Jalan

Perjalanan Panjang ke Selatpanjang (Bagian 2 – Habis)

Meski sudah berada di satu provinsi, jarak Pekanbaru-Selatpanjang masih jauh. Di peta bisa saja ditarik garis lurus, sejatinya, berkelok-kelok dan kami harus tiga kali ganti armada. Lama dan melelahkan.

Kami memutuskan bermalam di Pekanbaru. Eh, memang harus bermalam sih, karena sudah terlambat untuk memesan tiket.

Badan sudah terasa penat. Abdillah pun sedari siang berada di gendongan. Kami butuh meluruskan pinggang.

Abah Abdillah sudah memesan kamar di Grand Tjokro. Jadilah, dari bandara kami langsung menuju hotel itu. Tidak jauh, alhamdulillah.

Abdillah langsung rebah sesampainya kami di hotel. Sembari dia bermain bersama abah, aku mandi supaya hilang segala penat diri. Setelah itu rebah di samping dan menyusuinya.

Tak butuh waktu lama untuk membuatnya tidur. Perpaduan antara kasur yang empuk, hawa kamar yang sejuk, dan rasa lelah sudah cukup sebagai bekal kantuk. Ditambah susu sedikit, lengkaplah ia.

Tidurlah, Nak. Mamak dan abah mau cari makan.

Pekanbaru-Selatpanjang hanya dapat dilalui dengan kapal. Pilihannya, namun, ada dua: dengan kapal cepat atau kapal lambat. Ada tiga perusahaan kapal yang melayani pelayaran dengan kapal cepat. Yakni Meranti Express, Nagaline, dan Garuda Forty. Sementara pelayaran dengan kapal lambat hanya dilayani oleh Kapal Jelatik.

Sebenarnya aku lebih memilih menggunakan Kapal Jelatik ketimbang kapal cepat. Sebab kami tidak harus naik-turun angkutan lain, cukup di satu kapal itu. Meskipun, lama —sore berangkat, subuh baru sampai.

“Abah risau Abdillah rewel kalau pakai Jelatik,” katanya.

Yawis. Aku ngalah. Ini kali pertamaku bepergian dari Pekanbaru ke Selatpanjang. Tentu dialah yang lebih tahu medan karena sudah berkali-kali bolak-balik Selatpanjang-Pekanbaru.

Ia pun mulai menelepon beberapa agen kapal cepat untuk memesan tempat. Ia ingin kursi VIP supaya tempat duduknya lebih lapang. Aku oke saja. Bedanya toh cuma Rp 10ribu saja dengan kursi standar.

Ia dapat kursi di Nagaline. Kapal berangkat tengah hari, pukul 13.00 WIB. Pukul 11.30 WIB, kami check out dari hotel dan bertolak ke Pelabuhan dengan taksi online.

Rupanya perjalanan dari hotel ke pelabuhan tidak lama. Pukul 12.15 WIB kami sudah sampai di pelabuhan. Kaget, mobil kami langsung diserbu orang. Pintu mobil dibukakan dan setiap orang lalu membawakan satu barang bawaan.

Mereka itu porter, ternyata. Beda ya pelayanannya dengan di pelabuhan atau bandara lain. Biasanya calon penumpang yang mencari porter atau setidaknya ada persetujuan kedua belah pihak dulu sebelum memutuskan pakai porter atau tidak. Ini, langsung diserbu dan main ambil barang.

Porter-nya itu, namun demikian, hanya dari mobil ke dalam pelabuhan, yang DEKAT! Tapi ya karena bawaanku banyak, tetap saja merasa terbantu. Nanti, dari dalam pelabuhan ke kapal, beda lagi porter-nya.

Kapal berangkat pukul 13.00 WIB lebih. Abah mengurus barang bawaan dulu. Kalau dengan kapal cepat ini, kami harus tiga kali berganti armada. Pertama, dengan kapal. Kedua, dengan bus. Dan, terakhir, dengan kapal lagi.

“Kalau pakai kapal aja, jalurnya berkelok-kelok. Bisa lama. Mungkin nggak pas di perhitungan ongkosnya makanya pengusahanya bikin pakai bus juga,” kata Abah.

Kami menaiki kapal pertama dari Pelabuhan Sungai Duku ke Pelabuhan Perawang. Kami dapat kursi baris kedua dari depan. Terlalu sempit, menurutku. Lagipum angin dari pendingin udara di dalam tetlalu sejuk. Aku lebih nyaman di luar.

Di teras kapal ini, ada bagian kapal yang bisa dijadikan tempat duduk. Biasanya untuk mereka yang merokok sebab disediakan pula kaleng cat besar yang kosong dengan sedikit air di bagian dasarnya.

Hanya empat pria yang ada di sana. Seorang pria duduk di pojok kiri, dua pria berbincang di sudut kiri seberang, dan satu lainnya di sudut kanan seberangku. Aku meminta Abah menyingkirkan kalen cat asbak itu ke seberang.

Di teras ini, aku justru merasa lebih nyaman. Udara bebas keluar masuk. Desiran angin alami ini membuat Abdillah nyenyak tidur. Asap rokok tak berhembus ke arahku. Abdillah aman.

Di teras kapal Nagaline.

Mungkin hanya 30 menit kami berkendara dengan kapal, tetiba kapal sudah hendak merapat. Penumpang lain mulai menghambur keluar kapal. Aku menunggu hingga sepi.

Pelabuhan Perawang ini seperti sebuah garasi yang besar. Kami memasuki garasi itu dan berjumpa dengan tiga bus besar. Pemegang tiket vip naik bus yang berbeda dari pemilik tiket biasa.

Bus ini mengingatkanku pada bus malam yang sering kunaiki saat pulang ke Semarang dari Jatinangor. Bedanya, bus ini agak lebih lembab dan sepertinya sudah lama beroperasi.

Kursi di dalam bus ini memiliki tatanan 2–1. Kami memilih duduk di barisan 2 kursi. Aku duduk di bagian tepi dekat jalan. Supaya agak lebih lapang bagi Abdillah yang sedang mendekap di gendongan.

Bus ini akan membawa kami ke Pelabuhan Buton. Perjalanan Perawang-Buton rupanya menjadi perjalanan utama dari rute Pekanbaru-Selatpanjang. Lama waktu yang kami tempuh di bus sampai 3 jam! Dan dalam kurun waktu tersebut sedetik pun mata ini tak bisa terpejam.

Di sebelah, Abah sudah mulai mencari posisi terenaknya. Menurunkan topinya dan mulai memejamkan mata. Ingin rasanya aku mengikuti caranya, tapi tak bisa.

Bus bergoyang mengikuti jalanan yang tak rata. Menerabas lubang besar yang menganga. Beberapa kali aku melonjak dalam duduk. Satu tanganku memegang Abdillah lebih erat. Tangan yang lain memegang Abah dengan tak kalah eratnya. Kalau jatuh bisa berabe.

Jalan aspal hanya sebentar. Setelah itu, tanah liat yang tak jua padat. Ketika ada lubang di tengah, sopir banting setir ke kiri. Bus meliuk mengikuti arahan setir. Tanpa babibu, sopir memutar setir ke kanan lagi dengan lihai. Yes! Lubang berhasil dihindari.

Tapi di kursi penumpang, nyaliku menciut. Aku seperti duduk di kursi roller-coaster. Tubuh ini seperti pegas yang melompat-lompat dari jok. Juga seperti yoyo yang dihempas kiri dan kanan.

Belum lagi ketika di depan ada bus atau kendaraan lain. Kami harus berbagi jalan sementara di jalur kami ada lubang. Tanpa berunding, si sopir tancap gas mengambil jalur samping, menghindari lubang, dan segera banting setir kembali ke jalur semula. Lihai betul! Tak tahu apa jantung ini mau copot dibuatnya.

“Selow, Pir! Bukan bawa barang ni di belakang!” teriak abah.

Tak tahan mungkin dia merasakan tangannya kuremas-remas. Harap maklum yaa… Takut jatuh, buk!

Bunyi grook grook terdengar dari atas kepala. Aku mendongak. Sumbernya dari lubang AC di atap bagian tengah bus. Maaak… Jangan roboh dulu.

Bunyi berisik itu berhasil membangunkan Abdillah. Padahal, sebelum ada suara itu, tidurnya nyenyak-nyenyak saja. Bocah kecil ini, kalau dilanda, jalanan terjal gitu malah pulas. Berasa ditimang-timang.

Beruntung kami segera sampai Pelabuhan Buton. Alhamdulillah. Rasanya, dengkul ini mau copot.

Sampai di Pelabuhan, kami harus berjalan kaki dari area parkir ke ponton atau jeti kapal. Nampak sih, tapi jauh juga. Ngos-ngosan sayah.

Perut mulai keroncongan. Kupikir ada kedai yang menjual makanan berat di sana, ternyata tidak. Ini semacam pelabuhan persinggahan saja. Hanya ada satu pedagang kelontong yang membuka kios seadanya di tepi ponton. Jualan rokok, minuman, dan makanan ringan.

Di samping kios kecil itu, ada pedagang musiman yang menjual buah sesap. Sejenis duku tapi masam. Kami membeli dua kantong untuk buah tangan mak di rumah.

Di kapal, penjual keliling sedang menjajakan minuman dan makanan ringan, juga buah sesap itu. Kami membeli dua bungkus tahu goreng. Cukuplah untuk mengganjal perut. Cukup juga jadi makanan sebelum minum obat buat Abah.

Sedang enak-enaknya mengunyah, Abdillah kentut. Feeling not good nih. Setelah periksa popok, eh benar, doi pup. Alhasil, buka celana juga di kursi itu. Soalnya, tak ada ruang menyusui di kapal itu.

Beruntung, kapal tak terlalu penuh. Kami mengambil kursi VIP di barisan pertama. Agak lapang jadi leluasa buatku mengganti popok Abdillah.

Setelah ganti popok, Abdillah tak lagi bisa tidur. Kuajak ia melihat ombak dari jendela. Dia senang tapi lalu merengek.

Ombak tenang hari itu. Alhasil, kapal juga tak terlalu terombang-ambing. Sepertinya, ini membuatnya bosan. Ketika kugendong berdiri, dia diam. Jadilah, aku berdiri hingga sampai Selatpanjang. Alhamdulillah tak lama.

Hari sudah senja saat kami tiba di Selatpanjang. Pelabuhan Tanjung Harapan sedang berbenah. Kami berjalan keluar pelabuhan.

Di tepian ponton, suara-suara orang menjajakan becak mulai terdengar. Abah mencari-cari muka yang ia kenal. Lalu memekik, “Becak, bang!” Seorang pria berlari dan menjauh dari kerumunan.

Di sini, kami tak payah mencari porter. Barang-barang bawaan akan langsung dipindahkan ke teras pelabuhan. Yang membawakan nanti, tukang becak itu tadi.

Sudah di becak, baru aku lega. Akhirnya sampai juga di Selatpanjang. Abdillah masih terjaga. Sampai tengah malam, ia baru bisa tidur. Kerabat senang ia datang dan mengajaknya bermain.

Hei, Nak, banyak sekali hal baru yang kamu saksikan selama perjalanan ini. Kamu nampak bingung tapi bibirmu masih menyunggingkan senyum. Terimakasih, Nak! [w]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *