Kompetisi Blog

My 2018 Best Moment: Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti

Saya bukan orang yang pandai mengingat. Namun, tahun 2018 ini sepertinya akan menjadi tahun yang tak pernah terlupakan dalam hidup saya. Sebuah pergantian hidup. Yang patah tumbuh, yang hilang berganti.

Kisahnya bermula di awal September tahun lalu. Papa sakit. Aku pun terbang ke Semarang untuk menemani mama merawat papa.

Awalnya kupikir sakit biasa, karena toh papa masih bisa membuat lelucon saat badannya terbaring di ranjang rumah sakit. Tapi dokter langsung memintanya menginap saat pertama kali papa datang berobat.

Serangkaian tes papa jalani selama dua hari di RS itu. Papa bilang, mungkin stroke ringan. Dokter sudah datang berkunjung atau istilahnya ‘visit‘. Namun, ia tak memberi tahu hasilnya.

Setelah dokter itu berlalu, speaker bangsal berseru memanggil keluarga papa. Nama papa disebut. Saya segera mendatangi. Dokter ingin berbincang, rupanya.

“Hasilnya sudah keluar. Ada massa di otak kiri. Saya curiga, sumbernya dari paru-paru. Bapak merokok kan?” katanya.

Aku mengangguk. Tapi, apa itu massa? Benjolan-kah? Ini dokter kenapa nggak bilang langsung saja sih?!

“Maksudnya, Dok?” tanyaku.

“Ini ada tumor di otak kiri. Mungkin, sumbernya dari paru-paru,” jelasnya, “Nah, untuk memastikan, Bapak harus dirujuk ke rumah sakit lain untuk tes lanjutan.”

Waktu serasa berhenti. Aku juga merasa paru-paru dan jantungku mandeg bekerja. Apa yang barusan kudengar? Ribuan pertanyaan sahut-menyahut di kepala. Hingga hanya tersisa satu pertanyaan: “Bagaimana aku bisa mengatakannya ke mama dan papa?”

Aku menelepon embak yang saat itu masih di Jakarta. Aku juga menelepon suami di Selatpanjang. “What should I do?” tanyaku.

Kekalutan itu membuatku lupa kalau tengah hamil. Ini kehamilan yang ditunggu-tunggu. Anak pertama setelah 6 bulan berkeluarga.

Aku baru tahu sedang hamil dari hasil tespek di hari keberangkatan ke Semarang. Mama-papa bahkan belum tahu aku hamil. Kabar mana yang harus kuberi tahu lebih dulu? Kabar gembira atau kabar duka?

Aku pun memberitahukan kabar kehamilanku lebih dahulu. Setidaknya aku bisa menunda sembari berpikir apa yang harus kulakukan.

Namun, aku tak kuasa menyembunyikan analisa dokter dari mama dan papa lama-lama. Keduanya sering berdebat soal kemungkinan penyakit dan penyebabnya. Akhirnya, setelah memberi prolog untuk bisa menerima lapang dada, aku pun memberitahukan analisa dokter.

Papa menerimanya dengan legowo. Mama langsung tak bisa berkata-kata, mulas, dan ambruk. Air matanya mulai merembes keluar.

Yang aku dan mama pikirkan sama: “Bagaimana kalau sakit itu merenggut papa?”

Pikiran itu membuahkan tangis yang tak berujung.

“Udah, papa nggak papa kok. Papa baik-baik aja. Kita ikuti saja saran dokter. Pasti itu yang terbaik,” katanya.

16 April 2018, pukul 07.00 wib.

Aku tengah berbaring di ranjang rumah sakit. Suster baru saja memasang selang infus di tangan kiriku. Ia memerintahkanku untuk menunggu. Satu jam lagi, ia akan datang dan mengantarku ke kamar operasi.

“Deg-deg-an nggak, Ngay?” tanyaku pada suami.

Ia duduk di samping ranjang sambil memegang ponsel. Entah melihat apa. Mungkin ia bermain gim untuk membunuh bosan dan mematikan risau hati.

“Deg-deg-an. Tapi adek-lah yang pasti deg-deg-an,” jawabnya.

Satu jam lagi operasiku dimulai. Usia kandunganku sudah mencapai 39 minggu. Dokter mengatakan, sudah saatnya bayiku keluar.

Ingatanku kembali ke saat itu, ke hari kedatanganku ke Semarang yang tentunya bukan karena hendak melahirkan bayi ini. Aku datang karena papa. Menunggui papa selama sebulan di rumah sakit. Menjaga papa di rumah. Seminggu sekali ke rumah sakit untuk mengantar papa kontrol.

Lalu kembali bolak-balik ke rumah sakit setiap hari karena papa masuk lagi. Menilik papa dari jendela – karena tidak boleh masuk kamarnya hingga tertidur di lorong bangsal rumah sakit. Semua kujalani dengan janin ada di rahim.

“Sembuh ya, Kek, biar bisa lihat cucunya,” kataku waktu itu setiap kali menemani papa terapi.

Kerabat yang menjenguk pun memberi semangat demikian. Bayi yang kukandung sudah menjadi penyemangatnya untuk sembuh, kurasa. Namun, kehendak Allah, papa tak bisa juga berjumpa dengan cucunya ini.

Papa meninggal saat usia kandunganku 5 bulan. Aku memutuskan untuk berdiam di Semarang dulu sembari menunggu embak benar-benar pindah ke Semarang. Supaya mama tidak kesepian di rumah.

Usia kandunganku 7 bulan lebih saat embak memboyong Rayya dan Rafif, juga barang-barangnya ke Semarang. Aku tidak bisa pulang ke Selatpanjang. Kandunganku terlalu beresiko untuk dibawa terbang.

Keputusannya adalah… melahirkan di Semarang. Ini memang menjadi doaku, sejak dulu, sejak sebelum menikah dan tinggal di Selatpanjang. Tapi aku tidak tahu, ternyata begini cara Allah mewujudkan doaku.

“Ternyata doa adek terkabul ya, Ngay, bisa melahirkan di Semarang. Tapi kok gini jalan-NYA,” ujarku ke suami.

Dia mengiyakan saja.

“Yuk, ambil foto,” kataku.

Aku ingat, kami hampir tak pernah foto berdua saat aku hamil. Aku di Semarang, dia di Selatpanjang. Kalaupun tengah bertemu, pasti kami terburu-buru hendak melakukan sesuatu. Waktu itu, pikiran terfokus hanya pada kesembuhan papa.

“Nih,” kataku sambil menyerahkan ponsel.

Satu-satunya kamera yang kumiliki adalah kamera ponsel. Dan karena itu di kamar rumah sakit, lebih baik melakukannya dengan selfie. Kami tipe orang yang malu meminta tolong pada orang untuk dipotretkan.

the best moment at 2018

Ini adalah best moment-ku di tahun ini. Ini menit-menit terakhir menjelang perjuanganku melahirkan bayi yang selama sembilan bulan menemaniku jungkir balik di Semarang. Bayi yang karenanya aku bertahan untuk terus makan dan berusaha senang.

Ini menit-menit menuju pergantian: yang patah, tumbuh; yang hilang, berganti. Papa pergi, bayi ini hadir. Kuberi nama ia, Abdillah – Hamba Allah.

Sejak kehadiran Abdillah, momen-momen indah terjadi tiba-tiba. Sebuah momen yang kalau tidak diabadikan dengan cepat, akan hilang begitu saja. Apalagi ketika suami sudah kembali pulang ke Selatpanjang, rasanya ingin berbagi momen itu dengan cepat.

Makanya, aku sangat memaksimalkan ponsel. Tapi kadang, semangat yang membara itu tiba-tiba hilang ketika ada pemberitahuan: “There are not enough space in your device.” Aaaah… rasanya ingin segera ‘lem biru’ – lempar, ganti yang baru.

Eh, pas lagi browsing, ketemulah sama Huawei Nova 3i. Pas melihat spesifikasinya, aduhaaaaai, kayaknya cucok banget nih buat jadi Gawai Impian tahun 2018.

Kenapa?

Soalnyaaa…

1. Huawei Nova 3i ini punya 4 kamera dengan kekuatan artificial intelligence (AI). Dua kamera di belakang dan dua lainnya di depan.

Kamera di belakang memiliki resolusi 16 MP dan 2 MP. Sementara kamera di depan memiliki resolusi 24 MP dan 2 MP. Kenapa kamera depan lebih besar resolusinya? Supaya puas selfie-nya, cyin…

Nah, kekuatan AI itu membuat pengambilan gambar jadi lebih baik secara otomatis.

2. Kameranya dengan lensa aspheric. Nah loh, apalagi ituh?

Lensa aspheric ini memungkinkan pembiasan cahaya putih terjadi seminimal mungkin. Gampangnya, lensa ini bikin gambar jadi tajam tanpa ada gradasi warna pelangi yang mengganggu.

3. Dipasangi GPU Turbo.

Teknologi ini mendukung buat nge-gim soalnya GPU Turbo bisa membuat acara nge-gim lebih lancar dengan penggunaan grafis yang halus. Suamiku hobi banget nge-gim. Bolehlah nanti, sesekali kupinjami Huawei ini biar doi betah jaga Abdillah kalau lagi bobok.

4. Desainnya ciamik.

Warna iris purple-nya itu lhooooo, bikin air mata meleleh. Apalagi liat bodinya yang tipis. Jadi nggak makan tempat kalau dibawa-bawa. Maklum, mamak-mamak baru punya bayi, jadi bawaan-nya segambreng kalau mau kemana-mana. Kayaknya, gawai ini bisa masuk dengan indahnya di kantong dompet ane. Atau langsung aja di saku gamis? Duh… kok jadi makin pengin.

5. Memori-nya sampai 128 GB, RAM 4GB

ASTAGAAA… Ini nih rasanya yang paling penting. Nggak ada cerita lagi deh bakal kehabisan space saat foto-foto. Nggak ada lagi deh momen-momen cantik yang terlewat begitu aja. Makin semangat deh nanti buat bikin portofolio-nya Abdillah. Iya deh.

Oh… Semoga bisa menggaet si gawai impian di tahun ini juga! Aamiin. [w]

 

catatan: Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway blog-nya Jiwo.

20 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *