Perjalanan Panjang ke Selatpanjang (Bagian 1)

Setelah sepekan berlalu, baru bisa kumenepuk pundak sendiri.

“Kamu bisa, Wen!”

Alhamdulillah. Memang terasa sekali Allah memudahkan perjalanan kemarin. Hingga kami bisa tiba di Selatpanjang dengan selamat.

***

Rabu, 29 Agustus 2018. Pukul 23.00 wib.

 

Astaga, ketiduran!

Ingin rasanya memarahi diri karena tak bisa menahan kantuk saat menyusui Abdillah malam itu. Tapi, sudah bangun pun rasa penat masih tertinggal di badan. Tandanya, ini capek beneran.

Kutengok Abdillah, masih pulas tidurnya. Mama, embak, dan duo krucils —Rayya Rafif terlelap di kamar sebelah. Berat rasanya hendak bangkit dari kasur tapi aku harus berkemas sekarang. Tak ada waktu lagi.

Aku beringsut menuju kamar mandi, membasuh muka. Lalu mengambil koper untuk membawa barang bawaan. Kembali lagi ke kamar, tidur Abdillah masih nyenyak.

Kukumpulkan baju, celana, dan barang-barang kebutuhanku dan Abdillah. Tak bisa semuanya dibawa sepertinya. Jatah barang bawaan hanya 20 kilogram. Lagipula, aku cuma berdua Abdillah. Sudahlah, cukup 1 koper, 1 ransel, dan 1 tas bayi saja bawaanku.

Mengemas itu tak susah. Yang berat adalah menata hati, menahan air mata jatuh ke pipi lagi. Sudah berapa kali dalam seminggu ini aku menangis, sedih membayangkan perpisahan dengan mama, embak, dan duo krucils. Sebab, pasti akan lama lagi bertemunya.

Pukul 01.30 wib, aku menyudahi kegiatan itu. Tidur. Esok perjalanan panjang dimulai.

***

Kami akan menumpang pesawat Batik Air ke Pekanbaru. Namun, sebelumnya, kami harus transit di Jakarta. Tak ada penerbangan langsung dari Semarang ke Pekanbaru.

Keberangkatan dijadwalkan pukul 14.50 wib. Artinya, aku harus sudah sampai di bandara sebelum pukul 13.50 wib untuk check in. Ibu yang membawa bayi tidak boleh melakukan check in online.

Bandar Udara Ahmad Yani baru saja berpindah lokasi. Jarak rumah ke bandara yang baru itu sangaaaat jauh. Waktu tempuhnya bisa mencapai satu jam. Padahal sudah lewat jalan tol. Aku menyetel waktu, paling lambat jam 13.00 wib sudah harus berangkat.

Rupanya molor! Jam 13.00 wib aku baru memesan taksi online dan taksi itu baru tiba 15 menit kemudian. Saat kuminta lewat tol, dengan santainya pak supir bilang lewat jalan biasa saja. Lebih cepat, katanya. Padahal, nyetirnya lambat. Rasanya jantung berdegup lebih kencang. Apalagi kalau jalanan tengah macet.

Pukul 13.49 menit, mobil yang kami tumpangi itu sampai juga di bandara. Didan, saudara sepupu yang ikut mengantar, membantu mencarikan porter. Aku bergegas menuju konter check in. Mama dan Rayya membuntuti di belakang.

Karena terburu-buru, aku tidak khusyuk pamitan. Cium tangan dan cium pipi kanan-kiri saja sama Mama dan Rayya. Padahal, dalam bayanganku, perpisahan ini akan berurai air mata. Alhamdulillah. Ya, meskipun, tetap saja Rayya berteriak-teriak jangan pergi dan menarik tanganku menjauh dari konter check in.

Sesampainya di konter check in, kupikir akan tertolak namun alhamdulillah tidak. Sebab ada keterlambatan. Dari yang awalnya harus berangkat pukul 14.50 wib jadi 16.00 wib. Lega.

Jadi lebih santai sekarang saat berjalan menuju ruang tunggu yang, Allahu Akbar, jauhnya dari konter check in. Tapi ada sebentuk rasa sesal karena tak bisa memeluk Mama dan Rayya. Aku sudah rindu.

Kakak Rayya sedih ditinggal Abdillah ke Selatpanjang

Abdillah sudah terlelap dalam gendongan. Menanti pukul 16.00 wib tidak melelahkan karena ada wifi gratis yang bisa dimanfaatkan. Ruang tunggu Bandara Ahmad Yani yang baru ini pun lebih luas dan nyaman. Hingga kemudian, muncul pemberitahuan bahwa keterlambatan bertambah 30 menit. Kami baru akan diberangkatkan pada pukul 16.30 wib. Padahal, penerbangan Jakarta —Pekanbaru-ku nanti dimulai pukul 16.55 wib. Panik.

Aku datang ke meja informasi. Kutanya solusi untuk masalahku itu. Mereka menjawab, penerbanganku selanjutnya akan disesuaikan dengan keterlambatan ini.

“Masih ada pesawat lain yang akan berangkat dari Jakarta ke Pekanbaru, Bu. Tenang, Ibu tetap akan sampai di Pekanbaru,” katanya.

***

Begitu masuk pesawat, Abdillah malah bangun. HA! Panick attack!

Ditambah lagi, kursi yang kupesan rupanya sudah diduduki orang lain. Terulang lagi deh kejadian di kereta dua bulan lalu itu. Karena malas berdebat, cukuplah aku panik karena Abdillah bangun saja, aku minta mba pramugari menguraikan dan menyelesaikan masalahku. Antrian sempat mengular waktu itu.

Rupanya, ada bapak yang berganti tempat duduk. Lalu mba pramugari bertanya apakah aku bersedia menempati kursi bapak itu. Aku mengiyakan saja. Ternyata bapak itu duduk di kursi deretan pertama setelah bangku VIP. Jadi lebih lapang. Kaki bisa leluasa bergerak karena tidak ada kursi di depan.

Alhamdulillah, batinku. Allah telah memudahkan.

Jadi sekarang aku bisa fokus pada Abdillah yang benar-benar baru ON. Mengikuti tips-tips yang sudah kubaca soal bepergian bersama bayi dengan pesawat, aku coba susui Abdillah saat pesawat take off. Dia nurut saja. Tapi belum juga pesawat stabil, Abdillah sudah mencabut mulutnya. Kusodori lagi malah berontak dan meronta. Haa.. Agak nggak enak sama bapak di sebelah.

“Nggak papa. Memang begitu anak bayi,” katanya saat aku meminta maaf karena sudah menciptakan keributan.

Suasana di Ruang Tunggu Bandar Udara Ahmad Yani Semarang

Di sisa perjalanan itu, Abdillah bangun dan minta main. Jadilah aku bermain-main dengan memposisikannya berdiri dan alhamdulillah, di bajunya ada mainan yang bisa berbunyi ketika ditekan. Dia amaze dan aku berhasil mengalihkan perhatiannya dari keadaan pesawat yang tenang.

***

Hari sudah gelap saat pesawat mendarat di Bandar Udara Soekarno Hatta di Cengkareng. Tidak ada garbarata, jadi aku harus menuruni tangga. Baru kali inilah aku menuruni tangga pesawat dengan sangat pelan. Si bos lagi tidur.

Beberapa orang berkerumun di samping tangga pesawat. Ketika kaki menjejak tanah, seseorang berseragam di antara mereka berteriak, “Yang transit Pekanbaru ke sini.”

Saya mendekat. Mereka meminta tiket dan kartu identitasku. Setelah memeriksa, mereka mengembalikannya dan memberi tambahan dua tiket baru. Pertiketan ini merepotkan karena harus membuka resleting tas, merogoh, dan menutupnya kembali dengan satu tangan. Sembari pundak menahan beban tas dan Abdillah.

Selesai masalah tiket, mereka meminta kami segera memasuki bandara. Mungkin ada 15 orang saat itu. Kami berjalan dan menaiki tangga ke bandara. Di bandara berjalan sebentar dan langsung menuju gerbang pesawat lagi. Alhamdulillah ada garbarata.

Kursi yang sekarang berada di tengah. Kursi samping diisi dua bapak yang sepertinya orang pemerintahan. Bapak itu menyarankan saya untuk menyusui Abdillah saat pesawat take off ataupun landing. Saya melakukannya dan Abdillah tidur. Alhamdulillah.

Abdillah di Ruang Menyusui Bandar Udara Ahmad Yani Semarang

Sepanjang perjalanan selama 45 menit itu ia tidur dan baru terbangun saat pesawat tiba di Bandar Udara Sultan Syarief Kasim II di Pekanbaru. Saya meminta tolong porter mencarikan barang bawaan. Porter pun mempersilakan saya menunggu di ruang nursery. Ruangan itu nyaman. Ada banyak sofa.

Tetiba, abah Abdillah datang. Dia meminta izin masuk untuk membantu membawa barang bawaan. Rasanya ingin nangis. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa berkumpul kembali. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *