Berada di Kelas Matrikulasi Itu …

Assalamualaykum, Sahabats!

Kali ini saya mau bercerita soal kegiatan baru saya. Kegiatan yang menyentak, menampar, mencabik-cabik, sekaligus merangkul sembari memberikan tepukan lembut di punggung saya sebagai ibu. Kegiatan itu adalah perkuliahan dasar di Institut Ibu Profesional (IIP).

Perkuliahan dasar ini disebut Matrikulasi. Sebenarnya masih belum bisa dibilang masuk ke materi utama tapi inilah dasar memasuki kuliah menjadi ibu yang pro. Fondasi awal kelas Matrikulasi disebut juga dengan Foundation.

Baru masuk aja sudah tertampar dan tercabik-cabik ya? Ngeri amat!

Hahaha. Lebay sih saya tapi memang itu yang saya rasakan.

Perkuliahan Matrikulasi baru akan mulai tiga hari lagi. Sementara yang sudah saya lalui adalah kuliah Foundation. Di situ sudah dibagikan beberapa materi. Satu yang mengena adalah materi tentang Manajemen Gadget. Itu materi untuk ibu tapi ngaruhnya bisa sampai ke anak cucu. Kok bisa? Ya kalau enggak pengin anaknya kecanduan gawai, ibunya harus bisa memenej diri dalam menggunakan gawai.

Memenej alias menggunakan gawai dengan efektif dan efisien. Kapan pakai, kapan harus berhenti. Memakai sih enak, menghentikan ini yang susah. Membatasi waktu penggunaannya itu juga sesuatu banget loh.

Saya sudah mencobanya. Saya berusaha untuk tidak pegang ponsel di depan Kakak Rayya supaya dia tidak pengin untuk pegang ponsel juga. Rupanya, karena kami barengan terus, jadilah ponsel itu tak terpegang sampai malam tiba dan ia sudah tidur. Banyak chat terabaikan. Medsos tak lagi terurus (memangnya kapan terakhir apdet?).

Tapi tak apalah. Sekarang saya jadi memanfaatkan waktu sebijak mungkin saat menggunakan gawai. Buka yang penting seperti chat wa suami, chat IIP, chat komunitas blogger, dan chat keluarga. Buka buat ngeblog, cari job nulis, cari info lomba atau kompetisi nulis, atau cari info kesehatan atau parenting.

Kalau kepepetnya harus pegang hape di depan anak itu paling buat pesan gocar sama telpon dan memotret sesuatu. Udah gitu ditaruh lagi. Sampai-sampai lupa itu gawai disimpan di mana.

Kenapa Kuliah di IIP

Ada banyak kampus di Indonesia, kenapa harus pilih IIP? Karena kampus yang menyelenggarakan perkuliahan buat jadi ibu itu ya cuma IIP. Tau darimana? Taunya dari postingan blog teman-teman yang sudah duluan kuliah di sana. Embak juga kuliah di situ. Sahabat saya semasa kuliah juga udah duluan kuliah di situ. Rekomendasi mereka: ikutlah!

Di IIP kami belajar, menjadi ibu bukan cuma butuh insting. Ibu juga butuh ilmu. Kalau kata Ibu Septi Peni sang founder, “Bagaimana mau mengajarkan adab pada anak kalau ibunya saja tuna adab?” Seperti tertusuk rasanya. Jleeb…

“Bagaimana mau mengajarkan adab pada anak kalau ibunya saja tuna adab?”

Dan akan banyaaaak sekali materi yang menempa kita menjadi layaknya seorang ibu yang pro. Yang bukan cuma ngurus dapur dan kasur tetapi juga urusan pendidikan anak. Ya, bismillah saja saya memulainya.

Berebut Kursi di Batch 6

Angkatan ke-6 mungkin begitu diistilahkannya. Batch 6 ini awalnya dibuka hanya untuk seribuan peserta se-Indonesia. Tapi akhirnya bertambah juga karena peserta yang mendaftar membludak.

Saya mengetahui info pembukaan batch itu dari sahabat saya. Langsung pantengin IG @ibuprofesional buat cari tahu detil kapan waktunya. Dari setiap postingan tentang pembukaan kelas, komen-komen yang masuk itu tentang betapa sulitnya mendaftar. Harus rebutan. Macam nyari sekolah.

Akhirnya ketika tiba hari pendaftaran, saya langsung siapkan laptop. Kakak Rayya dan Mas Rafif lagi main di luar. Abdillah tapi belum tidur. Jam sepuluh teng pendaftaran dibuka, sepuluh menit sebelumnya saya buka web ibuprofesional.com . Lah ternyata harus transfer uang pendaftaran dulu.

OGH!

Langsung aja cuss ke atm terdekat. Abdillah dititip gendong dulu sebentar sama mbak asisten rumah. Sampai di rumah lagi sudah pukul 10 lewat 15 menit.

Isi form dulu. Jawaban-jawabannya nggak pakai mikir! Apa yang terlintas langsung tulis. Kalau memang saringan masuknya itu dari jawaban yah, Wallahualam lah masuk-enggaknya.

Lima belas menit kemudian baru beres urusan pendaftarannya. Tutup laptop dan pasrah bisa masuk apa enggak. Di hari itu juga dapat pemberitahuan pendaftaran ditutup karena kuota sudah terpenuhi. Padahal masa pendaftarannya sebenarnya masih satu mingguan.

Ternyata Masuk!

Oh senangnya. Ini tandanya ikhtiar harus diteguhkan. Ikhtiar untuk menjadi seorang ibu yang amanah, seorang istri sholehah, dan perempuan yang berilmu dan berakhlak.

Perkuliahan dilakukan secara online melalui Google Classroom. Diskusi dilakukan melalui grup whatsapp. Saya masuk kelas SSJP Jateng 1. SSJP artinya Semarang Salatiga Jepara Pati. Jumlah pesertanya sampai 76. Kebayang dong sekali chat ada berapa? Ratusaaan… lebih!

Rame. Keramean sih. Ada yang bertanya, ada pula yang merespon. Soal respon ini ternyata ada aturannya juga di IIP. Pan kapan saya bahas di sini soalnya bakal panjang lagi.

Tulisan ini akan mengawali tulisan-tulisan saya berikutnya saat berkuliah di IIP. Saya kumpulkan tulisan-tulisan itu dalam tag #IbuProfesional dan #KomunitasIbuProfesional . Stay tune yaaa.

Bismillah. Semoga bisa lulus sampai akhir. []

 

Comments

  1. Widi Utami

    Hahaha, ratusan sampai ribuan chat belum terbaca ya, Mbak, semoga enggak kepleset pas manjat.:p

    Semangat Sampai Jadi Professional, bareng-bareng belajar dan menguatkan.:*

    1. Post
      Author
  2. marita ningtyas

    Kereen ih udah berhasil nggak pegang gawai di depan anak-anak… aku lo masih sering nggak berhasilnya hehe. Siiip, semoga istiqomah ya mbak. Semangat sampai jadi profesional ­čÖé

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *