JalanKeluarga

Pengalaman Kedua Berkereta Bersama Abdillah, si Bocah Lanang

KA Ekonomi Jayabaya Malang —Semarang

Alhamdulillah. Ada kesempatan untuk berganti kereta api. Kalau kemarin menumpang di KA Matarmaja, sekarang di KA Jayabaya. Sama-sama kelas ekonomi, tapi lebih lega. Lutut tak saling bersinggungan.

Hanya saja, jam keberangkatan KA Jayabaya itu tengah hari. Kereta ini berangkat pukul 11.45 dari Malang. Ini jam-jam Abdillah tidur. Meskipun nanti, agak jam 14-an dia bangun. Trus tidur lagi jam 16 atau kalau tak kunjung tidur ya baru bisa tidur ketika maghrib.

Daaan… Inilah dia. Pukul 14 dia bangun. Dibawa duduk enggak mau. Lebih betah dibawa berdiri di pintu gerbong. Sambil menyusu pula inginnya. Mamak isin, Dek.

Sudah menyusu, masih juga belum tidur. Saat sudah mulai merem, suara pemberitahuan dari speaker kereta – bahwa kereta akan memasuki stasiun tertentu, membangunkannya. Lalu kereta berhenti dan mata kecik-nya kembali terbuka lebar.

Sampai pukul 16 dia tak kunjung tidur. Nenek akhirnya mengambil alih. Kalau sudah dibawa nenek, pasti langsung tidur dia. Benar saja. Setengah jam setelah itu dia tidur. The power of uti-uti. Alhamdulillah.

***

KA Jayabaya tidak pernah berhenti di tengah jalan untuk mempersilakan kereta lain lewat. Ia hanya berhenti di stasiun-stasiun persinggahan. Namun, berhentinya lama.

Abdillah, kalau sudah begitu, rewel. Maunya berdiri. Maunya ditimang-timang. Lalu sumuk, gerah, dan kepanasan.

Apalagi saat berhenti di stasiun Pasar Turi Surabaya. Lamanyaaa… Mamak hampir nangis. Abdillah sudah haus tapi dia menyusunya harus sambil digoyang. Mamak sedang tidak bisa berdiri. Jadilah menunggu kereta bergerak lagi. Lah kok makin ditunggu rasanya malah semakin lama.

Sebenarnya mamak agak nggak nyaman juga karena kiri kanan itu cowok semua. Mamak agak risih nih kalau mau nyusui Abdillah.

Ngarep banget ada gerbong khusus perempuan gitu di KA. Atau mungkin ada gerbong khusus menyusui dan mengganti popok. Seperti halnya ada bilik menyusui di ruang-ruang publik. *plisdibaca,buMenteri

***

KA Jayabaya akhirnya sampai di Stasiun Semarang Poncol pada pukul 18.35 wib. Tepat waktu. Namun… (kenapa sih harus ada namunnya -_-) karena kami berada di gerbong 8, jadilah kami harus berjalan ke gerbong 4. Gerbong 8 itu gerbong paling buncit.

Dengan barang bawaan segitu banyaknya, kami bingung harus bagaimana. Nah, inilah untungnya kalau kanan-kiri cowok semua. Mereka mau membantu menurunkan barang bawaan.

bawaan segudang

Saya pikir mereka hanya akan membantu menurunkan barang bawaan sampai bawah gerbong 8. Lalu saya akan berlari-lari mencari porter.

Lah, ternyata, setelah dilongok, bagian bawah gerbong 8 itu langsung rel, bukan teras gitu. Mamak nggak sampai puyeng mikirin itu karena para pria itu mau membawakan tas sampai bawah gerbong 4.

“Tenang aja, Bu. Jalannya pelan-pelan. Keretanya berhenti lama kok di sini. Kami antar sampai depan,” kata pria itu yang menurut saya adalah si koordinator.

***

Brotherhood. Saya langsung teringat kata itu saat melihat pria yang duduk di depan saya mengenakan kaus bertuliskan Harley Davidson. Pria di sampingnya tidak mengenakan kaus yang sama. Warnanya saja yang sama-sama hitam.

Mereka berkelompok rupanya. Dua pria lain duduk di kursi samping. Dua lainnya berada di balik kursi mereka. Enam totalnya.

Orang komunitas apa nih? pikirku.

Saya sempat takut dan menyampaikan ketakutan itu pada suami yang berada berkilo-kilometer jauhnya dari saya.

“Gpp, Mi. Orang brotherhood itu biasanya baik-baik,” jawabnya menenangkan.

Yalah. Dalam hati kujawab begitu.

Kereta mulai berdecit lalu bergoncang pelan. Bangunan stasiun mulai berjalan menjauh. Berganti dengan bangunan-bangunan rumah dan pepohonan yang melambai-lambai.

“Berapa bulan, Bu?” pria berbaju Harley itu mengeluarkan suara.

“Tiga bulan,” jawab mama.

“Kalau di Indramayu belum boleh keluar tu, Bu,” timpalnya.

Pembicaraan lalu beralih pada stasiun pemberhentian kami. Mama menjawab Semarang.

“Oh. Semarang itu dulu tempat saya sekolah, Bu. Akpol,” sahut pria di sebelahnya.

Pria berkaus hitam itu memiliki wajah bulat. Kulitnya putih dan matanya sipit. Rambutnya sedikit botak di depan.

“Di Akpol? Berarti sekarang polisi dong?” tanyaku.

Pria itu tertawa.

“Yaiyalah, Bu,” katanya.

Heleuh. Iya juga ya… Pertanyaan macam apa itu. Namanya lulusan Akademi Polisi ya jadinya polisi dong. Hmmmm wenceuuu…

Sebenarnya saya heran. Mereka seperti yang bukan polisi. Santai saja gayanya. Pakai kaus dan jaket lalu bercelana jeans.

Mereka baru pulang liburan. Main motor trail di pelataran Gunung Bromo yang berpasir. Pas gerhana bulan tapi enggak sadar kalau lagi gerhana bulan.

“Kami biasa tugas lapangan. Jadi ya sudah biasa gaya begini,” jawabnya.

Mereka seperti intel tapi bukan intel. Apa ya… Anggota reskrim gitu ya kata mereka. Maaf lupa.

“Gpp, Mi. Orang brotherhood itu biasanya baik-baik.”

Lalu cerita bergulir ke pekerjaan mereka di lapangan. Sampai ke soal percintaan mereka. Keduanya ternyata masih jomblo. Katanya, susah cari perempuan yang percaya dengan tugas mereka. Ya bisa dipahami sih. Bukan cuma polisi saja yang tangguh tetapi menjadi istrinya pun juga harus tangguh.

Di akhir perjumpaan kami, ketika para pria itu selesai meletakkan barang kami di teras stasiun, mama mendoakan mereka. “Semoga segera dipertemukan jodohnya ya, Mas.”

Mereka tertawa lalu serentak mengamini.

***

Sesampainya di Stasiun Poncol, hari sudah gelap. Teras dalam stasiun tampak sempit. Ada banyak orang berkumpul di sana. Mungkin menunggu kereta.

Dari sekian banyak orang itu, mata saya mencari-cari keberadaan porter. Takut salah kira. Saya mencari tulisan porter yang biasanya ada di belakang seragam mereka.

Nah, itu dia. Saya mendapati seragamnya. Kemeja berwarna oranye terang dengan list hitam. Saya sapa ia dan ia langsung menengok.

Secepat kilat ia bergegas menuju tumpukan barang kami. Ia memanggul, menggendong, dan menenteng dalam sekali jalan.

Eh, rupanya dekat sekali dengan pintu keluar. Porter itu mencarikan taksi juga. Abdillah masih tertidur di antara ke-riweuh-an itu. Tapi begitu masuk mobil malah bangun. Hehe. Dasar bocah. Alhamdulillah. Tiba juga kami di rumah. []

14 thoughts on “Pengalaman Kedua Berkereta Bersama Abdillah, si Bocah Lanang

  1. Wuih.
    Klo saya mungkin sudah menyerah.
    Bawa barang banyak plus bayi.
    Heheh
    Syukur Abdillah anak sholiha yaa..
    Mesti rewel tapi masih bisa ditenangkan.

    Ikutan doain Pak Polnya juga ah.
    Smoga segera ketemu jodohnya.
    Aamin

  2. Aku selalu suka naik kereta api. Karena ya seperti ini, kereta api selalu punya banyak kisah menarik. Seneng ya kalo punya teman seperjalanan yang baik dan menyenangkan begitu 🙂

  3. Asyik juga ya naik kereta Jayabaya. Walau saya gak pernah naik, tapi jadi kebawa serasa naik kereta yang sama dengan tulisan Mom satu ini… enak ya lebih lega. BTW anak lanange lengket karo Mbah Uti ya…. di tangan mbah uti pulas dan lelap…. emaknya tinggak ongkang-ongkang… hehehe

  4. Xixi, aku baru sekali naik kereta api di Indonesia mba. Asik dan on time banget ternyata. Dari Surabaya ke Jogja walaupun naik kereta malam dan sampe subuh rasanya bahagia ngeliat wajah ngantuk temen-temen yg lucu, wkkk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *