Keluarga

Ibuku Selalu Ada Untukku

Pelan-pelan, kuurai gulungan kabel colokan itu. Dengan sangat berhati-hati, aku mulai menancapkan pangkal colokan pada stop kontak.

Ah! Jeritku tertahan. Listrik menyengat jari telunjukku. 

Dalam hitungan detik, muncul bunga api di sambungan kabel yang tengah kupegang.

Aku melepasnya. Dan segera setelah itu, lampu padam.

“Mak?” pekik suamiku.

Dini hari kala itu. Suamiku segera beringsut dari tidurnya dan menekan tuas sekering kembali ON. Lampu menyala kembali. Abdillah sudah membuka mata. Suamiku kembali ke kasur sambil bersungut.

Seketika itu juga, aku teringat ibuku. Dulu, ibuku selalu ada untukku.


Yang mengingatkan saya pada mama adalah pekikan abah saat mendapati lampu padam. Ia segera saja mencari ibunya: mamak. Padahal di situ ada saya yang baru saja terkejut karena kesetrum.

Kamu cemburu? Tidak. Karena sejatinya, saya ingin Abdillah nanti seperti itu; senantiasa mengingat saya – ibunya.

Lantas pikiran saya beralih pada pertanyaan: “Pantaskah saya diingat? Apa yang sudah saya berikan pada Abdillah hingga ia mau mengingat saya sepanjang hayatnya?”

Saya terhenyak. Saya teringat pada pandangan mata Abdillah saat meminta saya menggendongnya. Saya sedang menyiapkan makanannya saat itu. Kedua tangan saya lengket dengan nasi. Saya sedang menyaring nasi.

Abah Abdillah sudah berangkat kerja. Saya meletakkan Abdillah di lantai dapur sementara saya bekerja. Mungkin karena lelah dan lapar, ia mulai merayap mendekati saya. Menyorong-nyorongkan kepalanya ke kaki saya dan merengek. 

Saya hanya bisa menengoknya tanpa bisa mengangkatnya. Tangan masih penuh dengan nasi. Saya beradu dengan waktu. Sudah pukul 09.00, Abdillah belum makan.

Nenek Abdillah lalu datang dan mengajaknya bermain. Lumayan mengulur waktu. Akhirnya, menjelang pukul 10.00, aktivitasku itu baru selesai.

Ah, pantas saja anak ini rewel. Perutnya lapar minta diisi.


Ada pepatah, “Apa yang Kita Tanam, Itulah yang Kita Tuai”.

Apakah kelak saya akan memelas demi meminta perhatian Abdillah? Semoga tidak, ya Rabb. Maka saya harus membenahi sikap padanya. InsyaaAllah. [w]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *