“The Last Empress”: Ketika Ibu Memaksakan Kehendaknya Pada Anak

KomunikasiNo Comments

You Are Here:“The Last Empress”: Ketika Ibu Memaksakan Kehendaknya Pada Anak

Hari ini saya akan bercerita tentang The Last Empress: Ketika Ibu Memaksakan Kehendaknya Pada Anak. Simak ya…


Saya baru menamatkan menonton serial The Last Empress. Drama Korea yang sedang diputar di layar televisi biru itu. Tapi saya tidak menontonnya di televisi. Saya menontonnya melalui aplikasi Viu. Dari layar ponsel.

Awalnya saya pikir serial ini bergenre komedi. Komedi romantis. Karena saat itu, saya tak sengaja menonton sekilas di televisi. Ketika itu ada adegan pemeran wanita yang baru menikah dengan Sang Kaisar. Kaisar tak menyukainya. Tapi wanita itu jatuh cinta padanya. Cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Ini seperti serial Full House. Atau Princess Hours. Yang pada akhirnya si pemeran pria akan bertekuk lutut pada wanita. Jatuh cinta juga. Dan happy ending. Kisah cinta mereka bertemu. Tiada lagi cerita cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Tapi saya keliru, Sodara-sodara!

The Last Empress ini mengerikan. Hasut sana-sini. Tikung depan-belakang. Main mata kanan dan kiri. Bahkan sampai bunuh-membunuh.

Ngeri! Tapi juga nagih nontonnya. (Apakah saya punya darah psikopat?)

Jalan ceritanya sungguh bikin penasaran. Habis ini dia ngapain ya? Aduh, kok begini sih? Nanti dia gimana ya?

Buat yang masih mengikuti jalannya cerita di televisi, tenang saja. Saya tidak akan memberikan detil ceritanya. Saya hanya ingin mengulas soal pola asuh keluarga yang sepertinya, menjadi fondasi dari serial ini.

Pola asuh yang bagaimana?

Pola asuh orang tua yang ingin anaknya menjadi A, B, atau C. Orang tua yang memaksakan kehendaknya. Meminta anak melakukan yang ia mau. Dengan dalih, “ini yang terbaik untukmu”.


Saya selalu terngiang-ngiang pada kalimat tegas milik sastrawan Kahlil Gibran: ANAKMU BUKAN MILIKMU. Kalimat itu judul dari puisinya yang cukup panjang. Mau saya tuliskan di sini? Sebenarnya, puisi itu sudah bertebaran di jagad maya. Tapi tak apalah. Toh saya belum pernah menuliskannya di sini.

Begini:

ANAKMU BUKAN MILIKMU

Anakmu bukanlah milikmu,

mereka adalah putra-putri Sang Hidup,

yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,

tetapi bukan dari engkau.

Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,

namun jangan sodorkan pemikiranmu,

sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,

namun tidak bagi jiwanya,

sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

yang tiada dapat kau kunjungi,

sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,

namun jangan membuat mereka menyerupaimu,

sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

atau tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,

anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,

DIA merentangkanmu dengan kuasa-NYA,

hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

sebab DIA mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,

sebagaimana dikasihi-NYA pula busur yang mantap.

Berdesirkah hatimu saat membaca puisi itu? Saya iya.

Tapi terkadang saya lupa dengan konsep busur dan anak panah itu. Karena merasa sudah lebih dulu merasakan pahit getirnya kehidupan. Merasa tahu segalanya. Jadi alih-alih menyertai anak untuk bertumbuh dan berkembang, saya malah memintanya mengikuti saya.

Kalau saya kebablasan, yang terjadi selanjutnya itu seperti di serial The Last Empress. Anak tidak tumbuh dengan bahagia. Tidak memiliki kepercayaan diri. Menjadi pengecut. Dan suka memberontak.

Na’udzubillah


Tokoh sentral dalam serial itu, tentu saja, Sang Permaisuri. Permaisuri Oh Sunny. Yang diperankan Jang Na-ra.

Namun, otak dari kejahatan yang menjadi inti cerita itu adalah Ibu Suri. Kang Eun Sang. Pemerannya, Shin Eun-kyung.

Saat melihat Ibu Suri itu saya selalu terbayang wajah BCL. Mirip. Cantik. Tapi juga bikin geram. Apalagi saat mengikuti gerakan bibirnya ketika ia berbicara. Rasanya pengin makan mi gemez saat itu juga.

Sang Ibu Suri inilah yang memerintahkan sang anak, Kaisar Lee Hyuk, harus begini dan begitu. Tidak boleh melakukan ini dan itu. Alasannya, (ketika masih kecil) ia adalah putra mahkota. Dan, (ketika sudah besar) ia adalah kaisar.

Bahkan memiliki hewan peliharaan pun tidak boleh. Tak tanggung-tanggung, ibu suri tega membakar burung nuri milik anaknya itu. Di depan mata sang anak. Katanya, bermain dengan hewan peliharaan itu membuang-buang waktu. Padahal, anaknya masih berusia delapan tahun kala itu.

Ia calon kaisar. Ia harus belajar dan belajar. Supaya mampu menjadi kaisar. Intinya, ia tidak boleh bermain-main. Tidak boleh bersenang-senang.

Ibu Suri sukses menjadikan anaknya itu sebagai kaisar. Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Kaisar tumbuh menjadi orang yang kasar. Arogan. Sombong. Bermuka dua. Pandai menjilat. Belum lagi soal kehidupan asmaranya. Suka gonta-ganti pasangan. Di ranjang.

Apa yang menjadi keinginannya harus terlaksana. Sekalipun dengan cara yang kotor. Ia tak segan untuk membunuh. Jika itu perlu. Memang bukan dengan tangannya sendiri. Dengan tangan orang suruhan.

“Aku Kaisar. Aku tidak pernah salah,” begitu prinsipnya.

Hasilnya, banyak orang tersakiti. Banyak orang jadi korban. Kalau sudah terpojok, mereka tinggal panggil wartawan. Bikin pernyataan setting-an. Pencitraan.

Mungkin ini memang efek buruk dari sistem pemerintahan Monarki Konstitusional. Ketika tahta dan kuasa itu sudah diwariskan. Sesuai garis keturunan. Tikung-menikung selalu ada. Bahkan di antara saudara sendiri.

Ini terlihat dari sosok Ah-ri. Anak Kaisar dan Seo Kang-hee, Asisten Permaisuri Pertama Kaisar. Seo Kang-hee mengincar tahta Kaisar untuk Ah-ri. Kenapa? Karena ketika Ah-ri menjadi Kaisar, ia akan menjadi Ibu Suri. Ia berkuasa atas istana.

Seo Kang-hee menjadi pengasuh Ah-ri. Ia menjejali bocah berusia tujuh tahun itu dengan teori-teori keilmuan yang berat. Ekonomi. Lingkungan. Sosial. Budaya.

Ah-ri tampak senang mempelajarinya. Karena kebetulan juga, dia cerdas. Seo Kang-hee juga selalu mengiming-iminginya dengan harta dan kekuasaan yang akan dia miliki. Kalau dia menjadi kaisar.

Tapi itu sebelum dia bertemu dengan Permaisuri Oh Sunny. Di tangan Permaisuri, Ah-ri menjadi anak-anak selayaknya. Permaisuri memintanya bermain, alih-alih membaca dan menghafal isi buku-buku tebal.

Permaisuri memberinya kelinci sebagai hewan peliharaan. Yang harus dia jaga dan rawat dengan baik. Permaisuri juga memberinya permainan sepele yang ‘membuang-buang waktu’: menghancurkan gelembung bubble wrap.

Tapi prinsip menjadi the next kaisar itu seakan mengakar kuat dalam benak Ah-ri. Ia memandang rendah pada pelayan yang jauh lebih tua daripadanya. Permaisuri Oh Sunny tidak suka itu.

Ketika ia membuat masalah dengan seorang pelayan, Permaisuri menyuruhnya meminta maaf. Tapi ia menolak. Malah pelayan itu yang minta maaf.

Permaisuri terus menyuruh Ah-ri meminta maaf. Sampai Ah-ri terisak dan berkata dengan sesenggukan, “Aku tidak pernah diajarkan untuk menyerah pada pelayan.”

“Aku diajarkan bahwa semua bisa diselesaikan dengan uang.” Ah-ri menawarkan sejumlah uang pada pelayan itu sebagai ganti rasa sesalnya.

Permaisuri geleng kepala. Didikan itu yang dirasanya keliru. Ia sampai menghukum Ah-ri karena tidak mau minta maaf. Dan meminta pelayan itu memaafkan hanya jika permintaan maaf Ah-ri sudah tulus. Ah-ri pun belajar meminta maaf.

“Kalau kita berbuat salah, kita harus meminta maaf.”

Di kemudian hari, setelah melalui segala macam intrik, Ah-ri menjadi putri mahkota. Ia akan segera menjadi kaisar.

Tapi hebatnya Ah-ri, ia menolak. Alasannya, ia melihat Seo Kang-hee bertengkar dengan Ibu Suri. Ia bahkan mendengar tentang rencana pembunuhan yang mereka buat.

“Aku tidak mau orang-orang dewasa bertengkar hanya supaya aku menjadi Kaisar,” katanya.

Di akhir cerita, Ah-ri mengalami syok. Ini setelah seluruh skandal keluarga kekaisaran terkuak. Televisi menayangkan beritanya terus-menerus. Ah-ri mendengar dan melihatnya.

Ia pingsan berkali-kali. Ketika benar-benar sadar, dokter memeriksanya. Dokter menyatakan ia hilang ingatan. Hanya sebagian. Di bagian Seo Kang-hee.

Ia tak ingat siapa Seo Kang-hee. Ia bahkan lupa pada wajah ibu kandungnya itu. Seo Kang-hee turut menjadi otak di balik skandal keluarga kekaisaran. Berdua. Bersama Ibu Suri.


Pada akhirnya, sistem pemerintahan itu dihapus. Diganti dengan sistem demokrasi. Pemimpin pemerintahannya adalah presiden.

Permaisuri Oh Sunny kembali ke keluarganya. Dengan membawa serta Ah-ri. Ah-ri hidup sebagaimana anak-anak di usianya. Senang dan gembira. Tanpa beban besar di pundaknya. Betapa bersyukurnya bisa hidup seperti itu.

Ini pelajaran bagi saya. Semoga Buibu juga bisa mengambil hikmah yang sama. Bahwa ANAKMU BUKAN MILIKMU.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu, sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, atau tenggelam ke masa lampau.

Tabik.

About the author:

Ibu rumah tangga baru yang sedang belajar menjadi calon ibuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top