Blog Challenge

Karena Ku Tak Bisa Sendiri

Delapan tahun lalu, saya mulai menulis blog. Awalnya karena nggak mau rugi sudah ikut pasang internet bareng anak-anak kosan. Isinya apa? Tjurhat harian, sodara-sodara.

Tidak menyangka, kebiasaan saya menulis blog itu mendapat apresiasi. Saya diterima bekerja karena bos membaca blog saya. Dia termasuk orang yang pertama mengembangkan penulisan blog di negeri ini. Makanya, dia senang sekali waktu tahu saya punya blog. Katanya, orang yang sudah terbiasa menulis di blog akan mudah menulis berita.

Saya pun akhirnya mulai bekerja sebagai kuli tinta di sebuah media di Batam. Setiap hari saya mendapat target 2 hingga 3 berita pendek atau 1 tulisan panjang. Sesekali saya masih menulis blog saya.

Waktu itu, saya menggunakan platform blogspot. Kemudian, saya tertarik untuk menggunakan platform wordpress. Platform yang gratisan saja.

Ketika twitter memperkenalkan medium, saya juga membuat akun di sana. Saya lebih bebas bercerita di medium ketimbang di platform blog yang lain. Entah kenapa, saya juga tidak tahu pasti.

Di akhir tahun 2016, saya mulai memutuskan untuk membuat blog dengan domain sendiri. Ketika itu, saya berpikir untuk mulai serius nge-blog. Ini karena saya akan resign di awal tahun 2017. Di tahun-tahun itu, nama blogger sudah terangkat menjadi salah satu profesi yang menghasilkan.

Menikah membuka jalan saya untuk berhijrah. Saya ingin membuka lembaran baru, termasuk untuk blog dan media sosial. Saya pun memutuskan untuk menghapus semua blog saya, baik yang gratisan maupun yang berbayar. Percayalah, keputusan itu berat, Nyonyah!

Sampai-sampai, seorang panutan di dunia penulisan mengirim pesan singkat: “Kenapa blog-mu dihapus?” dan protes setelah tahu alasannya.

“Kan bisa bikin yang baru lagi tanpa menghapus yang lama?!” ujarnya.

Well, saya takut terbayang-bayangi saja. Saya pun belum memutuskan untuk membuat yang baru. Saya bingung mau mengisinya bagaimana. Saya tidak ingin blog itu menjadi tempat tjurhat saja.

Rupanya ku tak bisa sendiri tanpa berkisah di blog. Saya memang butuh blog untuk tempat membuang tjurhat dan aktivitas ini rupanya membuat kepala enteng – tanpa saya sadari. Maka jadilah, saya membuat blog dengan domain berbayar di akhir tahun 2017.

Karena saya tak bisa lepas dari tjurhat dan memang butuh tjurhat, blog ini pasti akan berisi tjurhatan saya. Namun, saya juga berharap tjurhatan saya bisa membawa manfaat untuk Buibu lain yang ada di seluruh belahan dunia.

Selain itu, saya juga berharap bisa produktif dengan menulis di blog ini. Karena inilah kegiatan yang saya bisa dan saya suka. Semoga blog ini bisa menghasilkan. Setidaknya, menghasilkan pertemanan dengan Buibu lain di seluruh penjuru dunia.

Tabik!

[w]

11 thoughts on “Karena Ku Tak Bisa Sendiri

  1. “Kamu punya blog? Weny itu punya blog dan saya suka gaya tulisannya”.

    Tahu itu pernyataan siapa Wen? kamu pasti tahu. sejak itu saya minder punya blog. Sudah punya blog, abal2, jarang diisi lagi. wkwkwk

    Keren kamu Wen. Saya penyuka tulisanmu. gayamu bertutur di blog rada mirip dengan gayamu bertutur di setiap tulisan kakimu. keep on writing sissy.

  2. Rerata blogger menulis dari curhat harian ya kak… Kalau saya awal-awal dulu isinya hasil liputan untuk Koran media massa, kemudian soft copynya saya upload di blog… Hehhe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *