Haid Tak Lancar Karena IUD

Hari ini saya akan bercerita tentang haid tak lancar karena IUD. Simak yaa


Sekarang haid saya banyak. Setiap bulannya. Derasnya seperti air terjun di musim hujan. Sehari bisa ganti 6 sampai 7 kali.

Lelah. Bukan cuma karena stok darah yang menipis. Tapi juga karena harus lekas membilas.

Sering saya punya pikiran begini. ‘Bagaimana kalau tak berhenti?’. Seperti yang terjadi di empat bulan pertama setelah persalinan.

Ketika itu, hari ‘bersih‘ saya bisa dihitung dengan jari. Tak sampai lima hari. Tamu bulanan itu lalu datang lagi.

Saya lapor dokter kandungan langganan. Yang juga menangani persalinan saya. Saya bilang, nifas saya tak kunjung berhenti. Apakah ini karena IUD?

IUD – intrauterine device. Sejenis alat kontrasepsi. Biasa dikenal dengan istilah KB spiral. Dipasangnya di dalam rahim. Untuk mencegah kehamilan.

IUD . foto: the insider

Dokter memasangnya sesaat setelah ia mengeluarkan mas cilik. Dari rahim saya. Persalinan sesar. Senang saja baginya untuk memasang alat berbentuk ‘T’ kecil itu.

“Saya tak ingin KB, Dok,” kata saya waktu itu.

Dokter kaget. Katanya, tak boleh. Saya harus pakai metode KB. Keluarga Berencana. Merencanakan kehamilan, katanya, bukan soal menolak rejeki.

“Ibu melahirkannya sesar. Bahaya kalau tak KB,” ujarnya.

Rahim saya butuh waktu untuk rekat kembali. Dua tahun. Sebelum kemudian melar lagi. Supaya tak ada cerita rahim sobek karena tak kuat menampung bayi. Itu bahaya yang dikhawatirkan dokter tadi.

“Nanti kalau sudah dua tahun, ibu mau hamil lagi, (IUD) tinggal dibuka,” katanya.

Tapi dokter lupa menyampaikan efek sampingnya. Ternyata, ada kemungkinan terjadi perdarahan di awal-awal pemasangan. Kondisi saya saat itu mungkin perdarahan. Karena dokter memberi saya obat untuk menghentikan perdarahan.

Kemungkinan lain, karena perubahan hormon. Dokter juga memberi saya obat pengontrol hormon. Tanpa saya sadari ada hormon yang berubah seiring dengan persalinan saya. Apalagi kalau ibu menyusui, katanya.

“Jangan stress ya,” ujar dokter itu lagi.

Saya merasa tidak stress. Namun, setelah itu, saya harus kembali ke Selatpanjang. Berdua saja dengan mas cilik.

Setelah sampai di Selatpanjang dan berkumpul bersama suami, saya lama tak haid. Hingga kemudian tamu bulanan itu datang. Dan kembali pulang setelah lebih dari seminggu menetap.

Selang beberapa hari, ia datang lagi. Saya lalu datang ke bidan. Keputusan saya bulat. Saya mau lepas IUD.

Bidan tak menolak. Tapi juga tak mengiyakan. Ia memberikan obat. Obat hormon yang sama. Dan obat anemia.

“Nanti kalau obat hormon ini habis tapi haid masih tak berhenti, datang ke sini lagi saja. Saya buka KB-nya,” ujarnya.

Rupanya obatnya manjur. Obat habis, haid saya berhenti. Mungkin ini memang masalah hormon. Atau tingkat stress juga berpengaruh? Sebab di akhir konseling, dia juga minta saya tidak stress.

“Tak usah terlalu dipikirkan haid ini. Sedikit diterima, banyak diterima. Ini kan datangnya dari Allah juga,” katanya.

Sejuk betul kata-katanya. Saya kemudian mencoba menerima haid itu dengan lapang dada. Ternyata haid saya berhenti dan siklusnya kembali lancar. Satu bulan sekali. Tapi ya itu. ‘Curah hujan‘-nya lebih tinggi daripada ketika masih gadis.

Jadi kalau Buibu berniat pasang IUD, cerita saya ini mungkin bisa jadi bahan pertimbangan. Saya tidak melarang. Tapi juga tidak menganjurkan. Ini sangat tergantung pada kebutuhan dan konsistensi Buibu.

Tabik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *