Menjadi Ibu Profesional di Era Ekonomi Digital

“Ibu profesional itu bukan ibu yang bisa melakukan semua urusan rumah tangga sendiri. Ibu profesional adalah ibu yang pandai mengatur semuanya sendiri.”

Marita Ningtyas

Terngiang petuah fasilitator kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional yang saya ikuti beberapa bulan yang lalu tentang menjadi seorang ibu profesional.  Kita tak perlu ngoyo saat menjadi seorang ibu. Kalau tidak bisa melakukannya sendiri, kita bisa men-delegasi-kannya – meminta bantuan pihak ketiga. Dan era ekonomi digital, saat ini, memudahkan para perempuan Indonesia untuk menjadi profesional dalam menjalankan perannya sebagai seorang ibu. #ecodigi juga memberi peluang para ibu professional untuk bermanfaat bagi masyarakat sekitar.


Di Komunitas (Institut) Ibu Profesional (IIP), seorang ibu diposisikan sebagai seorang manajer – manajer rumah tangga. Kliennya adalah anak-anak dan suami. Membersamai anak-anak dan suami, itu yang utama.

Namun seringkali, para ibu disibukkan dengan urusan pekerjaan rumah tangga yang seakan tiada habisnya. Menyapu, mengepel, mengemas rumah, memasak, ataupun mencuci. Rutinitas yang sama selalu berulang setiap harinya. Sementara para ibu juga memerlukan waktu untuk meng-upgrade kemampuan dirinya.

Founder IIP, Septi Peni Wulandani membagikan tips mengatur waktu untuk para ibu – baik yang bekerja sebagai ibu rumah tangga ataupun yang berprofesi sebagai wanita karir. Pembagian waktu itu disebut juga dengan kandang waktu.

Para ibu diminta membagi 24 jam waktunya dalam melakukan dua kelompok kegiatan: aktivitas untuk meng-upgrade kemampuan diri dan aktivitas rutin. Aktivitas rutin ini biasanya merupakan aktivitas rumah tangga. Batasan waktu antara kedua aktivitas tersebut harus jelas dan dipatuhi.

Kandang waktu ini metode yang adil, menurut saya. Di satu sisi, para ibu dapat melakukan tugas rutinnya dan di sisi yang lain tetap dapat menambah jam terbangnya sebagai seorang individu.

Kandang waktu yang saya buat untuk aktivitas rutin saya adalah pukul 05.00 – 09.00 pagi untuk aktivitas rutin. Lalu pukul 09.00 – 21.00 untuk meng-upgrade diri. Lalu pukul 21.00 – 24.00 kembali pada aktivitas rutin yang tak selesai dikerjakan di pukul 05.00 – 09.00.

Sayangnya, banyak hal yang terjadi di kandang waktu aktivitas rutin hingga pekerjaan tak terselesaikan. Sementara agenda untuk aktivitas yang meng-upgrade diri akan segera dimulai. Kalau kata Mba Marita Ningtyas Fasilitator saya, “Nggak usah ngoyo. Delegasikan saja.”

Ini seperti yang ia lakukan juga. “Kalau tidak sempat masak, hari itu, ya catering. Kalau tidak sempat nyuci, ya laundry,” ujarnya.

Nah, di zaman now ini, urusan pendelegasian ini sangat mudah dilakukan. Hanya berbekal ponsel, semua urusan aktivitas rutin rasanya bisa dengan mudah terselesaikan. Inilah kemudahan yang ditawarkan era ekonomi digital masa kini.

Tak Sempat Masak? Go-Food-in Aja

Saat berada di Semarang, saya sangat dimudahkan dengan adanya Go-Food dari GoJek. Ketika tiba jadwal kontrol dokter, saya benar-benar tak bisa menyentuh dapur. Sebab, saya harus pergi pagi-pagi sekali untuk mengantre dan pulang, biasanya, sudah lewat tengah hari.

Sementara, orang-orang yang di rumah tetap butuh makan. Solusinya? Go-Food-in aja. Hanya dengan menyentuh ponsel, makanan dengan segera tiba di rumah. Meskipun, saya sedang duduk di kursi ruang tunggu rumah sakit.

Bayar Listrik dan Air, juga Tagihan BPJS? Bisa di Tokopedia.

Saya ingat, dulu, ketika internet tak semudah sekarang, saya harus pergi ke pasar yang jaraknya 2 kilometer dari rumah untuk membayar tagihan listrik. Lalu berpindah lagi sekitar 500 meter ke kantor PDAM untuk membayar tagihan air.

Di kantor itu, saya bukannya langsung dilayani. Saya harus mengantre dan, kalau sudah dekat masa jatuh tempo, kantor itu ramainya bukan main. Saya harus menyediakan waktu satu hari penuh untuk membayar semua tagihan tersebut.

Kalau kemudian ada Tokopedia yang memfasilitasi pembayaran tagihan air dan listrik, atau membayar secara manual melalui e-banking, ini terobosan yang luar biasa. Luar biasa menghemat waktu dan tenaga. Kami, para ibu, sambil bermain bersama anak, bisa ketak-ketik di ponsel untuk membayar tagihan air dan listrik. Tak perlu keluar rumah.

Belanja Barang Kebutuhan? Ada Shopee

Di suatu siang, mertua saya berkata, “Mungkin cuma di rumah kita ini, Wen, yang dalam satu hari terima paket sampai dua kali.”

Saya cuma tersenyum saja mendengar komentar beliau. Sebenarnya hati ini kebat-kebit, takut mertua berpikir yang lain. Seperti misalnya, “Boros kali anak ini.”

Hari itu, dua paket belanjaan dari Shopee datang bersamaan. Padahal, pembayarannya sudah dilakukan di hari yang berbeda.

Mamak mertua tak terbiasa menerima paket barang. Semenjak ada mantu baru (baca: saya), rumah ini jadi sering kedatangan paket. Seringnya sih, belanjaan dari toko online.

Kala itu, saya membeli peralatan makan untuk Abdillah. Anak saya itu akan memulai tahapan makan makanan pendamping Air Susu Ibu (MPASI). Saya memutuskan membeli via online karena saya tidak banyak tahu toko yang menjual peralatan makan bayi di Selatpanjang.

Dengan Shopee, saya jadi bisa bepergian ke banyak toko, melihat banyak barang, dan bahkan membandingkan harga barang yang sama di toko-toko yang berbeda. Padahal, saat itu, saya sedang duduk di kursi sambil mengayun Abdillah yang tertidur di buaian.

Dua hari saya ‘blusukan‘ dari satu toko ke toko lain demi mencari barang termurah dari merek yang diingini. Setelah itu, melakukan check out, dan memastikan kupon ‘gratis ongkir’ digunakan. Barulah kemudian melakukan pembayaran via transfer antar-bank.

Setelah itu, duduk lagi menanti barang pesanan datang. Kalau di Semarang, dalam waktu satu-dua hari, barang pesanan biasanya sudah tiba. Saya bahkan belum sempat mengecek notifikasi perjalanan pesanan di aplikasinya, tau-tau barang sudah di depan mata.

Kalau di Selatpanjang, saya sampai harus berkali-kali mengecek perjalanan pesanan. Mungkin karena berbeda pulau, maka proses pengiriman barangnya berjalan lambat. Tak apalah lambat, asal selamat. Alhamdulillah, selama ini, pesanan barang saya datang selamat.

Keuntungan saya ini rupanya masuk dalam laporan McKinsey, yang berjudul The Digital Archipelago (2018), sebagai satu dari empat dampak ekonomi digital. Laporan itu menyebutkan, konsumen di luar Jawa dapat menghemat 11 hingga 25 persen daripada berbelanja di ritel tradisional.

Benar juga laporan itu. Saya sempat melakukan survei di dua toko bayi yang ada di Selatpanjang, sebelum saya berbelanja online. Di toko pertama, saya tidak diberikan pilihan model. Hanya ada satu merek peralatan makan bayi di sana. Saya kurang sreg.

Di toko yang kedua, ada barang yang saya incar. Iseng, saya bertanya harga sepasang sendok makan bayi. Mbak pramuniaga menyebutkan harganya Rp 80 ribu. Padahal, kalau di toko online, ada yang memasang harga Rp 50 ribu. Bedanya Rp 30 ribu, Mak! Bisa buat nambah-nambah beli slaber mas baby.

Peluang Ekonomi Digital Bagi Para Ibu Profesional

Dampak lain dari ekonomi digital menurut laporan McKinsey adalah adanya kesetaraan gender. Kaum hawa bisa menikmati hingga 35% dari kue penjualan online ketimbang dari ritel tradisional yang hanya 15%.

Luangkan waktu sejenak untuk berselancar di instagram. Berapa banyak para ibu yang mengemas akun pribadinya untuk berjualan? Atau bahkan memiliki dua akun: satu akun pribadi dan satu lagi akun toko untuk berjualan? Saya punya banyak kawan yang seperti itu.

Di Komunitas Ibu Profesional, para ibu juga diajak untuk menjadi produktif. Produktif ini tentu sesuai dengan hal yang mereka sukai dan mereka bisa. Sebagian besar memilih berjualan. Ini namanya mengambil peluang dari era ekonomi digital saat ini.

Google dan Temasek, dalam risetnya yang bertajuk e-Conomy SEA 2018: Southeast Asia’s Internet Economy Reachers an Inflection Point (2018), menyatakan bahwa Ekonomi Digital Indonesia itu yang terbesar se-Asia Tenggara. Pertumbuhannya pesat di setiap tahunnya. Kalau di tahun 2018, nilai ekonomi digital itu sebesar USD 27 milyar, Google memperkirakan, di tahun 2025 nanti angkanya menembus USD 100 milyar atau senilai Rp 1.448 trilyun. Perkiraan Bank Indonesia bahkan lebih besar, yakni, mencapai USD 150 milyar atau senilai Rp 2.040 trilyun di tahun 2025.

Bagaimana tidak pesat kalau pengakses internet di Indonesia juga besar? Sekarang, pengguna internet di Indonesia mencapai 148 juta jiwa. Sebesar 94% warga Republik kita yang tercinta ini sudah terkoneksi dengan internet. Alhamdulillah, koneksi internet di Selatpanjang juga baik.

Besarnya angka ekonomi digital Indonesia itu rupanya banyak ditunjang dari sektor ekonomi startup atau pemula. Seperti GoJek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak, yang kini menjadi unicorn ekonomi digital, juga bermula dari bisnis startup. Perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga turut membesarkan ekonomi digital Indonesia.

Jack Ma, founder Alibaba, jadi terinspirasi untuk membesarkan UMKM di Tiongkok sana. “Helping small business to make money is the key,” ujarnya dalam pertemuan IMF-World Bank Group Annual Meeting 2018 di Bali, bulan Oktober lalu.

Sektor UMKM yang bisa kita sasar sebagai area produktivitas kita, antara lain, kuliner, tekstil, dan pakaian jadi. Tapi, kalau mau ke arah sektor otomotif, elektronik, dan kimia juga tak masalah.

Dengan memulai UMKM, kita – para ibu profesional, dapat bermanfaat bagi lingkungan sekitar dengan membuka lapangan kerja baru.  Nilai kebermanfaatan inilah yang dapat meningkatkan kemuliaan hidup kita sebagai seorang ibu. [w]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *