Pingsan

Tantangan NgeblogNo Comments

You Are Here:Pingsan

Hari ini saya akan bercerita tentang pingsan. Simak ya…


Kakiku kesemutan. Suara inspektur upacara lambat laun menggema. Padahal, awalnya nyaring. Kini hanya seperti gumaman serangga saja.
.
Kulepaskan sepatuku. Lumayan. Ada nafas segar di kakiku yang beberapa menit lalu terperangkap dalam sesak.
.
Namun, nyatanya semut-semut putih itu mulai merayap ke pandanganku. Tak berapa lama ini pasti, semut-semut itu akan berganti kulit menjadi hitam. Lalu gelap.
.
Kupaksa tangan kananku bergerak. Dalam gelap. Rasanya kalau kuayunkan ke depan, tanganku akan menemukan tangan temanku. Tangan yang saling mengikat di posisi istirahat.
.
Hap. Aku menemukannya.
.
Ia tak menyambut tanganku. Aku berbisik padanya, “Aku mau pingsan.”
.
Kudengar ia mulai sibuk. Tanganku digenggamnya. Lalu ia meminta tolong yang lainnya. Suaranya terdengar panik.
.
Mataku mungkin telah terpejam. Aku tak lagi melihat sesuatu apapun. Kurasakan badanku melayang. Dan mendarat di atas balok-balok kayu. Aku berayun-ayun.
.
Aku tenang. Serasa nyaman. Semua hening.
.
Hanya semenit saja, kurasa, keheningan itu. Telinga ini kemudian berdengung lagi. Riuh rendah suara mulai tertangkap.
.
Kasur-kasur!
.
Agak kesini. Maju lagi. Iya cepat cepat.
.
Lalu kurasakan badanku rebah di atas alas yang sama rata. Teduh. Tiada terik.
.
Aku membuka mata. Sebuah ruangan kecil dengan jendela di sebelah kiriku. Atapnya melengkung ke atas. Hitam.
.
Kututup mata lagi.
.
“Kak..Kak.. Kakak sadar?” seseorang menyentuh tanganku lembut. Suara perempuan.
.
“Iya kak,” sahutku lirih.
.
“Kakak pingsan kak. Belum sarapan ya?” tanyanya lagi.
.
“Sudah kak,” jawabku.
.
Aku sudah sarapan. Sepiring nasi goreng kampung. Minum air putih pun sudah. Aku juga bingung kenapa bisa pingsan.
.
Suara perempuan itu kembali terdengar. Tapi tak lagi bertanya kepadaku. Ia meminta AC. Pendingin ruangan. “Mobil ini tak ada AC-nya?” tanyanya.
.
Seorang pria menjawab tidak. Kubuka mata, ada jendela di samping kiriku. Kucoba menggesernya. Tak bergerak. Tubuhku masih tak bertenaga jua.
.
“Kipas..Kipas,” sahut perempuan itu lagi.
.
Satu perempuan lainnya mengulurkan kertas. Ia mengambilnya dan mulai mengipasiku. Sedap.
.
Seingatku, aku terakhir pingsan ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Di bus umum. Ketika hendak turun di pemberhentian bus. Kakiku tak berhasil menapak tanah. Bersyukur ada yang memegangku dan memapahku duduk di bangku semen. Di bawah jembatan penyeberangan.
.
Aku mungkin tak tahan panas. Upacara tadi, mentari begitu terik menerpa wajahku. Sementara kakiku terlalu sesak dibingkai sepatu berhak.
.
Yah. Sudah lama aku tak ikut upacara. Tapi tetap harus dijalani. Sebab ini bagian dari kerja.
.

About the author:

Ibu rumah tangga baru yang sedang belajar menjadi calon ibuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top