Cerita Wenny

Mari Menuntut Ilmu Menjadi Ibu Sukses nan Bahagia

♥ Nice Homework #1 ♥

 

Tentukan satu jurusan ilmu yang akan Anda tekuni di universitas kehidupan ini.

 

Ketika pertanyaan itu mendarat di hadapan, otak lalu berpikir, “Mau belajar apa lagi? Ngeblog, jualan, masak, atau jahit?”

Sudut lain dari otak pun menjawab, “Belajar apalah gitu yang penting bisa jadi duit.”

Suara dari dua sudut itu terus bertukar kata. Tangan saya masih berkutat dengan air dan busa sabun cucian. Piring kotor menumpuk.

Tetiba ada suara lain yang ikut nimbrung. “Sudah bukan waktunya lagi buat kamu ngejar dunia. Gimana kalau kamu mati besok? Sudah ada persiapan?”

Hedeuh.

Sebenarnya enggak pengin mikir itu dulu. Tapi, soal mati itu kan pasti. Waktunya saja yang entah kapan. Bisa cepat, bisa juga lambat.

Oh! Kenapa tidak mencari ilmu yang juga bisa jadi bekal untuk di akhirat sana saja? Masalahnya, ilmu apa itu?

Semua suara itu diam. Hingga terdengar satu suara berbisik: parenting —pengasuhan anak.

Hmmm. Iya juga.

Bukankah anak adalah ladang investasi akhirat yang sesungguhnya bagi orang tua?

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang shalih. (HR. Muslim no. 1631)

Mungkin saya tinggal ongkang-ongkang kaki ya nanti di surga, kalau anak-anak saya kelak jadi anak yang sholeh (dan sholehah)? hahaha. *😀

“Lagipula, bukankah itu yang kamu sampaikan pada Tuhanmu ketika kamu merayuNya agar memberikan seorang anak? Rayuanmu mempan. Doa dikabulkan. Lalu kamu kabur begitu saja dan membesarkannya asal-asalan?” suara itu terdengar lagi.

Oh, tidak. Saya tidak mau demikian. Mengasuh dan mendidik anak tidak bisa sembarangan ataupun asal-asalan. Saya ingin berusaha sebaik mungkin untuk bisa mengasuh dan mendidik anak-anak saya sebaik mungkin menjadi pribadi yang salih.

Saya ingin mempelajari cara mengasuh anak tetapi rasanya ada hal lain yang lebih saya butuhkan daripada itu. Hal lain itu: menjadi ibu. Saya butuh ilmu untuk menjadi seorang ibu. Seorang ibu yang tidak hanya sukses menjalankan segala tugasnya tetapi juga bahagia saat mengerjakannya. Termasuk di dalamnya, tugas mengasuh anak.

***

Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.

 

Saya terlahir sebagai anak bungsu. Ibu saya seorang yang bekerja di ranah publik. Waktunya terbatas untuk saya dan kakak saya.

Setiap hari saya ditemani pengasuh —dari pagi hingga petang ketika ibu pulang. Di akhir pekan, barulah kami bisa leluasa bercengkerama dengan ibu. Meski waktunya terbatas, saya tahu ibu berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan kami —fisik maupun jiwa.

Saya terbiasa mendapat perhatian lebih, pun terbiasa mendapat pertolongan —  tanpa saya minta sekalipun. Saya tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah, kecuali hal remeh seperti menyapu, mengepel, ataupun mengelap yang menjadi tugas saya semasa kecil.

Saya terbiasa disuruh, dititah untuk melakukan sesuatu. Saya sulit untuk memutuskan suatu hal. Apalagi kalau harus merencanakan sesuatu. Saya selalu dibayangi ketakutan rencana saya salah atau rencana saya tidak disukai.

Kelemahan itu semakin menyusahkan setelah saya menikah dan tinggal bersama ibu mertua. Setiap kali bangun tidur, saya bingung apa yang harus saya lakukan pertama kali di hari itu.

Bahkan untuk memasak saja, saya harus buka google demi mencari resep. Sudah dapat resep, masih terbata mencari bumbu, memilih peralatan yang akan dipakai, dan memilah step yang dilakukan agar lebih cepat.

“Masih awal. Nanti juga terbiasa,” ucapku menghibur diri.

Ada yang bilang, menjadi ibu itu soal insting. Tapi, insting saja bisa nggak jalan kalau sudah bertubrukan dengan hormon. Hormon yang mempengaruhi mood.

Ini seperti yang terjadi ketika awal melahirkan Abdillah, tiga bulan lalu. Saya sudah membaca seputar bayi-baru-lahir dan ibu pasca-melahirkan. Karena merasa banyak sekali yang harus saya pelajari dalam waktu singkat, saya pasrahkan pada insting.

Namun, apa yang terjadi? Perubahan hormon tanpa saya sadari telah merontokkan mood yang selama ini saya persiapkan. Panik dan bingung melanda jiwa. Hingga muncul perasaan tak mampu untuk merawat anak yang baru dilahirkan itu.

Lagipula menuntut ilmu itu sesuatu yang wajib. Seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)

Kalau sudah tahu ilmunya, kan bisa langsung diamalkan. Dan semoga saja berbuah surga. Aamiin.

***

Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan Anda rencanakan di bidang tersebut?

 

Strategi menuntut ilmu? Satu poin yang sudah terwujud adalah bergabung di Institut Ibu Profesional (IIP). Saya merasa berada di tempat yang tepat untuk bisa belajar menjadi seorang ibu.

Materi menjadi seorang ibu profesional itu ternyata banyak sekali. Kelas matrikulasi adalah permulaan. Selanjutnya masih ada kelas Bunda Sayang, Bunda Cekatan, dan Training for Fasilitator.

Poin kedua, berusaha mengatur waktu dengan baik.

Perkuliahan di IIP berlangsung secara online melalui Google Classroom (GC). Di sana dibagikan materi, tugas-tugas yang disebut dengan Nice Home Work (NHW), dan pengumpulan NHW tersebut, serta penilaian.

Diskusi dengan fasilitator dan antar-mahasiswi dilakukan melalui whatsapp group. Diskusi ini hanya berlangsung selama lima hari: Senin —Jumat. Di akhir pekan, IIP memberlakukan GFoSS —Gadget Free on Saturday and Sunday. Ini waktu khusus untuk keluarga.

sumber: Institut Ibu Profesional

Oya, jam-jam diskusi pun sudah diatur sesuai kesepakatan bersama. Jam diskusi di kelas saya berlangsung mulai pukul 20.00 sampai 21.30. Diharapkan semua bisa hadir dan aktif. Namun, kalau ada urusan mendadak tetap boleh izin.

Namun, mengatur waktu yang saya maksud di sini bukan hanya untuk kuliah. Melainkan juga untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga (bagi yang bekerja di ranah domestik, seperti saya) atau pergi kerja bagi mereka yang bekerja di ranah publik, mengerjakan blog, dan yang paling penting, membersamai anak-anak.

Saya masih keteteran untuk soal manajemen waktu. Nah, soal manajemen waktu ini juga akan jadi materi khusus di perkuliahan IIP. Tak sabar menunggu materi itu dibagikan.

Poin ketiga, berdiskusi dengan suami dan keluarga tentang kegiatan menuntut ilmu ini. Supaya mendapat restu dan kegiatan ini menjadi barokah bagi saya pribadi dan keluarga.

Poin keempat, menyelesaikan diri saya sendiri. Saya tahu masih ada yang mengganjal di dalam diri saya. Saya tidak terlalu yakin, sebesar apa ganjalan itu. Namun, ini sangat berkaitan dengan penerimaan diri saya.

Saya seperti masih berada di fase transisi dari lajang menjadi berkeluarga. Dari awalnya sendiri menjadi bersama. Kadang masih menginginkan ‘me time‘ meskipun tahu, itu sangat sulit terjadi. Dan juga masih malas harus begini dan begitu.

Sekarang, itu tidak boleh terjadi lagi. Inilah waktunya untuk mengubah sikap.

***

Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

 

Materi NHW #1 adalah adab menuntut ilmu. Dari materi yang dibagikan, saya merasa hampir semuanya saya abaikan. Apakah selama ini memang saya menjadi manusia yang tak beradab?

Pertama, ikhlas untuk belajar.

Terkadang memang muncul rasa malas untuk belajar. Semoga rasa terpaksa tidak muncul dulu sebelum saya menyelesaikan kuliah menjadi ibu profesional ini hingga tuntas.

Kedua, bergegas dalam menuntut ilmu.

Ketika berkuliah dulu, sering sekali saya terlambat datang. Namun, saya tetap dapat duduk paling depan. Kok bisa? Kalau terlambat kan harusnya dapat bangku paling belakang. Hmm… Teman-teman kuliah saya dulu memang senang mengosongkan bangku depan untuk tempat anak-anak yang terlambat. Semacam jadi hukuman bagi yang terlambat. Duduk di bangku depan artinya tidak bisa becanda ataupun terkantuk-kantuk selama perkuliahan berlangsung.

Ha! Tapi tolong garis bawahi keterlambatan saya saja. Saya terlambat, paling sering, karena kealpaan mengatur waktu.

Saya sering menyepelekan rentang waktu perjalanan saya. “Ah, paling cuma berapa menit saja dari rumah ke kampus,” begitu pikirku dulu.

Ketika bekerja pun demikian. “Rumah ke kantor kan cuma 30 menit. Berangkat jam segini juga nyampe. Nggak akan terlambat rapat.”

Lalu di jalan kehadang rombongan yang akan berangkat demo ke Kantor Walikota. SELAMAT, Anda baru saja terlambat!

Inilah sikap yang harus saya perbaiki: menyepelekan waktu. Saya harus lebih menghargai waktu.

Berbicara soal menghargai, poin ketiga untuk adab ini adalah menghargai sumber materi, menghargai guru yang memberikan materi, dan menghargai teman-teman yang sedang menuntut ilmu bersama.

Saya sering merasa sudah paham dan mengerti materi yang akan diajarkan hingga abai saat materi tersebut disampaikan. Saya baru menyadari, sikap itu adalah kesombongan karena jadi tidak menghargai materinya, tidak menghargai guru yang menyampaikan, juga tidak menghargai teman-teman.

Saya harus mengosongkan gelas saya ketika belajar. Sebab, pasti akan ada hal yang berbeda meskipun judul materi sudah pernah saya terima sebelumnya. Pengalamannya juga pasti akan berbeda.

***

sumber: Institut Ibu Profesional

Ini adalah NHW #1 saya. Doakan saya, sahabats, semoga bisa menuntut ilmu itu dengan baik. Dan lebih tepatnya lagi, bisa istiqomah mengamalkan ilmu tersebut. InsyaaAllah aamiin. []

 

Bahan Bacaan:

  • Orang Tua dan Anak Saling Mengangkat Derajat di Akhirat https://muslim.or.id/28700-orang-tua-dan-anak-saling-mengangkat-derajat-di-akhirat.html
  • Setiap Muslim Wajib Mempelajari Ilmu Agama https://muslim.or.id/18810-setiap-muslim-wajib-mempelajari-agama.html
  • Materi NHW #1 Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional tentang Adab Menuntut Ilmu

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *