Helm Tanda Sayang

Hari ini saya akan bercerita tentang Helm Tanda Sayang. Ini kisah nyata di balik cerita fiksi pos saya sebelumnya. Yang judulnya Kado Kesayangan itu.



Rasane aku pengen ngekek!

Di versi awal, kalimat itu ingin saya letakkan di paragraf terakhir cerita Kado Kesayangan. Tapi saya berpikir ulang. Tidak semua yang membaca tulisan saya ini orang Jawa. Atau mengerti bahasa Jawa. Apalagi saya sekarang tinggal di tanah melayu.

Jadilah saya menggantinya dengan “Rasanya aku ingin tertawa“. Lalu saya poskan ke instagram. Dan ternyata tulisan saya terlalu panjang. Bagian itu terpotong. Entah ke mana perginya. Percuma. Tak dapat feel-nya.

Maka saya pos-kan sekalian di blog ini. Dengan versi yang agak lebih lembut di bagian akhir. Sebab ‘rasane aku pengen ngekek‘ itu terasa kasar. Seperti mengejek. Meskipun saya tidak bermaksud mengejek. Saya hanya merasa geli saja. Kok bisa bapak itu terpikir untuk menganalogikannya demikian. Hebat!


Kado Kesayangan ini muncul dari materi apel, tadi pagi. Temanya ‘Selamat Berlalu-lintas’. Kami kedatangan tamu saat apel pagi tadi. Pak Kasatlantas.

Ia memberikan sosialisasi tentang pemakaian helm. Warga Selatpanjang memang tak begitu akrab dengan helm. Kalau tak ada razia ya tak pakai helm.

Kalaupun pakai, yang pegang setir saja. Itupun sudah hebat kali. Padahal, resiko jatuh untuk penumpang itu lebih besar daripada supir. Maka, seharusnya, penumpang-lah yang lebih utama mengenakan helm.

Pak Kasatlantas pun menyinggung soal itu. Katanya, helm itu tanda sayang. Peserta apel riuh bersorak.

“Kalau ada suami bilang sayang ke istrinya tapi saat naik motor istrinya tak dikasih helm, jangan percaya,” pesannya.

Kenapa?


“Karena helm fungsinya untuk melindungi kepala saat terjadi benturan. Kalau suaminya pakai helm dan istrinya tidak, kalau terjadi apa-apa bagaimana? Padahal, kepala perempuan itu kan lebih lembut daripada kepala laki-laki kan?”

Kasatlantas Polres Selatpanjang

Secara logika memang masuk. Kalau suami sayang istri, seharusnya ia peduli dengan keselamatan sang istri. Dalam hal ini, di jalan raya. Helm bertugas melindungi kepala saat terjadi benturan. Karena di kepala ada benda yang penting bagi manusia: otak.

Para suami harus tahu tentang ini.

HA! Harus cepat-cepat lapor suami nih. Minta dibelikan helm.


Tapi, apa iya, harus nunggu suami untuk beli helm?

Ya kalau nggak mau nunggu, proposalnya harus sering ditengok-tengok. Sebagai istri mungkin kita bisa meyakinkan suami kalau memakai helm itu juga bentuk syukur kita pada Ilahi.

Bencana, seperti kecelakaan, itu kan qadarullah. Sesuatu yang sudah dituliskan di Lauh Mahfuz. Sesuatu yang tidak bisa kita tolak. Tapi mengenakan helm itu bisa menjadi ikhtiar kita untuk menjaga tubuh kita. Tubuh pemberian Sang Khalik. Jangan sampai DIA berpikir kalau kita sudah tak mau lagi dengan tubuh kita ini. Karena kita menyia-nyiakan pemberian-NYA.

Kalau diambil gimana? Sudah siap?

Well, catatan ini sesungguhnya pengingat buat saya. Untuk lebih bersyukur dengan segala pemberian Tuhan. Mungkin selama ini saya terlena dengan angin sepoi-sepoi yang menampar-nampar pipi dan muka serta memainkan ujung jilbab. Berasa seperti artis iklan sampo. Padahal, bahaya besar mengintai.

Alhamdulillah, proposal beli helm saya sudah di-acc , kawan.

Tabik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *