Jasmine Elektrik & Pesan Mama Di Balik Nama Prihandina

Lomba Blog7 Comments

You Are Here:Jasmine Elektrik & Pesan Mama Di Balik Nama Prihandina

Hari ini saya akan bercerita tentang Jasmine Elektrik dan pesan mama di balik nama Prihandina. Simak ya…


Tak seperti biasanya. Tante saya berangkat pagi-pagi sekali. Tanpa tas berisikan pakaian. Pun segepok peralatan super canggih untuk menulis laporan penelitian. Bahkan tanpa sempat berpamitan.

Padahal, mama sedang dalam perjalanan untuk menemuinya. Sengaja berangkat dengan kereta malam supaya bisa tiba keesokan harinya dan memenuhi jadwal bezuk rumah sakit. Tapi rupanya tetap tak sempat berjumpa.

“Bude, innalillahi wa innaillaihi rojiun. Ibu udah ga ada,” bunyi pesan saudara sepupu saya. Putra sulung tante.

Hari itu juga, pemakaman digelar. Mama mengirimkan beberapa foto untuk saya dan kakak. Di salah satunya, saya melihat Mba Er, anak bungsu tante. Mba Er duduk di samping ayahnya. Wajahnya menatap sesuatu jauh di depannya. Tatapannya nanar.

Saya pernah memiliki tatapan itu. Tahun lalu. Saat mengantar papa berangkat. Sebenarnya saya tak ingin menatap seperti itu. Namun, yang kelihatan seperti itu. Nanar. Kosong.

Ketika itu, pikiran saya penuh dengan banyak hal. Mungkin Mba Er juga mengalami hal yang sama. Bahkan mungkin lebih banyak dari yang saya pikirkan.

Mba Er sangat dekat dengan ibunya. Apalagi ia anak perempuan satu-satunya di keluarga itu. Ia juga baru saja berkuliah. Pasti banyak hal yang perlu dan akan ia diskusikan dengan ibunya. Ditinggal ibu itu lebih berat daripada ditinggal bapak. Kemana pun tujuannya.


Saya jadi ingat waktu kuliah dulu. Di Bandung. Sementara mama dan papa di Semarang. Itulah kali pertama saya merantau.

Papa sebenarnya tak mengizinkan. Tapi mama yang membujuk supaya membolehkan saya belajar dan menetap di sana. Walaupun, saya tahu, pasti berat juga bagi mama untuk melepas saya merantau.

Apa rasanya merantau bagi anak lulusan SMA?

SENANG dan BAHAGIA.

Apa pasal?

Bisa lepas dari penjagaan orang tua.

Mungkin mama tahu, anak bungsunya ini tak bisa dikekang. Maka ia membolehkan saya untuk menimba ilmu di tempat yang jauh dari rumah. Ia mengontrol melalui sambungan telepon dan saldo tabungan.

Yang mama tanyakan di awal telepon selalu sama: ‘Sudah makan belum?’ Kalau saya jawab sudah, pertanyaan dilanjutkan dengan ‘apa menunya’. Yang kemudian akan disambung dengan protes, “Menunya kok kayak gitu? Yang sehat dong.”

Kalau percakapan tentang isi perut sudah selesai, mama biasa bertanya soal isi dompet. Kalau melihat saldo tabungan yang mulai menipis padahal masih di awal bulan, komentar mama selalu sama: “Yang prihatin dong, Dek!”

Kalimat selanjutnya sudah bisa ditebak, “Mama itu dulu, waktu hamil adek, selalu prihatin. Kok sekarang anaknya nggak bisa prihatin.”

pri.ha.tin

v menahan diri; bertarak

sumber: KBBI V

Mama memang menahan diri ketika mengandung saya. Dokter yang memintanya. Sebab, anak sulungnya – kakak saya, lahir dengan bobot yang besar. Kalau mama tak menahan diri di kehamilan keduanya itu, saya juga akan memiliki bobot yang besar. Ini berbahaya bagi mama saat proses melahirkan kelak. Maka, jadilah mama menahan diri.

Ia berdiet. Mengurangi nasi. Memperbanyak asupan buah. Hingga kemudian lahirlah saya dengan bobot lahir yang lebih kecil dari kakak saya.

Kerja kerasnya menahan diri itu kemudian ia abadikan menjadi nama belakang saya: Prihandina. Nama itu akronim dari ‘prihatin saban dina‘ – ‘prihatin setiap hari’.

Dengan nama itu, mama berharap saya menjadi sepertinya. Yang mampu menahan diri itu. Setiap kali ia tahu saya menghabiskan uang untuk hal-hal yang menurutnya tak penting, ia mengingatkan saya pada nama saya: Prihandina. Namun karena kebanyakan yang saya belanjakan menurutnya itu tak penting, ia pun sering mengingatkan saya pada nama saya: Prihandina.

Ketika kemudian saya bekerja dan menghasilkan uang, mama tak berhenti mengingatkan saya pada nama saya. Dalam sambungan telepon atau bahkan pesan singkat, ia selalu mengingatkan saya pada nama saya: Prihandina. Ia memang ingin saya tidak hidup boros. Ia ingin saya bisa menahan nafsu pada hal-hal yang tak perlu.

Hingga kemudian saya jatuh sakit. Sakit yang terbilang serius. Meskipun, alhamdulillah, saya tak harus menginap di rumah sakit. Tapi karena sakit itu, saya jadi menahan diri untuk tak begitu begini.

Mama, dengan sangat tak disangka-sangka, meminta maaf karena menamai saya Prihandina. Mama meminta maaf karena selalu menyuruh saya untuk prihatin. Mama merasa bersalah, mungkin karena nama itu, hidup saya jadi prihatin. Mama kemudian bilang ingin mengubah nama saya.

Olala.

Pikiran saya bahkan tak sampai ke situ. Saya menolaknya. Alasannya, repot. Berapa banyak dokumen yang harus saya urus kalau saya berganti nama. Saya tidak mau.

Sejak saat itu mama tak lagi mengingatkan saya dengan nama saya: Prihandina. Mama tak lagi menyuruh saya untuk prihatin.

Namun, setelah menikah dan (tetap) hidup terpisah dari mama, saya malah jadi mengingat-ingat pesan mama di balik nama saya: Prihandina. Pesan mama itu saya ulang-ulang sendiri. Apalagi ketika emosi memuncak dan nafsu berbelanja sedang tinggi.

“Prihatin, Dek. Mama kasih nama Prihandina itu biar adek ingat, dulu mama prihatin saban dina.”

Mama

Setelah saya menjadi ibu, saya baru sadar bahwa tidak mudah menjadi ibu. Dari segi fisik maupun mental. Dan saya juga sadar, bahwa ibu selalu ada dalam setiap fase hidup saya.

Benar juga yang dikatakan Jasmine Elektrik dalam lagunya yang berjudul Ibu. Lirik lagu yang dirilis saat Hari Ibu di bulan Desember lalu itu begitu menyentuh.

/
kuarungi hidup berbekal ilmu darimu
kasih sayangmu ibu, tak terbantahkan waktu
/

Seorang ibu akan terus memberikan ilmu pada anak-anaknya. Apakah itu secara lisan ia katakan, ataupun secara tersurat ia berikan melalui perbuatan. Ilmu itu berguna sebagai bekal untuk mengarungi hidup.

Ibu tahu bahwa tak selamanya ia akan tinggal bersama anak-anaknya. Cepat atau lambat, ia pasti akan berpisah dengan anaknya. Entah anak itu merantau karena menuntut ilmu, mencari pekerjaan, atau bahkan mengikuti jodohnya.

Sebagai anak, saya bersyukur bisa sadar sekarang – meskipun lambat. Bahwa kasih sayang ibu memang tak terbantahkan waktu. Meskipun saya berada jauh dari beliau, saya tahu, mama sayang saya. Dan semoga juga mama tahu, saya sayang beliau.

Sama juga dengan Mba Er. Meskipun tante saya sudah berada sangat jauh darinya, saya harap Mba Er tahu bahwa tante menyayanginya. Saya juga yakin, Mba Er sangat menyayangi ibunya.

Terimakasih Jasmine Elektrik, telah menciptakan lagu Ibu. Denting piano di awal lagu seakan mengiringi langkah kaki saya menuju sebuah pintu. Pintu memori bersama mama. Selangkah demi selangkah.

/
Kau ajariku berjalan.
Membimbingku perlahan.
Hingga tercapai segala yang kucita-citakan.

/

Memori saat mama mengepang rambut saya sebelum berangkat sekolah. Rambut saya panjang sekali. Mama memang jarang memotong rambut saya. Sebab, sejak bayi, rambut saya tipis.

/
Selama ku dibesarkan,
Selama ku di pelukan,
Begitu banyak dosa yang aku lakukan
Mohon ku diingatkan, mohon ku dimaafkan

/

Memori itu berganti ketika mama menyuruh saya mengundang teman-teman datang ke rumah. Rasanya bukan karena ulang tahun. Sebab tak ada adegan potong kue. Apapun itu, mama sering meminta saya mengundang teman-teman datang ke rumah.

Teman SD, SMP, sampai SMA. Apakah itu pagi, siang, ataupun sore. Kami akan berbincang dan bermain. Lalu mama datang membawakan cemilan atau makanan besar.

“Mama lebih senang kamu main di rumah daripada main di luar,” kata mama.

Mungkin mama ingin mengenal teman-teman saya. Bahkan ketika seorang teman menghabiskan bekal makan siang saya, keesokan harinya mama sengaja membuatkannya bekal. Jadi saya membawa dua bekal makan siang. Satu untuk teman saya. Satu untuk saya. Biar jatah makan saya tak berkurang. Hahaha.

/
kukayuh perahu menuju pulau citaku
/

Ketika saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke luar kota, mama sempat ragu. Ia memberikan banyak kata supaya aku urung melakukannya. Namun, ketika papa menentang, mamalah yang memintaku tenang. Mama membujuk papa. Lampu hijau pun menyala terang.

/
diiringi doa, nasehat bijakmu ibu
/

Tamat kuliah, mama meminta saya pulang. Setahun berlalu, saya kembali minta pindah ke luar kota. Mama menolak menyetujui. Meski akhirnya jadi juga.

/
kuarungi hidup berbekal ilmu darimu
/

Ketika kemudian, saya memutuskan untuk menikah. Saya bertanya pada mama tentang pria yang saya pilih. Apa mama suka dengan pilihan saya.

“Ganteng kok,” jawab mama.

Bukan itu maksudnya. Meski saya juga tersipu malu karenanya. Saya bertanya lagi. Saya takut saya salah pilih. Apakah pilihan saya ini sudah tepat.

“Cuma adek yang tahu. Adek sudah mantep belum?” mama hanya bertanya balik.

Saya diam. Berpikir.

“Tapi mama yakin, pilihan adek ini pasti sudah adek pikirkan. Selera adek dari dulu kan selalu tinggi,” jawab mama.

/
kasih sayangmu ibu, tak terbantahkan waktu
/

Terimakasih mama. Terimakasih Jasmine Elektrik.

Teruntuk Mba Er, lagu ini kupersembahkan untukmu. Dengarkanlah. Dan yakinlah, kasih sayang Ibu tak terbantahkan waktu. [w]

About the author:

Ibu rumah tangga baru yang sedang belajar menjadi calon ibuk.

7 thoughts to “Jasmine Elektrik & Pesan Mama Di Balik Nama Prihandina”

  1. Saya terfokus pada kisah mama,
    weleh, menetes juga air mata ingat mama di sana.
    Resiko jadi perantau yg dipisah jarak dan waktu (WIB – WITA). hhe
    Semoga Allah selalu menjaga mama2…

  2. Suka ma kata2 ini kak “Selama ku dibesarkan,
    Selama ku di pelukan,
    Begitu banyak dosa yang aku lakukan
    Mohon ku diingatkan, mohon ku dimaafkan”

    Terkadang kita lupa berdoa banyak dosa yang kita perbuat

  3. Kok aku jadi terharu bacanya ya kak..huuuuu..aku jadi teringat mamaku yang almarhum. Mama emang segalanya. Aku juga ngerasain kak, lebih berat kehilangan mama daripada kehilangan bapak. #nangissesunggukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top