Kompetisi Blog

Melatih Anak Jadi #GenerasiMakanSayurDanBuah

Kakak saya punya dua orang anak- perempuan dan laki-laki. Rayya, si sulung, yang perempuan, tidak suka makansayur dan buah. Sayur yang biasa menjadi menunya adalah sayur bayam dan sayur sop. Itu juga kuahnya saja yang dimakan. Buah-buahan juga ia tak mau makan sama sekali.

Sementara yang bungsu, Rafif namanya, kebalikannya: suka sekali makan sayur dan buah. Wortel, brokoli, atau bayam yang ada di mangkuknya selalu habis ia santap.

Kalau di rumah ada pisang, bangun tidur sekalipun, ia akan mengambil satu dan menyerahkannya pada bundanya. Minta dikupaskan. Ia paling suka buah mangga, pisang, dan buah naga. Pepaya dan manggis, kalau sedang ada, juga ia makan. 

Apa pasal Rayya tak suka makan sayur sementara Rafif suka?

“Sayur tak enak,” jawab Rayya di suatu hari ketika ditanyai tentang keengganannya makan sayur.

Tapi kalau soal akting, nomor satu. Pernah, suatu ketika nenek dan kakek (rahimahullah) hendak ke pasar lalu menanyai Rayya, “Mau ikut atau tidak?”

Bocah tiga tahun itu menggeleng tanda tidak mau ikut. Namun, kemudian, ia berpesan, “Jangan lupa beli durian yaa, Nek?”

Kami, yang mendengar, melongo semua. Durian? Sejak kapan ia suka makan durian?

“Gaya aja itu kakak Rayya,” kata kakak saya.

HmmmmCkckckck

Pernah juga saat ia main masak-masakan, ia bilang sedang masak sayur bayam. Lalu setelah matang, ia memakannya sambil berkata, “Mmmmm…enak sekali sayurnya.”

Neneknya cuma berkomentar, “Mbok gitu kalau makan beneran (Coba kalau makan beneran seperti itu).”

Yang dikomentari cuma mesam-mesem sambil terus melanjutkan aktingnya. Duh!


Memang ada benarnya alasan Rayya tak mau makan sayur: ‘karena tak enak’. Sebab ia sudah mengenal pempek, bakso,nugget, sosis, dan mi goreng. Khazanah rasanya sudah beragam untuk ukuran anak balita. Inilah yang membuatnya menjadi sangat pemilih atau, istilahnya, picky eater.

Pickyeatingatau memilih makanan menjadi satu faktor anak atau orang dewasa tidak suka makan sayur menurut riset yang dilakukan Terence M Dovey dan kawan-kawan. Riset yang diunggah dalam Jurnal Appetitedi tahun 2008 itu juga menyebutkan faktor lain yang membuat seseorang tak suka makan sayur. Yakni, food-neophobia atau keengganan makan atau menghindari makanan baru. 

Menurut Dovey dkk, ketidaksukaan anak pada sayuran dan buah-buahan itu karena ia tak dibiasakan makan sayur dan buah. Ini sesuai dengan riset Pusat Penelitian Pengembangan Upaya Kesehatan Masyarakat pada tahun 2014. Pusat penelitian itu mencatat, ada sebanyak 97,7 persen anak Indonesia dalam usia balita yang kurang makan sayur dan buah.

Kebiasaan itu kemudian berlanjut hingga remaja dan dewasa. Total, ada 97,1 persen penduduk Indonesia yang tidak suka makan sayur dan buah. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menyebut presentasenya sebanyak 93,5 persen di tahun 2013. Malah meningkat bukan?

sumber: tirto.id

Kalau kita ingin membuat anak kita menyukai sayuran dan buah-buahan atau sebutannya #GenerasiMakanSayurDanBuah, kita harus mulai membiasakan mereka makan sayur dan buah sejak kecil. Sayurdan buah harus masuk dalam menu seimbang keluarga setiap hari.

Saya jadi ingat, dulu mama selalu menyempatkan diri untuk masak sayur setiap hari meskipun ia harus berangkat kerja pagi-pagi sekali. Kalau pagi tidak sempat masak, beliau pasti membawa sayuran masak saat pulang ke rumah. Dan membawa buah-buahan juga. Makanya, saya dan kakak saya tidak ada masalah dengan sayur dan buah sejak kecil. 

Masalahnya muncul ketika remaja- ketika merantau. Hidup di rantau membuat saya memilih hal-hal yang praktis. Tak terkecuali dalam hal makanan. Saya sering membeli makanan sekali jadi, misalnya nasi goreng, ketoprak, ayam penyet, atau sate ayam.

Mama sudah tahu kebiasaan makan anak bungsunya ini. Makanya, setiap kali telepon, beliau pasti pesan,”Makan sayur, Dek. Buah-buahan juga.”

Tidak sulit sih, mencari sayuran yang sudah dimasak  dan buah-buahan. Saya cukup ke warteg saja. Di  sana pasti ada sayur bayam atau sayur sop setiap harinya. Buahnya pisang ambon. 

Kalau mau cari semangka, pepaya, atau melon, cukup ke gerbang kampus. Di sana ada penjaja buah potong dan rujak. 

Tetapi, karena dasarnya malas, saya tetap jarang makan sayur dan buah. Hasilnya apa? Saya sering sembelit dan mudah terserang flu dan batuk. Kalau sudah sembelit apalagi ditambah flu dan batuk, saya baru sadar untuk makan sayur dan buah. Baru deh, saya ke warteg dan makan sayur.

“Malah lebih murah kan, Dek, makan di warteg? Bisa  makan sayur sama buah juga lagi,” kata mama.

Sampai ketika hamil, saya masih kurang suka makan sayur. (Kalau buah, saya tidak ada masalah.) Beruntung saya sedang tinggal bersama mama, jadi saya ‘mau tidak mau’ jadi makan sayur.

Setiap hari, mulai sarapan, pasti sudah ada sayur di meja makan. Kalau saat makan siang sayur itu masih juga tak berkurang, mama pasti akan komentar, “Sudah dimasakkan, masih juga tak dimakan.”

Ye kan, segan awak. Jadilah dimakan juga meskipun sikit. 

Nah, kesadaran untuk benar-benar makan sayur itu baru muncul saat saya memiliki Abdillah. Saya ingin buah hati saya ini tumbuh dengan sehat. Salah satu caranya itu dengan mencukupi nutrisinya. Inilah dia, pentingnya makan sayur dan buah.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan porsi ideal sayur dan buah untuk hidup sehat itu sejumlah 400 gramper orang per hari. Jumlah itu terdiri dari 250 gram sayur dan 150 grambuah-buahan. 

Ribet amat mau makan sayur dan buah harus ditimbang dulu seperti itu. -____-“

Geez, 250 gram sayur itu setara dengan 2 porsi sayur atau 2 gelas sayur yang sudah dimasak. Kalau kamu makan siang dan malam masing-masing seporsi sayur, sudah cukuplah itu. Sementara 150 gram buah itu setara dengan 3 buah pisang ambon ukuran sedang atau sepotong pepaya ukuran sedang atau 3 buah jeruk ukuran sedang. 

Untuk lebih gampangnya, Bu Menteri Kesehatan menyarankan mengisi setengah porsi piring dengan sayuran dan buah-buahan dalam sekali makan. Setengah porsinya lagi itu karbohidrat dan protein. Gampang kan menghitungnya?


Nah, kembali lagi ke soal pembiasaan makan, Terence M Dovey dan kawan-kawan memberikan contoh strategi buat kita, para orang tua, untuk menjadikan buah hati kita #GenerasiMakanSayurDanBuah . Strateginya seperti ini:

1. Perkenalkan sayur dan buah lewat satu atau dua gigitan saja.

Kalau langsung disuguhi satu mangkok sayur bayam atau sop brokoli, anak-anak pasti langsung eneg. Kalaumereka sudah mau mencicip sayur, porsinya bisa kita tambah secara bertahap.

2. Sajikan saat anak sedang dalam kondisi lapar-laparnya. 

Sebab, saat lapar, apapun makanannya rasanya tetaplah enak.

3. Masak sayuran menyerupai masakan non-sayuran favorit anak-anak. 

Di sini dituntut kreativitaskita nih, Buibu Pakbapak. Di beberapa kesempatan, ajak anak untuk ikut memasak. Biasanya, ia akan penasaran untuk ikut menikmati hasil masakannya. 

4. Ajak anak berbelanja sayur dan buah. 

Anak akan terbiasa melihat sayur-sayuran  dan buah-buahan. Ia juga akan merasa sayuran dan buah-buahan itu banyak tersedia.

Beruntung kita tinggal di Indonesia. Indonesia memiliki tanah yang subur. Petani sayuran dan buah banyak tersebar di seluruh penjuru negeri. Tidak perlu menyusahkan diri mencari sayuran dan buah-buahan impor. Sayur dan buah-buahan lokal pun tidak kalah ragam gizinya. Dengan menjadi #GenerasiMakanSayurDanBuah kita juga bisa membuat petani lokal makmur lho!

5. Sajikan buah-buahan sebagai cemilan atau suguhan bagi tamu yang berkunjung.

Anak  akan melihat anggota keluarga lain makan buah dengan senang. Menyuguhkan buah-buahan pada tamu juga akan membuat anak melihat bahwa semakin banyak orang yang juga menyukai buah-buahan. Hingga ia pun bangkit kesadaran untuk juga menyukai buah-buahan. 

Di sela menyajikan sayur dan buah-buahan secara  real pada anak, kita juga bisa memperkenalkannya  melalui permainan teka-teki atau tebak gambar. Saat bermain, kita juga bisa menyematkan manfaat dari makan sayur atau buah tersebut.

Asik yaa… tapi mungkin ini baru bisa dilakukan pada anak usia 2 tahun ke atas yaa. Kalau saya yang baru punya anak usia 8 bulan ini, harus bersabar dulu untuk bisa main teka-teki seperti itu. 

Sekarang, saya fokus mengenalkan Abdillah dengan ragam sayuran dan buah. Setiap hari, setidaknya ada satu jenis sayuran dan satu jenis buah-buahan yang ia makan. Mumpung anaknya belum bisa protes, kita kenalkan dulu saja dengan rasa asli sayur dan buah-buahan. 


Sebelum kita memperkenalkananak-anak  dengan sayuran dan buah-buahan, kita – para orang tua harus mengenalnya lebih dahulu. Ini supaya kita jadi lebih bervariasi membuat menu.

Nah, untuk lebih gampang mengenalnya, kita bagi saja sayuran  dan buah-buahan itu menurut warnanya.Karena ternyata, berbeda warna sayuran dan buah-buahan, berbeda pulamanfaatnya.

MERAH : dapat mengurangi resiko kanker  dan menjaga hati tetap sehat.

Tomat, lobak.

Strawberry, ceri, anggur merah, raspberry, semangka, apel merah, buah naga

UNGU/BIRU : mengandung antioksidan yang dapat melindungi sel-sel dari kerusakan  dan dapat mengurangi resiko kanker, stroke, dan penyakit hati.

Kol merah, terung.

Blackberry, blueberry, anggur ungu, buah bit, dan plum.

JINGGA/KUNING : kandungan karotenoid-nya mampu menjaga kesehatan mata.

Wortel, kentang, labu, jagung

Lemon, nanas, mangga, jeruk, jeruk squash, peach, aprikot

HIJAU : mengandung sejumlah fitokimia yang menjadi sumber senyawa anti-kanker. Sayuran berdaun hijau seperti bayam dan brokoli merupakan sumber folat.

Bayam, brokoli, asparagus, buncis, kacang panjang, kol, timun, selada, kacang polong, dan kacang hijau.

Alpukat, apel hijau, anggur hijau, jeruk nipis, buah kiwi.

COKELAT/PUTIH : mengandung sejumlah fitokimia yang mampu menjaga kebugaran tubuh  yangbiasa disebut dengan senyawa antiviral dan antibakterial-nya. Beberapa  sayuran berwarna cokelat atau putih diketahui menjadi sumber potasium.

Kembang kol, jamur, bawang putih, kentang, bawang bombay, jahe.

Buah pir, pisang, kurma.

Banyak bukan sayuran  dan buah-buahan yang bisa kita konsumsi? Nah, faktanya, sayuran dan buah-buahan juga tidak hanya mampu menghindarkan kita dari sembelit atau susah buang air besar. Tetapi juga menghindarkan kita dari penyakit jantung dan kanker. Serta mengurangi resiko menderita obesitas dan diabetes.

Meskipun kematian itu pasti, dengan mengonsumsi buah dan sayuran jumlah yang cukup, sebanyak 2,7 juta kematian dapat terselamatkan. Rendahnya konsumsi sayur dan buah itu termasuk dalam 10 besar faktor pemicu kematian.

Ngeri-ngeri sedap ya?Makanya, kuy, sama-sama kita memaksimalkan diri untuk melatih buah hati kita menjadi #GenerasiMakanSayurDanBuah! Buibu dan Pabapa ada cara lain untuk melatih  anak menjadi #GenerasiMakanSayurDanBuah? Mari, share di kolom komentar.

19 thoughts on “Melatih Anak Jadi #GenerasiMakanSayurDanBuah

  1. nah ini PR banget karena kk ku susah banget makan sayur dan menurun dengan anaknya yang nomor satu sepertinya memang perlu trik khusus untuk memperkenalkan sayur dan buah bagi anak2

  2. Point nokor tiga, mungkin bisa diikuti cara Vegetarian yang membuat makanan seperti bakso tapi berasal dari sayur. Gitubkan kak maksudnya?

    Alfie sih dari dulu suka banget dengan sayur. Dan Alhamdulillahnya keponakan juga suka makan sayur. Kalau pun diwaktu mendatang ada yang tidak suka, mungkin bisa diikuto cara seperti tulisan ini.

  3. Paling ribet urusan makan anak itu memang di sayur, bujuknya lama.
    Kayaknya nanti saya mau ajak anak saya baca ini, utamanya pengetahuan tentang warna buah dan kandungan gizinya, biar Aal nanti tahu manfaat dari tiap buah dan sayuran..

  4. aku penyuka sayur dan buah. Kalau udah ada syur klo makan pasti lahap makannya. Buah juga gitu gak bosen meskipun makannya banyak haha..bener tu mgkn ponakan wen lidahnya lebih dulu menyukai rasa lain spt makanan orang dewasa:D

  5. Ya, pengenalan buah dan sayur sejak dini itu penting ya kak. Anak2 ku sejak awal MPASI udh buah dan sayur, Alhamdulillah smpe skrg pd doyan sayur dan buaahh…

  6. Iya ini perlu bangets ngajari anak-anak makan sayur sejak bayi…. Gak susah kok kalau kita (para emaks) telaten menyajikannya dengan kreatif. Duo crucils hobi bangets dengan bayam dan kanggung plus wartel dan jagung. Masaknya kudu bervariasi. Bahkan sekarang ada tagline “Gak ada sayur, gak makan”.

  7. anak saya susah makan sayur
    klu buah masihlah
    beda banget dengan emaknya yang pemakan segala buah dan sayur
    saya klu liat sayur dan buah macam sorga
    pengin makan semua hahaha

  8. Ini sama kasusnya sama anak adekku. Kakaknya ga suka makan sayur tapi sukanya sama makanan laut. Dikasih sayur, ogah-ogahan makannya. Kayaknya harus main tebak-tebakan dulu biar dia semangat makan sayur, beda sama adeknya yg semangat makan buah dan sayur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *