#BaruJadiIbu

#BARUJADIIBU : Popok Kain atau Pospak?

Akhir-akhir ini, benak sering di-sliweri keinginan untuk berhenti menggunakan popok sekali pakai (pospak). Alasan idealisnya, pengin ikut andil dalam gerakan zero waste. Alasan realistisnya, mahal.

Abdillah cukup boros pakai popok. Sehari, dia bisa ganti 6 sampai 8 pospak. Ini masih lebih mending daripada waktu baru lahir (newborn). Ketika newborn, dia bisa habis 12 pospak dalam sehari. Mamak geleng-geleng kepala. Eeknya sering sekali – alhamdulillah. Kalau eek gitu kan harus langsung diganti kan? Atau bayang-bayang ruam menghantui.

Abdillah memang sudah kenalan sama pospak sejak masih newborn. Tepatnya, seminggu setelah lahir. Popok kainnya cuma kepake selama seminggu aja. Setelah itu, popok kain cuma untuk selingan kalau muncul ruam. Usia sebulan, Abdillah sudah full pakai pospak.

Sebenarnya, mamak nggak pengin cepat-cepat pakai pospak. Aturan pakai pospak itu, kata bidan, kalau si adek bayi sudah lulus ASI di minggu pertamanya. Ciri-cirinya, intensitas buang air kecil dan buang air besar yang normal.

Infografis aktivitas BAB dan BAK bayi yang baru lahir. Dalam hitungan minimal ya.

Nah, pemakaian popok kain juga memudahkan si ibu, sih, untuk melihat intensitas BAK dan BAB si debay itu.

Etapi, di hari keempat setelah lahir, malah bu bidannya yang makein pospak. -___- Alasannya, waktu itu, karena Abdillah mau tanning (baca: berjemur, sok kali hahaha). Jadi biar nyaman pakai pospak, supaya nggak gonta-ganti popok gitu.

Alhasil, sejak saat itu Abdillah pakai pospak. Lagipula, pakai popok kain malah lebih boros. Boros sabun dan air buat nyuci. Ya abisnya, kalau popok kain gitu kan masih harus dilapisi lagi dengan celana atau kain bedong. Kalau popoknya basah, celana atau kain bedong itu ikutan basah. Harus gantilah, meskipun yang kotor cuma satu spot doang.

Ini yang namanya popok kain tradisional. sumber: intisari online.

Padahal udah nyetok banyak, sepertinya selusinan, tapi kok itu popok, celana, dan kain bedong masih habis juga dalam waktu dua hari saja. Kalau sudah keabisan gitu, pospak penyelamatnya. Begitu terselamatkannya, saya sampai berpikir kalau pospak adalah kado ‘terindah’ buat ibunda yang baru saja melahirkan. Terindah a.k.a efektif dan efisien.

Ketika masih newborn, Abdillah bisa sampai tiga kali ganti popok kain dan pelapisnya dalam sekali baring. Maksudnya begini, dia baru aja mandi dan udah pakai popok kain dan bedong lalu mamak tinggal cari baju. Pas mau makein baju, si popok udah basah. Ganti dong. Mulai lagi dari awal.

Trus udah selesai mamak dandanin dia, mamak tinggal narok cucian ke belakang. Pas balik lagi ke kamar, itu bocah udah golat-golet nggak keruan. Pas dicek, kain bedongnya dah basah lagi. Ganti lagi.

Clodi ini bisa disesuaikan ukurannya dengan tubuh dedek bayi. sumber: ecoclothdiapers[dot]in
Kalau cuma pipis sih enggak pa pa. Kalau eek, itu yang repot. Popok yang kena eek harus langsung direndam – tapi direndam aja kadang eeknya masih nempel, bagusnya di-sentor langsung pakai kran wc duduk.

Paling bagus lagi ya langsung cuci. Tapi pas baru melahirkan, buat jongkok itu sejuta rasanya apalagi tambah kucek-kucek, bisa teriak-teriak nggak jelas. Alhamdulillah ada yang nyuciin tapi jadi kesian kalau setiap hari harus nyuciin popok yang ada eeknya.

Neneknya sih tetap setuju pakai pospak. Alasannya, lebih praktis dan nggak banyak cucian. Mamasnya, Rafif, juga pakai pospak. Kakaknya, Rayya, dulu juga pakai pospak.

Cuman, sekarang kan, insyaaAllah, kondisi tubuh mamak sudah lebih oke nih, jadi kayaknya bisa kalau buat cuci-cuci popok yang kena eek. Dan, ditambah lagi, ada popok kain, yang biasa disebut clodi – cloth diapers, yang lucu-lucu di pasaran.

Ini contoh clodi. sumber: darlingsdownunder[dot]com
Ah, mamak suka lemah sama yang lucu-lucu nih, Nak. Gimana kalau kamu pakai clodi aja? []

20 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *