Selalu Lapar

Sesungguhnya aku segan untuk selalu memasuki rumah itu. Rumah putih ber-lis biru tua. Yang pintu belakangnya selalu terbuka setengah itu.
.
Klletak. Dari jauh, kudengar dasar piring menyentuh meja.
.
Ssshk. Tudung saji mulai terbuka.
.
Tanpa sadar keempat kakiku ini sepakat membawaku ke sana. Ke pintu belakang yang setengahnya terbuka itu. Tanpa aba-abaku, dua kaki belakangku menghentak lantai kayu. Dan aku mendarat di atas pintu itu.
.
Kulihat sekeliling. Pria jangkung itu tengah duduk menghadap meja. Mukanya masam. Aku mengira-ira, dia pasti belum rela meninggalkan kasurnya.
.
Maka kulangkahkan kakiku mendekat. Mengitari kakinya. Bergelung di bawah kursi yang ia duduki.
.
“Hai, Boss!” sapaku.
.
“Bossque, bagi sarapannya dong!”
.
“Lapar ni, Bossque!”
.
Hhhsh.. Ia mendengus. Aku jadi makin tak sabar. Harum ikan asin itu sudah sampai di hidungku. Cacing-cacing di perutku sudah memberontak.
.
“Bossque!”
“Bossque!”
“Makan, Bossque!”
.
Perempuan ceking itu berjalan cepat ke arahku. Ah. Dia pasti mau menghalauku. Beri aku ikan dulu, Nyah, baru aku pergi!
.
“Minta ikannya satu ya, Bah?” katanya pada pria ini.
.
Perempuan itu memintaku mendekat. Sambil menyodorkan buntut ikan asin itu padaku. Aku mau! Aku mau!
.
“Sssts. Kitty bising. Abdillah masih tidur ha!” ucapnya padaku.
.
Ia lalu membuka pintu dan melemparkan buntut ikan asin itu ke lantai kayu depan pintu. Aku melompat menangkapnya. Aaaah.. Buntut ikan asin itu jatuh ke tanah. Yang penuh rumput. Yang penuh air.
.
Ayolah hidungku. Maaf, kamu harus bekerja keras dulu. Mencari buntut ikan asin itu.
.
Dan.. HA! Semburat cokelat itu sudah tertangkap mataku.
.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *