Tentang Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga

♥ Nice Homework #2 ♥

Sejak lama, saya selalu berpikir, yang namanya ‘ibu’ itu ya harusnya di rumah. Ngurus anak, ngurus suami. Stay-at-home-mom gitu kalau istilahnya sekarang.

Namun, setelah bergabung di Institut Ibu Profesional (IIP), pandangan itu harus saya hapus. Seorang ibu tidak harus yang menyandang predikat ‘IRT ~Ibu Rumah Tangga’. Makanya sekarang ada istilah worked-mom.

Seorang ibu, yang profesional, adalah yang bisa seimbang dalam mengerjakan tugas dan membersamai anak dan suami. Lebih lanjut, mba fasil(itator) Marita Ningtyas mengatakan, ibu profesional adalah ibu yang mengenal dirinya sendiri. Tahu kebutuhannya, tahu passion-nya.

Ibu Septi Peni Wulandani, Founder IIP, bahkan mengatakan, “Pekerjaan dan membersamai anak itu bukan yang saling bertolak belakang tetapi bisa berjalan beriringan.”

Makanya, di IIP kami mengenal istilah ibu yang bekerja di ranah publik dan ibu yang bekerja di ranah domestik. Ibu yang bekerja di ranah publik itu ibu yang lokasi kerjanya di luar rumah, terikat kontrak kerja, dalam waktu yang terjadwal, serta mendapatkan gaji.

Sementara ibu yang bekerja di ranah domestik itu istilah untuk IRT. Lingkup pekerjaannya berkutat di area domestik atau rumah. IIP menyejajarkan keduanya.

Kenapa? Bukankah bekerja di ranah publik lebih besar tantangannya ketimbang yang bekerja di ranah domestik?

Hey hey belum tahu ngana. Kalau itu kerjaan domestik dijabarin satu per satu, 1 x 24 jam aja enggak cukup buat ngerjainnya.

Menjadi IRT bukan jaminan menjadi seorang yang profesional. Mba fasil pernah cerita, di lingkungan tempat tinggalnya ada anak yang putus sekolah. Padahal ibunya seorang IRT. Sudah beberapa kali diingatkan tapi tetap tak berkutik.

Jujur saja saya takut. Saya memutuskan menjadi IRT untuk bisa memberikan lebih banyak waktu dan perhatian pada anak, pada keluarga. Tapi bagaimana bila di tengah jalan fokus teralihkan karena urusan domestik yang tak kunjung kelar?

“Jangan ngoyo,” kata Mba Fasil, “Kerjakan yang bisa dikerjakan. Kalau merasa tak mampu, delegasikan.”

Asik sekali kan mendengarnya? Apa iya semudah itu melakukannya?

“Hati-hati dengan sifat perfeksionis. Sifat itu bagus kalau penempatannya tepat. Kalau tidak, justru membahayakan.”

Menjadi ibu profesional pada akhirnya bukanlah ibu yang mampu melakukan semuanya tapi ibu yang mampu mengatur semuanya. Menurut saya, kuncinya ada di pengaturan waktu.

Mama selalu ngomel setiap kali saya berlama-lama saat makan. Memang urusan ‘makan’ ini jadi PR bagi saya. Saya yang tak biasa makan banyak, sekarang harus makan banyak. Saya yang kadang bisa kenyang dengan minum susu sekarang minimal harus makan nasi. Saya yang biasanya jarang makan sayur, sekarang setidaknya sehari harus ada sayur yang masuk. Dan saya yang biasanya makan lama sekarang harus bersegera.

“Lihatlah yang mana yang prioritas,” kata Mama berkali-kali.

Setelah saya pikir baik-baik, Mama mungkin telah memenuhi syarat untuk menjadi seorang ibu profesional. Pengaturan waktunya sangat hebat —dan ketat. Apa yang sudah terjadwal dalam benaknya pasti terlaksana. Kecuali sekarang-sekarang ini, ia jadi mudah lupa. Mungkin bawaan usia.

Baiklah, skala prioritas ini juga nantinya akan dibahas di Kelas Matrikulasi IIP. Saya tak sabar menantinya.

Sebelum itu, saya harus membuat Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan terlebih dahulu. Baik ketika menjadi seorang individu, istri, maupun ibu.

Kata kuncinya ada di ‘kebanggaan keluarga’. Ibu sudah menjadi profesional ketika Ibu menjadi kebanggaan keluarga. Jadi ini murni titel dari anak dan suami ya.

Tau darimana kalau sudah menjadi kebanggaan keluarga?

Dari hasil diskusi dengan SSJP Ladies dan Mba Fasil, kebanggaan itu bisa dilihat dari cara bercerita anak dan suami ke teman-temannya. Kalau mereka bangga, biasanya, mereka akan menceritakan hal yang membanggakan itu ke geng mereka. Trus mereka biasanya cerita balik ke kita tentang tanggapan teman-teman mereka ketika mereka menceritakan hal yang membanggakan itu. Saya bisa melihat kita —para ibu yang membanggakan keluarga itu, tersipu malu dengan semburat merah muda muncul di pipi kanan-kiri. 😄😆😍

Baiklah. Ini daftar Indikator Profesionalisme Perempuan versi saya. Daftar ini saya buat dengan hint SMART dari IIP:

Spesific : unik atau detil
Measureable : terukur, contoh dalam 1 bulan
Achieveable : bisa diraih, tidak mudah namun juga tidak terlalu susah
Realistic : berhubungan dengan kehidupan sehari-hari
Timebond : berikan batas waktu

Indikator Profesionalisme Perempuan

A. Sebagai Individu

  • Sholat wajib di awal waktu
  • Sholat dhuha
  • Sholat tahajud
  • Dzikir pagi-petang
  • Baca Quran 5 lembar/hari
  • Baca QS. Al Kahfi setiap malam Jumat / hari Jumat
  • Mengeposkan tulisan di blog setiap hari Selasa dan Kamis
  • Ikut kompetisi menulis minimal sebulan sekali
  • Makan teratur
  • Berusaha berpikir positif
  • Tidak mudah panik

    B. Sebagai Istri

  • Bangun sebelum subuh
  • Berikan kecupan selamat pagi dan selamat tidur
  • Masak setiap hari
  • Cek isi kulkas setiap hari
  • Belanja secukupnya
  • Meminimalisir makanan yang terbuang
  • Menyiapkan teh panas di pagi dan sore hari
  • Menyiapkan baju ganti
  • Selalu wangi dan rapi di depan suami
  • Memijat suami di akhir hari
  • Usulkan jalan-jalan keluarga tiap akhir pekan
  • Mencatat uang keluar dan uang masuk

    C. Sebagai Ibu

  • Menyusui Abdillah hingga usia 2 tahun
  • Membuat cemilan sehat setiap akhir pekan
  • Memberikan pelukan dan ciuman pertama di pagi hari
  • Memijat Abdillah tiap selesai mandi
  • Bermain bersama Abdillah minimal 30 menit setiap hari
  • Membacakan Abdillah buku, minimal sehari 1x
  • Membuatkan Abdillah mainan, minimal seminggu sekali
  • Membaca buku atau artikel soal pengasuhan anak
  • Belajar masak
  • Merapikan rumah dan dapur sebelum tidur malam

    Daftar itu akan saya salin dan saya tempel di lemari untuk bisa saya centang-centong setiap hari. Daftar itu masih di titik awal. Ketika nantinya saya sudah bisa mengatur waktu dengan baik dan kondisi berubah, saya akan mengatur daftar itu lagi.

***

Nah, selesai sudah Nice Homework #2 saya ini. Mepet sekali dengan waktu pengumpulan. Hmmmm… Yang begini ini nih yang harus diperbaiki.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *