Blog Challenge

How Social Are You?

Bismillah.


Tantangan hari ke-5 #BPN30DAYBLOGCHALLENGE adalah tentang media sosial. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, media sosial merupakan laman atau aplikasi yang memungkinkan pengguna dapat membuat dan berbagi isi atau terlibat dalam jaringan sosial. 


HEY, How Social Are You?!


Dari 265,4 juta jiwa penduduk Indonesia, 49%-nya atau sekitar 130 juta jiwa, mengakses media sosial setiap hari. Angka itu berasal dari hasil penelitian We Are Social dan Hootsuite “Essential Insight Into Internet, Social Media, Mobile, and Ecommerce Use Around the World” yang terbit pada bulan Januari 2018 lalu.

Data tersebut menunjukkan betapa gandrungnya masyarakat Indonesia dengan media sosial. Bersosialisasi di dunia maya lama-lama menjadi sebuah kebutuhan, alih-alih sebagai penghilang rasa bosan.

Empat media sosial yang paling banyak diakses oleh warga Indonesia adalah Youtube, Facebook, Whatsapp, dan Instagram. Setelah itu, barulah menyusul, Line, Blackberry Messenger (BBM) dan Twitter.

Ketujuh media sosial yang saya sebutkan di atas pernah saya sambangi setiap hari. Bahkan saya pernah memiliki akun untuk ketujuh-tujuhnya. Bukan hal yang menghebohkan ya karena pasti ada yang punya hingga dua atau lebih akun di salah satu atau dua media sosial tersebut.

Dulu, hampir setiap kali ada media sosial yang lagi hits, saya selalu ingin mencoba. Tapi lantas seleksi alam berjalan dan seleksi ponsel juga berlaku (baca: kekuatan memori dan RAM ponsel).

Dari ketujuh media sosial yang paling banyak peminatnya ituh, yang masih saya pertahankan hingga sekarang adalah Facebook, Whatsapp, Instagram, dan Twitter.

Yang paling sering saya buka adalah Whatsapp. Tiada hari tanpa membuka Whatsapp.

Baru kemudian Instagram. Kalau enggak di-rem, membuka instagram – sekedar melihat feed, bikin nagih!

Facebook sangat jarang saya buka. Sesekali saja untuk mengeposkan tulisan blog.

Sementara Twitter, saya buka untuk mengeposkan isi hati yang tak bisa dipendam lagi.

Dari keempatnya, saya paling suka Twitter. Sebab, tak perlu repot-repot untuk memosting sesuatunya. Tinggal tulis bla-bla-bla lalu kirim. Ketik lagi bla-bla-bla lalu kirim.

Enggak ada yang nge-respon. Itu yang saya suka. Saya jadi bisa sesuka hati menuangkan keluh kesah yang menyesakkan dada. Hehoo… :))

Sementara itu, media sosial yang paling saya butuhkan adalah Whatsapp. Saya orang rantau. Keluarga saya jauh di Semarang. Teman-teman berpendar di banyak pelosok negeri. Ada yang di Batam, Jakarta, Semarang, atau Bandung. Komunikasinya lebih banyak dengan Whatsapp.

Eh, jangankan yang luar kota, dengan kawan yang satu kota pun, komunikasinya menggunakan Whatsapp. Aplikasi pesan berbayar? Itu baru saya gunakan kalau chat media sosial tak berbalas.

Terlebih, Whatsapp memiliki fitur grup yang bisa menghubungkan banyak orang dalam satu kelompok. Saya punya 18 grup Whatsapp yang masih aktif hingga sekarang. Tang-ting-tung tang-ting-tung, bunyinya.

Bising? Tidak juga. Cukup aktifkan mode silent pada ponsel dan biarkan notifikasi bertambah.

Lantas, apakah akun media sosial bisa menunjukkan eksistensi kita? Bisa dong, eksistensi di dunia maya. Kalau dulu, eksistensi itu sekedar untuk gaya-gayaan. Sekarang, eksistensi itu juga bisa untuk mendulang rupiah.

Misalnya, untuk promosi produk yang kita jual atau promosi produk orang . Yang terakhir itu mungkin lebih akrab di telinga dengan sebutan paid promotion (promosi berbayar).

Jenis promosi ini biasa diberikan pada akun-akun yang memiliki jumlah pengikut (follower) ribuan atau puluhan ribu. Semakin banyak jumlah pengikutnya, semakin besar bayarannya.

Akun yang mendapatkan paid promotion ini disebut juga dengan influencer (orang yang berpengaruh; bisa memengaruhi khalayak). Ummmpaid promotion ini biasanya muncul di instagram (dan blog).

Saya, dengan media sosial yang saya miliki, belum sampai pada tahap influencer. Tapi, tidak menutup kemungkinan untuk itu.

Jadi penasaran nih, kalau kamu, media sosialmu untuk apa? [w]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *