#BaruJadiIbu,  Keluarga,  Kesehatan

Menambah Berat Badan Bayi Baru Lahir

Semakin ke sini, saya semakin yakin, seminggu pertama setelah melahirkan merupakan saat-saat sulit bagi para ibu, terutama ibu yang baru melahirkan anak pertama. Di minggu pertama ini, berat badan bayi biasanya turun sekian persen hingga 10% dari berat lahir. Ini yang suka bikin panik.

Abdillah terlahir dengan berat badan kecil, 2,7 kilogram. Di atas berat badan minimal, memang, alhamdulillah. Namun, tetap waspada pada penurunan yang bakal terjadi.

Seminggu pertama, berat badannya turun 4 ons jadi 2,3 kilogram. Ini sudah dua ons di bawah berat badan standar. Bibirnya kering. Pangkal dahinya cekung ke bawah, menampakkan tulang tengkoraknya. Ketika baju dibuka, nampaklah tulang dada yang terbungkus kulit. Tipis.

Saya dan suami kena marah dokter. “Bagaimana ngurusnya sih kok bisa sampai seperti itu? Anak pertama lagi!” begitu omelnya.

Saya antara sebel, sedih, sama pengin marah balik ke dokter itu. Menurut ngana? Memang kami pengin anak kami seperti ini?

Selama perjalanan pulang dari rumah sakit, kami tak berkata-kata. Gamang dengan kenyataan yang kami dapat. Sejuta pertanyaan muncul di kepala? Kok bisa turun banyak sih berat badannya? Tapi ngenyotnya kuat kok, kemana yang dikenyotnya itu? O pantes kok nangis-nangis kenceng. Duh, gimana ini kalau berat badannya turun lagi?

HA! Separuh takut, separuh lagi bingung apa yang harus dilakukan.

Sampai di rumah, saya juga kena omel neneknya Abdillah. Saya diam saja. Nggak mood saya menimpali omelan mama. Saya langsung mengambil Abdillah dan mencoba menyusuinya.

Well, apakah berhasil?

Alhamdulillah, sejauh ini, perkembangannya bagus. Di usia sebulan, beratnya sudah bertambah menjadi 3,6 kilogram. Kerja bagus, Le!

Ada banyak hal yang saya lakukan untuk membuat berat badan Abdillah naik. Ini beberapa yang menurut saya berkontribusi besar dalam penambahan berat badannya.

1. Keras Kepala Menyusui

Setelah divonis tidak becus mengurus anak, saya langsung minta dibelikan pompa asi. Yang manual saja, yang elektrik mahal.

Yang namanya mompa atau memerah itu rasanyaaaaaaaaa… cuma bisa gigit bibir saja. Pengin-nya teriak yang kencang tapi nanti anaknya bangun. Sakiiiiiiiiiiit sekali! Itupun nggak dapet!

Tahulah saya bahwa asi saya memang belum deras. Mungkin ini yang membuat Abdillah nangis terus menerus. Tapi kan lambung bayi baru lahir itu masih sangat kecil. Wallahualam. Rahasia Ilahi-lah itu. Saya malas mengulik-ulik penyebabnya. Yang saya yakini waktu itu, pasti ASI saya akan cukup untuk Abdillah. Titik. Itu saja.

Karena dipompa nggak keluar, saya peras sendiri pakai tangan. Hasilnya… satu tetes saja. SATU TETES! Ingin menangis rasanya.

Saya langsung menadahnya dengan sendok yang super duper kecil. Nenek yang kemudian menyuapkannya ke Abdillah.

“Cepet, Dek, udah kehausan ini.”

“Tuh kan, asi adek tu sedikit makanya dia nangis terus. Masih haus dia.”

“Makanya, kalau dibilangin mama tu yang nurut. Makannya yang banyak biar asinya banyak.”

Rasanya pengin kabur dengar omelan mama itu. Tapi da memang benar apa yang dikatakan mama. Saya hanya merapal, “Banyak, banyak, asiku banyak. Cukup, cukup, asiku cukup untuk Abdillah.” di dalam kepala.

Saat abdillah tidur, saya pompa asi. Saat dia bangun, saya susui dia lalu berikan asi yang sudah saya pompa. Beberapa hari kemudian, saya memutuskan untuk nggak mompa lagi karena Abdillah berhasil tidur di tengah proses menyusui. Ia mencabut mulutnya sendiri. Ini tanda dia kenyang. Alhamdulillah.

ilustrasi menyusui dari lullabytrust.org.uk

Selama menyusui, booster ASI saya banyak. Yang manjur hanya beberapa. Sampai sekarang, saya masih mengonsumsinya. Yakni,

  • sari kacang hijau
  • sayuran hijau, seperti bayam, katuk, gelandir, kangkung, ataupun kelor
  • klethikan marning jagung
  • jamu wejah
  • air putih

2. Pijat Bayi

Sejak kembali ke rumah sampai ari-arinya puput (hari ke-7 setelah lahir), Abdillah dirawat oleh bidan. Perawatannya meliputi mandi dan pijat. Sekali sehari saja.

Setelah itu, saya mencoba melakukannya sendiri. Mandi, sudah pasti. Pijat, saya usahakan setiap kali habis mandi. Jadi totalnya 2x sehari.

Saat memijat, saya upayakan mengajaknya mengobrol. Memintanya untuk bersemangat menyusu serta menjadi anak sholeh, cerdas, tahfiz Al Quran, dan keinginan-keinginan lain saya untuknya.

Wallahualam, pijatan ini berpengaruh untuk menambah nafsu makan bayi. Sebab, pijat itu disarankan oleh embak dan bu bidan. Pijatnya depan belakang, biar ngefek.

3. Rutin berjemur

Pukul 07.00 wib, wajib bagi Abdillah buat berjemur. Tidak lama-lama, 15 – 30 menit saja. Sebab, badan Abdillah kuning – meskipun dokter tidak memvonisnya berpenyakit kuning.

Namun, ini mungkin juga jadi salah satu jalan untuk menambah nafsu makannya. Sebab, dijemur itu kan bikin dia berkeringat, dia bergerak-gerak, kadang juga nangis-nangis. Nah, kan dia capek tuh, terkuras energinya jadi langsung mau minum deh. Hahaha, analisa pribadi.

4. Berdoa

Tiada rencana yang terlaksana tanpa doa. Kita tentu ingin anak kita bisa menyusu dan kita bisa menyusuinya secara eksklusif 6 bulan hingga 2 tahun. Kita akan mungkin menggapainya jika kita juga minta bantuan Tuhan.

Selain itu, saya juga sering menyugesti diri bahwa ASI saya cukup, enak, dan banyak. Sehingga kebutuhan Abdillah terpenuhi.

Nah, itu dia, Buibu, ikhtiar yang saya lakukan demi berat badan Abdillah bertambah. Siapa tahu ada yang sama bingungnya dengan saya waktu itu sekarang. Buibu ada tambahan cara? Ditunggu di komen ya.. []

28 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *