Kado Kesayangan

Tantangan NgeblogNo Comments

You Are Here:Kado Kesayangan

Besok, pernikahan kami memasuki tahun keenam. Kami biasa merayakannya berdua. Candle light dinner di kafe bintang lima. Kalau sedang banyak uang. Atau sekedar makan romantis sepiring berdua. Kalau dompet memang lagi tipis.
.
Tuhan belum mempercayakan momongan pada kami. Mungkin kami masih terlalu cinta pada diri masing-masing. Hingga DIA ragu apakah kami bisa membagi cinta kami pada si kecil jika DIA memberikannya.
.
Di malam sebelum ulang tahun pernikahan itu, aku selalu terisak. Sampai kapan Tuhan begini. Kapan DIA akan percaya kalau kami mampu? Aku sudah hampir gila dengan mulut orang di kanan – kiri.
.
Tapi ia selalu terbangun mendengar isakku. Lalu ia memelukku dari belakang. Mengusap lembut kepalaku.
.
“Sabar, Nduk,” katanya lirih.
.
Padahal, ia pasti tak kalah sedihnya dariku. Bahkan mungkin ia yang jauh lebih sedih dengan kondisi ini. Keluarga besarnya memang sudah menanti-nantikan hadirnya generasi baru. Ia anak pertama dari 12 bersaudara. Ia sendiri pula yang laki-laki.
.
“Tetap semangat berdoa,” ujarnya lagi.
.
Mendengar itu, aku lega. Rupanya aku tak salah pilih. Ia tak pernah menuntutku ini itu. Bahkan untuk urusan keturunan.
.
Tapi tadi malam, ia tak memelukku dari belakang. Ia tetap nyenyak dalam tidurnya. Maka isakanku bertambah alasannya: apakah ia sudah berubah?
.
Aku hening dalam doa. Tak berani kupanjatkan doaku keras-keras.
.
“Tuhan.. Berikanlah aku keturunan supaya ia tak berpaling dariku,” pintaku.
.
Malam itu juga, aku malu naik ke ranjang menemaninya. Mungkinkah ia sudah jengah menghiburku? Mungkinkah ia sudah bosan berbagi hidupnya denganku?
.
Aku rebah dengan mata sembab di sofa di depan televisi. Siaran televisi tak ada yang bisa kunikmati. Tapi aku tetap menyalakannya. Supaya suara tangisku teredam dengan hiruk pikuk haha hihi televisi.
.
Kupejamkan mataku. Kupaksa ia lelap. Sepertinya baru sebentar aku tertidur saat sebuah kecupan lembut mendarat di keningku.
.
Happy anniversary ya, Nduk.”
.
Pangeranku sudah berada di depanku. Sudah mandi dan bercukur. Harum sekali.
.
Ia membawakanku sepiring nasi goreng. Ada telur mata sapi berbentuk hati di atasnya. Di bagian kanan piring terselip dua buah sendok.
.
“Sarapannya sepiring berdua ya?” katanya lagi.
.
Aku memeluknya erat dan menangis kuat-kuat. Dalam isakanku, aku bertanya mengapa ia tak menghiburku semalam. Apa ia memang sudah tidur?
.
“Mas mana bisa tidur dengar nduk nangis. Tapi mas kuatkan hati biar kejutan pagi ini sukses. Tapi mas nggak nyangka, nduk sampai tidur di luar gara-gara itu,” balasnya.
.
Aku sudah tak mampu berkata-kata.
.
Ia lalu mengeluarkan kotak besar berpita. Hadiah pernikahan. Begitu kubuka, “Hah? Helm?”
.
Ia mengangguk.
.
“Nduk kan belum punya helm. Ini tanda sayang mas. Supaya nduk selamat terus pas bawa motor di jalanan,” katanya.
.
Hmmmm… Perutku bergejolak. Aku berusaha kuat menahan tawa yang meledak. Romantiskah ia?
.

About the author:

Ibu rumah tangga baru yang sedang belajar menjadi calon ibuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top