Ulang Tahun Pertama DI’sWay

101 BlogNo Comments

You Are Here:Ulang Tahun Pertama DI’sWay

Hari ini saya akan bercerita tentang ulang tahun pertama DI’sWay. Media barunya ‘Pak Boss‘ Dahlan Iskan. Simak yaa


Seminggu terakhir saya rutin menyambangi DI’sWay – disway.id . Blognya Dahlan Iskan. Yang pernah jadi Menteri BUMN itu. Yang pernah jadi Dirut PLN itu. Yang pernah jadi Founder dan Pemimpin Jawa Pos Group itu. Yang pernah jadi Pak Boss saya itu.

Awalnya, hanya karena saya butuh inspirasi. Di tahun 2019 ini, saya berniat untuk lebih tekun mengelola blog. Mengeposkan tulisan. Mengikuti lomba, Berkomentar di blog teman. Dan mempromosikannya di media sosial.

Namun, perkembangan dunia blog sekarang ini lebih membuat saya minder. Ketimbang merasa tertantang. Rasanya saya sudah ketinggalan jaman. Saya harus mengejar ketertinggalan dengan begini dan begitu.

Saya menerapkan standar saya sendiri. Tentunya setelah melihat blog para senior. Yang pembacanya banyak. Yang sering menang lomba. Yang menginspirasi.

Standar itu rupanya menjadi beban bagi saya. Menulis rasanya tak semenyenangkan dahulu. Tulisan belum jadi, saya sudah keburu mikir nanti harus begini begono. Hasilnya bisa ditebak. Tulisan tak menemui paragraf akhir.

“Standar Mba Wen ketinggian tuh,” kata Widi Utami. Pemilik blog widiutami.com .

Saya berkeluh kesah padanya. Baiknya ia. Di sela homesick-nya, ia masih mau menerima curhat. Ia beri saran. Turunkan standarnya.

Saya pikir-pikir. Mungkin benar juga. Asyik tidaknya kita menulis, kita sendiri yang putuskan.

Saya jadi ingat petuah bos saya yang lain. Dulu. Hasan Aspahani. Kami memanggilnya Bang Hasan. Orang-orang lama di kantor menyebutnya dengan BeHa. Saya tak berani memanggilnya demikian. Saru, kata orang Jawa.

Saya masih baru waktu itu. Bang Hasan pernah membaca tulisan saya di blog. Blog pertama saya. Di Blogspot. Dia berkomentar banyak. Tapi yang saya ingat sampai sekarang itu:

“Biar tulisan yang menemukan pembacanya sendiri.”

Bang Hasan

Ini bertentangan dengan teori menulis blog bukan? Yang katanya, tulisan harus menyesuaikan pembaca yang kita sasar. Tapi gimana kalau kita tak tahu siapa pembaca blog kita?

Jawabannya itu tadi. “Tulis saja. Biar tulisan yang menemukan pembacanya sendiri.”


foto diambil dari disway.id

Untuk membakar semangat, saya ingin membaca tulisan bang Hasan. Saya suka tulisan-tulisannya. Olala. Tapi tak ada postingan baru di blog-nya. Matapuisi.com

Tetiba di suatu pagi, Mas Suami bercerita tentang Eka Tjipta. Salah satu konglomerat Indonesia baru saja meninggal. Ia cerita tentang jalan kesuksesannya. Cerita itu rupanya ia dapatkan dari tulisan Dahlan Iskan.

Penasaran baca cerita utuhnya, saya mulai mencari tulisan itu. Dan bertemulah saya dengan disway.id .

Saya suka tampilan blognya. Minimalis. Rapi. Bersih. “Sudahlah. Saya mau blog yang begini saja,” kata saya. Pada diri sendiri.

Yang penting tulisan bisa terbaca. Dan pembaca mudah menemukan arsip tulisan lama. Saya mulai membenahi tampilan blog saya.

Saya baca artikel-artikel postingan Pak Boss. Unik sekali. Tiap tiga kata titik. Satu helaan nafas, titik. Bahkan belum habis menghela sudah titik.

Enak dibaca. Mudah dicerna. Topik-topik yang berat jadi ringan karena Pak Boss yang menulisnya. Saya jadi up to date dengan permasalahan dunia. Pak Boss sering menulis tentang kondisi negara-negara lain di situ.

Satu lagi kelebihan disway.id : setiap hari selalu ada tulisan baru. Pak Boss rajin menulis. Pak admin-nya pun rajin menagih. Sinergi yang baik.

Saya menulis cerita ini karena baru tahu disway.id akan berulang-tahun besok. Ulang tahun pertama.

9 Februari. Ini tanggal yang sama dengan Hari Pers Nasional (HPN). Tanggal yang sama juga dengan Hari Pernikahan Saya dan Suami (HPSS).

Selamat ulang tahun yang pertama, disway.id !
Selamat ulang tahun pernikahan yang kedua, mas suami!

About the author:

Ibu rumah tangga baru yang sedang belajar menjadi calon ibuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top