Kesehatan

Perlindungan Imunisasi Bagi Generasi Negeri

Terngiang-ngiang ucapan Bu Bidan saat saya mengantar Abdillah imunisasi beberapa waktu lalu.

“Imunisasi campak ini sudah diganti dengan MR ya, Bu. Ada tambahan untuk (penyakit) rubella,” katanya sambil membubuhkan tulisan MR pada halaman imunisasi di buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) milik Abdillah.

“Wah, MR ya,” jawabku.

“Tenang. Masih lama, di usia sembilan bulan,” ujarnya lagi.

Dag dig dug saya mendengar imunisasi MR. Sebab, imunisasi MR tengah hangat diperbincangkan khalayak negeri ini. Terlebih setelah banyaknya penolakan di beberapa daerah di luar Jawa. Yang ada efek sampingnya-lah, yang haram-lah…

Gimana nih? Cari tahu dululah, yuk!

lembar imunisasi di Buku KIA Abdillah

 

Ada apa sih dengan imunisasi MR?

Hasil googling, imunisasi MR ini merupakan imunisasi yang diberikan untuk pencegahan penyakit campak dan campak jerman atau Rubella. MR itu kepanjangan dari Measles-Rubella. Measles untuk penyakit campak dan Rubella merupakan istilah asing dari campak jerman.

Penyakit campak biasa ditandai dengan ruam-ruam merah di sekujur tubuh. Disertai dengan demam tinggi, mata merah, dan batuk-pilek. Kalau rubella malah tidak terlalu nampak gejalanya.

Seorang teman yang anaknya pernah terjangkit rubella mengaku tidak ngeh kalau itu rubella. Ia pikir campak biasa. Sebab anaknya memang belum diimunisasi campak, kala itu.

“Rubella itu baru ketahuannya setelah di-tes lab. Ciri-cirinya kurang lebih sama seperti campak biasa,” katanya.

Teh Dewi, namanya. Ia memberi tahu TK tempat anaknya bersekolah, kalau Ryu, anaknya, sedang sakit. Ia ingin bocah 4 tahun itu sembuh dulu baru bersekolah lagi.

Ryu sembuh setelah menjalani perawatan seminggu penuh di rumah. Meskipun tengah hamil muda, Teh  mendampingi sekuat tenaga.

Setelah Ryu sembuh, gantian Teh Dewi yang tumbang. Bintik-bintik merah mulai muncul di tangan, dada, dan bahu. Beberapa orang di sekitar menyarankannya untuk mengobati secara tradisional.

“Tapi naluriku tak sependapat,” ujarnya.

Ia pun berkelana di mesin pencari internet untuk mengetahui dampak virus rubella bagi ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Zaman sekarang, mencari tahu akan sesuatu itu cukup dengan ‘mengetuk-ngetuk’ saja. Asalkan ada kuota internet, dalam waktu singkat, dahaga keingin-tahuan pun terpuaskan.

“Dan ENGINGENG, hampir semua artikel yang kutemukan menuliskan hal yang sama: ‘dapat menyebabkan kecacatan dan kematian pada janin’,” tambahnya.

Wanita yang usia kandungannya baru 10 minggu itupun segera menemui dokter kandungan. Tidak hanya satu, ia menemui dua dokter untuk berkonsultasi. Keduanya menyarankan supaya janinnya diangkat.

Sebab, tanda-tanda kecacatan sudah mulai terlihat. Dari yang seharusnya berukuran 5, sekian sentimeter di usia itu, janinnya hanya berukuran 2, sekian sentimeter.

“Dia hanya berukuran setengah dari ukuran normal janin pada usianya,” tuturnya.

Ia pun melakukan tes laboratorium (tes ToRCH – Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan Herpes simplex) untuk memastikan ada-tidaknya virus itu dalam tubuhnya. Hatinya hancur saat melihat hasil tes. Ia positif mengidap rubella. Indeks rubella dalam tubuhnya mencapai 12,56 sementara dengan indeks 1,20 pun orang sudah dikategorikan positif rubella.

“Semua rasa kecewa, bersalah, dan marah bercampur jadi satu. Betapa bodohnya aku,” sesalnya.

Ia teringat janinnya.

“Maafkan ibumu ini ya, Nak. Karena ketidak-tahuan ibumu, kamu harus diangkat dari rahim ibu,” katanya pada janin yang ia beri nama Juang Aliya itu.

Rubella pada ibu hamil rupanya memiliki dampak yang luar biasa. Terlebih bagi mereka yang masih berada di trimester pertama. Mereka dapat mengalami keguguran karena janin yang dikandungnya telah tertular virus dan bila dilahirkan, besar kemungkinan bayi itu akan mengalami cacat bawaan atau yang biasa disebut dengan Sindrom Rubella Kongenital (SRK).

Komplikasinya bisa sangat serius. Ambil contoh, Aubrey Naiym Kayacinta atau yang biasa disapa Ubii – putri sulung Grace Melia yang terlahir dengan SRK. Di usia 5 bulan 10 hari, ia divonis mengalami kebocoran jantung dan dinyatakan tunarungu sangat berat.

 

bahaya komplikasi pada penyakit campak dan campak jerman. sumber foto: hopkinmedicine.org

Tidak seperti Teh Dewi yang menyadari dampak buruk rubella sebelum janinnya besar, Grace Melia tidak tahu-menahu tentang virus itu hingga ia melahirkan Ubii. Inilah yang membuat ia tergugah untuk mengedukasi masyarakat, terutama ibu hamil, tentang penyakit rubella. Ia membuat komunitas bernama Rumah Ramah Rubella (RRR). Ia ingin mewadahi para orang tua yang punya pengalaman melawan rubella seperti dia.

“Kalau saya, yang berpendidikan tinggi dan tinggal di kota besar, saja sangat sedikit mengetahui info tentang ToRCH, bagaimana dengan wanita-wanita di kota-kota lain yang jauh dari pusat informasi kesehatan?” katanya.

Merinding membaca kisah jatuh-bangun Grace Melia dan suami dalam membesarkan Ubii. Penuh tantangan, baik dari dalam maupun luar. Saya bisa membayangkan emosi yang terkoyak-koyak dan kelelahan fisik yang Grace Melia rasakan.

“Kalau umpamanya sudah terkena rubella dan anak itu lahir cacat malah akan repot. Karena bukan anak itu saja yang ‘menderita’ tapi juga keluarga dan orang di sekitarnya,” kata Teh Dewi menambahi.

Dua minggu Teh Dewi merasakan kegamangan karena janin yang terangkat. Belum lagi ia masih harus menenggak obat 4x sehari untuk melumpuhkan virus di dalam tubuhnya. Beruntung, dalam satu sesi pengobatan ia sudah dinyatakan negatif dari rubella.

Namun, bukan tidak mungkin ia terserang rubella lagi. Sebab, obat hanya membuat virusnya tidur. Kalau kondisi tubuhnya tidak fit dan ia bersinggungan dengan orang yang sedang sakit rubella, ia bisa terserang lagi.

Penyakit campak dan rubella merupakan jenis penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh virus. Penularannya melalui saluran nafas. Dan kelompok usia yang paling beresiko tertular adalah anak-anak dalam rentang usia 9 bulan sampai 15 tahun. Kalau sudah ada satu anak yang kena, yang lain bisa kena.

Lembar informasi vaksin dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dari Departemen Pelayanan Kesehatan dan Kemanusiaan Amerika Serikat menyebutkan, penyakit campak bahkan dapat menular tanpa kontak langsung. Seseorang bisa terkena campak hanya dengan memasuki ruangan yang baru dua jam lalu ditinggalkan oleh orang yang terkena campak.

“Penyakit ini dapat menular dengan mudah dari satu orang ke orang yang lain,” bunyi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dari Departemen Pelayanan Kesehatan dan Kemanusiaan Amerika Serikat yang terbit pada 12 Februari 2018 itu.

sumber foto: IG @kemenkes_ri

Seperti kasus Ryu itu. Teh Dewi curiga, Ryu tertular penyakit itu di sekolahnya. Sebab, di saat yang sama, ada beberapa anak yang sakit dengan gejala serupa. Bahkan, ada ibu dari kawan Ryu yang tengah hamil yang juga terserang Rubella.

Sedihnya, ibu itu ngotot mempertahankan janinnya. Namun, belum genap usia kandungannya mencapai 9 bulan, ia sudah melahirkan. Janin itu baru berumur enam bulan. Hasilnya, begitu dilahirkan, hanya beberapa menit kemudian, bayi itu meninggal.

“Kan lebih nyesek kehilangannya. Aku aja butuh dua minggu untuk mengikhlaskan,” kisah Teh Dewi.

sumber foto: IG @kemenkes_ri

 

Imunisasi Pemutus Mata Rantai Penularan

Rubella di Indonesia termasuk penyakit yang harus dicegah secara efektif. Data surveilans dari tahun 2010-2015, ditemukan 23.164 kasus campak dan 30.463 kasus rubella. Setiap tahunnya, dilaporkan ada lebih dari 11.000 kasus suspek campak. Dari hasil konfirmasi laboratorium, 12 – 39% di antaranya merupakan campak pasti dan 16-43% adalah rubella pasti. Itu baru jumlah yang dilaporkan. Petugas kesehatan yakin, kenyataan di lapangan, jauh lebih banyak.

Makanya, pemerintah kini mulai menggalakkan imunisasi untuk penyakit campak dan rubella itu. Pemerintah hendak mengeliminasi campak dan mengendalikan rubella dan SRK di Indonesia pada tahun 2020 kelak.

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengatakan, penyakit campak dan rubella tidak dapat diobati secara tuntas. Pengobatan hanya bersifat supportif.

“Namun, kedua penyakit itu dapat dicegah dengan imunisasi,” ujarnya dalam rilis 21 Agustus lalu.

Tujuan kampanye imunisasi itu untuk memutus mata rantai penularan. “Dengan demikian, cakupan imunisasi minimal 95 persen di tingkat wilayah, dapat membentuk herd community atau kekebalan kelompok,” imbuh Bu Menteri.

Teh Dewi dan Grace Melia sangat mendukung  imunisasi tersebut. Keduanya mulai aktif mengedukasi masyarakat tentang bahaya penyakit rubella. Rumah Ramah Rubella (RRR) yang Grace dirikan kini sudah memiliki komunitas-komunitas di daerah-daerah. Pemerintah pun menggandeng RRR dalam kampanye imunisasi MR.

Sementara Teh Dewi bergerak sendiri dengan memulainya dari lingkup kecil, yakni posyandu. Ia membagikan selebaran tentang rubella. Ia juga sengaja meluangkan waktu berbincang santai dengan para ibu di sana.

“Cerita tentang pengalaman sendiri saja dan pentingnya imunisasi,” katanya.

sumber foto: IG @kemenkes_ri

Keduanya sepakat, imunisasi dapat memutus mata rantai penularan. Kalau tidak ada penularan, tentu banyak generasi negeri yang akan terselamatkan.

“Kan jadi egois ya… Kalau nggak diimunisasi, anak bisa jadi penular. Yang rugi orang sekitar juga,” katanya.

sumber foto: IG @kemenkes_ri

 

Imunisasi MR Tak Melumpuhkan

Sempat beredar kabar, imunisasi MR dapat menimbulkan kejang-kejang, cacat, hingga autisme. Lembar informasi vaksin dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dari Departemen Pelayanan Kesehatan dan Kemanusiaan Amerika Serikat menyatakan, mendapatkan vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella) jauh lebih aman ketimbang mengalami penyakit campak, gondongan, dan rubella.

Penyakit campak dapat menyebabkan infeksi telinga, diare, dan infeksi paru (pneumonia). Di beberapa kasus sampai terjadi komplikasi peradangan otak dan dapat menyebabkan kematian.

“Sebagian orang yang mendapatkan vaksin MMR tidak mengalami masalah apa pun,” sebut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dari Departemen Pelayanan Kesehatan dan Kemanusiaan Amerika Serikat itu.

Beberapa kejadian yang mungkin dapat terjadi pasca-imunisasi adalah nyeri pada lengan akibat suntikan, demam, kemerahan atau ruam di lokasi suntikan, dan pembengkakan kelenjar di pipi ataupun leher.

“Sampai saat ini belum ada bukti yang mendukung bahwa imunisasi jenis apapun dapat menyebabkan autisme,” terang Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek dalam rilisnya.

sumber foto: IG @kemenkes_ri

Vaksin MR Boleh Digunakan

Polemik imunisasi MR berpusat pada halal-tidaknya vaksin yang digunakan. Beredar kabar, vaksin MR ini mengandung enzim babi. Sementara, babi itu haram hukumnya dikonsumsi umat muslim.

Nah, apakah vaksin MR itu mengandung enzim babi?

Rupanya tidak, sodara-sodara. Vaksinolog dr Dirga Sakti Rambe mengatakan, tidak ada vaksin yang mengandung enzim babi. Hanya saja ada empat jenis vaksin, jumlahnya tak lebih dari lima, dari 30 merek vaksin yang beredar di Indonesia yang dalam pembuatannya bersinggungan dengan enzim dari babi.

Bersinggungan itu, maksudnya, enzim dari babi dipergunakan tidak lebih hanya untuk membantu mengembangbiakkan bakteri pada media. Media itu memang membutuhkan enzim tripsin yang bersumber dari pankreas babi untuk dapat ditumbuhi kuman. Para peneliti pernah mencoba menggunakan enzim dari sapi. Namun, hasilnya tidak bagus. Kumannya tidak tumbuh.

Lalu, di beberapa vaksin, enzim itu juga dibutuhkan untuk membantu pelepasan bakteri atau kuman dari media tempat ia bertumbuh. “Jadi bukan kuman itu memakan enzim dari babi tersebut. Itu tadi, enzim itu, pertama, untuk menyiapkan media dan membantu pelepasan bakteri dari media tersebut,” katanya dalam talkshow di Rodja Tv.

Dokter peneliti khusus vaksin itu menjelaskan sedikit alur pembuatan sebuah vaksin. Vaksin terbuat dari virus atau bakteri, tergantung pada jenis vaksinnya. Nah, untuk mendapatkan antigen-nya, virus atau bakteri itu harus dibiakkan dalam sebuah media. Setelah mencapai jumlah tertentu, virus-virus atau bakteri-bakteri itu pun dipanen. Baru setelah itu, vaksin tersebut dicuci atau dimurnikan hingga didapat hasil yang diinginkan.

“Jadi tidak ada yang namanya tercemar inilah, tercemar itulah. Karena ada proses filtrasi itu tadi,” ujarnya.

Lebih lanjut, ustaz DR Erwandi Tirmidzi mengatakan bahwa hukumnya ‘boleh’ memasukkan kuman, yang sudah dilemahkan, ke dalam tubuh kita supaya tubuh mampu membuat antibodinya sendiri. Ini seperti kisah dalam perang antara kaum muslimin dan pasukan Romawi. Ketika itu, kaum muslimin menggunakan kuda untuk berperang, sementara pasukan Romawi menggunakan gajah.

“Kuda saat melihat gajah tentu takut. Lalu apa yang dilakukan panglima perang kaum muslimin? Ia memperlihatkan gambar gajah kepada kuda-kuda sebelum mereka berperang,” kisahnya.

Imunisasi itu dapat juga dianalogikan seperti orang tua saat mengenalkan alat-alat memasak pada anak-anak. Pisau, misalnya.

“Karena sudah tahu bahayanya, tentu orang tua tidak akan memberikan pisau yang asli pada anak-anak. Mereka akan memberikan pisau plastik,” katanya.

Sementara terkait kehalalan vaksin MR itu, Kementerian Kesehatan juga telah berupaya mendapatkan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Upaya itu mencapai hasilnya di awal bulan September ini. Yakni, berupa Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII). Ini vaksin yang direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia (WHO), mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), juga digunakan di 141 negara lain di dunia.

Fatwa itu menyebutkan bahwa penggunaan vaksin MR produk SII untuk program imunisasi dibolehkan berdasarkan tiga alasan. Pertama, memenuhi ketentuan dlarurat syar’iiyah. Kedua, belum adanya alternatif vaksin yang halal dan suci. Dan ketiga, adanya keterangan ahli yang kompeten tentang bahaya yang bisa ditimbulkan.

sumber foto: IG @kemenkes_ri

Wah, ternyata lebih mengerikan kalau tidak diimunisasi MR ya?!

Yuk, Buibuk, ikut sukseskan program eliminasi campak dan pengendalian rubella serta dampak SRK pada bayi yang baru dilahirkan! Sebab, perlindungan imunisasi memang diperlukan untuk generasi Indonesia sehat. [w]

sumber foto: IG @kemenkes_ri

 

Sumber Referensi:

※ Artikel tentang Fatwa MUI di http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180907/5927834/jalan-panjang-terbitnya-fatwa-mui-nomor-33-tahun-2018-rangka-mendukung-imunisasi/ diakses pada 27 September 2018

※ Artikel tentang fakta Imunisasi MR di http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/daftar-pertanyaan-seputar-imunisasi-campak/measles-dan-rubella-mr diakses pada 27 September 2018

※ Artikel di Laman Tempo.co https://nasional.tempo.co/read/1128861/vaksin-mr-dan-ancaman-penyakit-bak-kutukan diakses pada 27 September 2018

※ Artikel tentang Grace Melia dan Rumah Ramah Rubella di http://www.femina.co.id/true-story/grace-melia-pendiri-rumah-ramah-rubella?p=1 diakses pada 27 September 2018

※ Lembar Informasi Vaksin di http://immunize.org/vis/indonesia_mmr.pdf diakses pada 27 September 2018

※ Video Talkshow Rodja Tv

 

catatan: Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Kompetisi Media Sosial Kementerian Kesehatan RI 2018: Indonesia Sehat melalui Pencegahan Stunting dan Perlindungan Imunisasi.

29 thoughts on “Perlindungan Imunisasi Bagi Generasi Negeri

    1. iyaa kak eka..

      keponakanku juga ada yang enggak mau imunisasi MR. katanya, nggak boleh sama oom-nya. Oom-nya itu suamiku… Mesti kusodorin tulisan ini dulu kayaknya..

  1. semoga dedek memiliki kekebalan tubuh yang kuat ya kak… aku dah lupa tentang imunisasi ini pasal anak dah usia 17 tahun.. tapi dulu juga selalu bawa dia ke posyandu buat ikut imunisasi

  2. Keluarga iparku baru keguguran, ternyata dia positif virus rubella. Bagiku MR ini penting, sih. Alhamdulillah Aal Maryam udah kemarin2. Ikhtiar, semoga anak2 kita selalu dilindungi Allah. Walaupun ada beberapa keluarga yang tidak setuju krn beritanya banyak yang negatif soal MR. Aku yakin karena fatwa dari MUI udah keluar, DSA juga sangat menyarankan.

  3. Ya ampun… merindingnya aku lihat komplikasi akibat measles rubella ini Wennn… Sebegitu berbahayanya ternyata pada tumbuh kembang manusia. Sementara pro dan kontra vaksin ini selalu terjadi.

    Horor banget kalau sampai merugikan negara, berdampak pada generasi dalam suatu negara. Semoga Indonesia bisa bebas dari MR ini. Oh ya, sampaikan salamku untuk baby Abdillah.

    Dahagaku akan kerinduan membaca tulisanmu di koran dulu terbayarkan dengan ulasan yang super lengkap ini.

    Kuyakin ini tulisan bakal banyak membantu karena informasinya yang komplit.

    Sehat selalu adekku Wenny..

    1. terimakasih kakaaak..

      baby Abdillah rindu opungnya nii (bener nggak ya opung)

      merindingnya itu dengar cerita ibu-ibu hamil yang sedang senang-senangnya menantikan buah hati tiba-tiba terenggut karena virus ini.. #duh

      sehat terus yaaaa kak chay

  4. Serem ya Mba dampaknya.
    Aku sebenernya masih bertanya-tanya alasan orang yang menolak vaksin.
    Benarkah hujjah mereka kuat?
    Atau sekedar terbawa opini kemudian langsung memutuskan antivak?

    Saya sedang hamil. Klo ke tempat umum. Suka parno ngeliat orang sakit.
    Apalagi saat berkunjung kerumah sakit untuk kontrol kehamilan. Kadang duduk pun saya enggan.
    Kcuali klinik yang isinya ibu hamil semua agak nyaman saya untuk menunggu dg duduk.

    Karena saat hamil ini harus memikirkan kondisi kesehatan yg di dalam perut.
    Banyak pikiran negatif saat hamil.
    Smoga hanya sebatas pemikiran. Tidak lebih.
    Aamiin

  5. pernah denger kasus imunisasi palsu? nah ponakanku salah satu korbannya. jadi pas kelas 1 ponakan kena TBC dan di rumah nggak ada penderita TBC . Lalu kita trace ke belakang , kok sudah divaksin BCG masih kena TBC ya. Nah akhirnya kita tahu ternyata RS tempat dia imunisasi masuk ke dalam salah satu daftar rs yang dipasok vaksin palsu. Pertama tahu sempet kaget dan shock dong, artinya imunsiasi yang diberikan selama ini abal2 dan sempet konsul sama dokter untuk ngulang beberapa.

    Dan alhamdulilah sampai sekarang sehat

    1. berasa rugi gitu kan ya kalau dapet vaksin palsu. Rugi di dompet sih nggak seberapa dibanding rugi di badan.. semoga nggak terulang lagi kasus vaksin palsu itu ya om..

  6. Artikelnya bagus banget Wenceu. Buat lomba ternyata ya. Semoga menang.

    Aku baru tahu kalau Ubii itu dulu kena Rubella. Aku fikir karena hal lain. Tapi salut banget sih sama Grace yang luar biasa dalam merawat putrinya itu.

  7. saya pendukung vaksin
    bahkan tidak hanya yang dasar
    yang pendukung pun saya ikut
    karena anak pernah kena pnemunia
    setelah sembuh disarankan vaksin PVC
    saya ikuti..alhamdulillah sekarang ga kambuh lagi
    untuk MR belum..karena waktu vaksin di sekolah dia sedang batuk
    jadi tunggu dia sehat baru saya bawa sendiri ke dokter untuk divaksin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *