Jurnal Kegiatan Anak

‘Kempang’ Pertama Abdillah

Di Selatpanjang, kempang menjadi satu moda transportasi antar-pulau yang krusial. Fungsinya seperti kapal roll-on roll-off (roro), mengantarkan orang sekaligus kendaraannya ke daratan seberang. Hanya saja, kempang ini berukuran lebih kecil dan terbuat dari kayu papan, bukan bahan fiber yang halus.


Tok..tototototokkk..tototototokk.. 

Deru mesin kapal kempang kencang terdengar. Abdillah menengokkan kepalanya ke kanan-kiri saat kami memasuki kapal. Sudah banyak orang di tempat duduk yang disediakan: sebuah papan kayu yang dipasang di  tepi bagian dalam kapal.

Saya duduk di samping kanan. Abah Abdillah di bagian pangkal. Sepanjang perjalanan, Abdillah lebih banyak memandang orang, ketimbang menikmati lautan. 

Ini pertama kalinya Abdillah naik kempang. Kempang, kapal roro versi mini. Terbuat dari papan kayu. Gunanya untuk mengangkut orang, motor, dan bahan material ke daratan seberang.

Kota Selatpanjang berada di Pulau Tebingtinggi. Hari itu, kami hendak ke Pulau Rengas yang ada di seberang. Ada pesta nikah kerabat di Desa Jepun di pulau tersebut.

Ada beberapa pelabuhan rakyat yang melayani penyeberangan dengan kempang. Kalau hendak ke Jepun, pilihannya ada dua: Pelabuhan Lemang atau Pelabuhan Peranggas.

Pelabuhan Lemang lebih dekat dengan Desa Jepun tujuan kami. Maka Abah Abdillah memilih kempang ke arah pelabuhan Lemang. Ketika kami sampai di pelabuhan rakyat, kempang masih berada jauh di ujung laut. Kami harus menunggu.

Mungkin ada sekitar 10 menit kami menunggu kempang itu hingga merapat. Aktivitas bongkar muat barang dan kendaraan terjadi. Sekitar 10 menit juga. Perjalanan Selatpanjang-Lemang tak lama. Mungkin sekitar 20 menit-an.

Kempang yang kami naiki ini masih menggunakan kemudi tradisional. Juru mudinya seorang kakek tua. Ia mengenakan kaos polo dan celana panjang. Sebuah topi pet hinggap di kepalanya yang beruban.

Singgasananya ada di bagian tengah, sejengkal lebih dekat ke pangkal kapal. Kedua tangannya masing-masing memegang sebilah kayu. Ia memutar-mutar kayu itu untuk menjalankan kapal.

Pandangannya tertuju ke depan, ke samping, dan ke belakang. Ke semua arah ya berarti? Ia memastikan kempang ini berjalan ‘biar lambat asal selamat‘.


sumringah turun dari kempang

Matahari tepat berada di kepala ketika kami sampai di Pelabuhan Lemang.

Pelabuhan ini sepi. Tak banyak kempang yang bersandar.

“Salah perhitungan, Abah,” kata Abah Abdillah.

“Kenapa?” ujar saya.

“Abah pikir bakal lebih cepat kalau lewat Lemang. Rupanya, sampai di sini jam 12 juga,” jawabnya.

Banyak waktu yang kami habiskan untuk menunggu, tadi. Namun, perjalanan ke depannya kan lebih dekat, lebih cepat sampai pastinya.

Dan…rupanya, banjir! Jalan menuju dermaga Pelabuhan Lemang tergenang air. Padahal jalan itu hanya tersusun dari tiga papan kayu. Sementara motor abah itu tipe kendaraan laki-laki dengan tangki  bahan bakar yang besar. Abah nampak kesulitan.

Alhasil, saya lebih memilih turun dan berjalan kaki dengan Abdillah daripada tergelincir dan basah semua. Lagipula jaraknya tak sampai sepuluh langkah.

Perjalanan darat dari Desa Lemang ke Desa Jepun cukup melelahkan. Sebab, hanya sebagian kecil saja yang sudah beraspal. Sisanya, dipenuhi dengan campuran kerikil dan pasir putih. Was-was saya.

Abah membawa motor begitu laju. Mungkin ia tak ingin si anak bujang kepanasan. Padahal, perpaduan angin dan goyangan motor berhasil meninabobokkan Abdillah. Sampai di tempat pesta, Abdillah masih juga tidur.



Kami berada di lokasi pesta mungkin sekitar 2 jam-an. Sebab ini pesta kerabat dan perjalanan yang kami tempuh tadi cukup lama. Bolehlah sejenak beristirahat.

Kami pulang dengan rute yang lain. Kali ini, kami memilih melalui Pelabuhan Peranggas. Agak jauh memang jarak antara Desa Jepun dan Peranggas. Jadi, kami pun lama berada di atas motor. Giliran lama begini, anak bujang malah tak tidur. Geez.

Begitu sampai pelabuhan, kami mendengar teriakan-teriakan. “Sini, Bang! Berangkat-berangkat!”

Ada dua kempang yang sedang tertambat: di kanan  dan kiri. Abah memilih yang kanan. Ketika kami datang, lidah kempang yang sudah ditutup itu dibuka kembali. Kami bergegas masuk.

Kempang yang satu ini berbeda dari kempang sebelumnya. Kempang ini lebih modern sepertinya. Kemudinya berada di tengah. Juru mudi duduk pada sebuah kursi menghadap ke dua tuas. Sesekali, tangannya memutar roda kemudi di bagian tengah kapal.

Juru mudinya seorang yang muda. Ia mengenakan kaos t-shirt dan celana pendek putih bermotif kotak-kotak. Tas kecil terselempang di pundak kanan. Topinya dikenakan terbalik. 

Ia menjalankan kempang dengan wajah cerah ceria. Sesekali ia berteriak pada tim di ujung depan kempang. Lalu ia tertawa-tawa. Bahagia sekali ya mereka.

Kalau ketika berangkat, Abdillah tenang di gendongan, kali ini tidak. Ia sudah memberontak ingin keluar dari gendongan. Mau tak mau, saya berdiri.

Alhamdulillah tak banyak orang. Kapal yang ini memiliki atap yang tinggi jadi kesannya lebih lapang.

Tak berapa lama, kami sudah sampai lagi di Selatpanjang. Abah segera melajukan kendaraannya dengan cepat. Ia belum salat zuhur. [w]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *