu dan Minggu kami sepenuhnya berada di rumah. Mengerjakan urusan domestik.

Urusan domestik, yang tak lain, adalah demi memuaskan hasrat minat diri. Atau dalam istilah lainnya mengerjakan hobi. Abah sibuk bertanam-tanam sementara saya melakukan eksperimen di dapur. Ahaha.

“Sawi dikau tu macam sudah bisa dipetik,” .

kata mamak mertua Ahad pagi sepulangnya kami dari kegiatan olahraga di Kantor Bupati

Jadilah, kemarin, abah memanen sawi. Sawi hijau yang mungil. Satu ikat besar. Kalau dimasak bisa jadi satu mangkuk sayur untuk lauk satu hari. Alhamdulillah.

Sehari sebelumnya, mamak pun menemukan sebuah timun yang siap petik. Kecil saja. Timun itu diiris untuk jadi lalapan hari kemarin. Alhamdulillah, kebun kecil abah perlahan menghasilkan.

Nugget & Pisang Karamel

Hahay. Mau nulis ini kok jadi bersemu wajah begini. Hahaha.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengeksekusi resep nugget ayam dan wortel yang saya dapatkan dari situs justtryandtaste.com . Resepnya gampang-gampang susah. Gampang karena beberapa bahan dan bumbunya sudah ada di rumah. Susah karena ada beberapa bahan yang tidak ada di pasaran Selatpanjang. Seperti misalnya, kertas roti.

Saya juga bingung di bagian loyang untuk mengukus. Rumah kami tak punya loyang kecil. Alhasil saya pakai mangkuk aluminium yang kecil. Rencananya mau pakai aluminium foil yang dilipat macam lontong begitu. Tapi tak ada aluminium foil. Mencarinya di pasaran cukup sulit.

Nah, jadi, begitu Mas Cilik tidur, saya yang sedang sendirian di rumah kala itu galau mau ngapain. Apakah mau ikutan tidur atau masak. Dan mengingat lauk Mas Cilik yang itu-itu saja, terlebih dengan harga nugget yang bisa menguras kantong dalam sekali kibas, saya memutuskan untuk membuat nugget.

Bagi beberapa ibu, membuat nugget itu bisa kapan saja. Sebab, bahan dan bumbunya mudah didapat. Hiyya… Sebenarnya, kalau bahan dan bumbunya sudah ada di dapur, proses pembuatannya tak lama. Tapi kalau tak ada, mencarinya di swalayan atau pasar juga membutuhkan waktu. Harga untuk bahan-bahannya, kalau ditotal, mungkin lebih mahal dari sebungkus nugget siap masak. Tapi bahan-bahan itu masih bisa dipakai beberapa kali.

Resep Nugget Ayam dan Wortelnya bisa dilihat di sini ya….

Rasanya sedaaaap betul. Kalau menurut saya, itu karena ada bumbu penyelamat. Yaitu, mayonese!

Saya buat setengah resep saja. Dengan takaran yang, walhasil, dikira-kira setengahnya. Saya juga tak menggunakan kecap ikan. Karena tak ada. Hehehe…

Reviunya, bagian dalam nugget masih agak lembek dan liat saat dipotong. Kalau kata Mba Endang pemilik justtryandtaste.com itu karena kurang lama mengukusnya. Bisa juga karena tekstur bahan-bahan yang terlalu besar.

Saya memang tak menghancurkan ayam, wortel, dan bawang bombay. Saya hanya mencincangnya kasar. Itulah, menurut saya tekstur dalam nuggetnya masih berbonggol-bonggol.

Namun, saya tidak kapok! Pekan depan, kalau persediaan ini sudah habis, mungkin saya akan membuatnya lagi. Tentu dengan bahan yang sudah dihancurkan dengan lembut. Memang berarti ada step blendering yang harus dilakukan. Tapi semoga proses dan hasilnya berbanding lurus. Ada pepatah mengatakan, hasil tak pernah mengkhianati proses kan? Saya yakini itu. Hehehe.

Nah, sore harinya, saya bebikinan pisang karamel. Pisang karamel yang macam ada di mamang-mamang gorengan. Tapi hasilnya kurang mirip. Hehe. Saya pakai isian pisang dan keju atau pisang dan cokelat meses. Resepnya saya sontek dari Grup Rumbel Boga IIP Pekanbaru. Harusnya pakai cokelat batangan biar tak meluber isiannya di wajan dan membuat minyaknya cokelat. Tapi yang ada cokelat meses saja. Kita maksimalkan saja apa yang ada ya.. Hehe.

Waktu baru selesai masak, pisang karamel itu enak. Kriuuk! Saya, Abah, dan Mamak Mertua suka. Tapi pisang isiannya jadi terlalu panas. Mas Cilik tak bisa makan.

Mas Cilik makan ketika pisang karamel itu sudah dingin. Tapi sudah tak kriuk lagi alias liat. Mmm… sepertinya harus cari cara ni bagaimana membuat pisang karamel yang tetap kriuk walaupun sudah lama berpisah dari penggorengan.

Hehe.. Itu dia cerita akhir pekan keluarga kami. Semoga berkenan! [w]

About the author:

Ibu rumah tangga baru yang sedang belajar menjadi calon ibuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top