Tak Kaya Gizi, Susu Kental Manis Cocoknya Buat Apa?

Aneh rasanya kalau kata ‘susu’ pada ‘susu kental manis’ dihapuskan. Namun, sepertinya itu harus dilakukan untuk menghilangkan kesalahan persepsi yang ada pada masyarakat sekarang ini. Bahwa susu kental manis bukanlah susu untuk menambah gizi, terutama, pada anak-anak.

Apakah Susu Kental Manis itu Susu? – sumber: instagram @bpom_ri

Saya sedang menilik papa dari kaca ketika seorang perempuan berjas putih berdiri di samping saya dan mengetuk kaca. Di dalam ruangan, seorang pria, keluarga pasien yang terdekat dari kaca, menoleh. Perempuan ini segera mengangkat tangan dan memberi kode untuk meminta keluarga pasien itu keluar.

Pria itu keluar dari ruangan dan menghampiri perempuan tersebut. Di samping saya, mereka berbincang. Saya terjebak di dalam pembicaraan mereka.

“Pak, kok anaknya dikasi susu kental manis?” kata perempuan itu.

“Soalnya dia enggak mau susu dari sini, Dok. Dia mintanya itu (susu kental manis),” jawab si pria.

Rupanya pria itu ayah dari si pasien dan perempuan itu dokter, mungkin dokter gizi.

“Susu kental manis itu isinya cuma gula, Pak. Saya sudah pilihkan susu yang enak tapi banyak gizinya malah nggak diminum,” katanya, “Bapak yang harus kasih pengertian ke dia (pasien).”

Sang pria manggut-manggut sembari memberikan argumen bahwa bukan kemauannya memberikan susu itu pada anaknya. Dokter, namun demikian, masih melanjutkan omelannya.

Situasi itu terjadi awal tahun lalu. Saya jadi teringat situasi itu lagi ketika susu kental manis ramai diperbincangkan awal bulan ini. Yakni, ketika Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan surat edaran terkait aturan pelabelan dan iklan susu kental manis. Surat bernomor HK.06.5.51.511.05.18.2000 tahun 2018 itu memberikan penekanan bahwa susu kental manis tidak memiliki komposisi yang dapat melengkapi gizi, terutama, untuk anak-anak.

Definisi Susu Kental Manis. sumber: instagram @bpom_ri

Empat poin penting yang ada pada surat edaran itu, yakni…

1. Dilarang menampilkan anak-anak berusia di bawah 5 tahun dalam bentuk apapun.

2. Dilarang menggunakan visualisasi bahwa produk susu kental manis dan analognya (kategori pangan 01.3) disertakan dengan produk susu lain sebagai penambah atau pelengkap zat gizi. Produk susu lain itu seperti, susu sapi/ susu yang dipasteurisasi/ susu yang disterilisasi/ susu formula/ susu pertumbuhan.

3. Dilarang menggunakan visualisasi gambar susu cair dan/atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman.

4. Khusus untuk iklan, dilarang ditayangkan pada jam tayang acara anak-anak.

Sejenak saya mencermati berita, ada beberapa pendapat yang menilai kebijakan BPOM itu berat sebelah. “Komposisi susu kental manis itu sudah seperti itu sejak dulu, kenapa baru sekarang dipermasalahkan? Jangan karena satu produk tertentu jadi masalah buat yang lainnya.” Ya kira-kira begitu-lah nyinyirannya.

Memang, ada iklan produk susu kental manis yang menurut saya hits beberapa bulan terakhir – sebelum keluar surat edaran tersebut. Mendengar jingle-nya pun sudah ingat adegan-adegannya (keliatan sekali suka nonton TV-nya ya.. hehe). Namun, saya belum sampai pada keinginan untuk membeli susu itu.

Itu kalau saya. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Bisa jadi ada buibu yang tertarik untuk memberikannya pada sang buah hati. Atau, si buah hati yang tertarik untuk meneguknya dan merengek pada si ibu untuk membelikannya.

Buibu itu lalu melakukan survei pasar dan hasilnya: susu kental manis menang telak secara ekonomis. Harga susu kental manis terpaut satu nol dari susu formula atau susu UHT. Rasanya pun lebih manis. Kalau memang kandungannya tidak jauh beda, kenapa harus pilih yang mahal?

Namun, rupanya, Buibu, susu kental manis tidak memiliki gizi yang mumpuni untuk anak-anak kita. Menurut BPOM, kadar lemak susu pada susu kental manis tidak lebih dari 8% dan kadar proteinnya tidak lebih dari 6,5% untuk yang rasa plain. Makanya, susu kental manis tidak dapat digunakan sebagai pengganti susu formula atau susu UHT dan tidak boleh dikonsumsi anak-anak usia kurang dari satu tahun.

Susu kental manis, bolehnya, dikonsumsi sebagai topping minuman atau makanan, seperti pada martabak terang bulan, es krim, dan es buah. Susu kental manis juga boleh digunakan sebagai pencampur minuman atau cokelat, seperti pada kopi susu atau teh tarek.

Yuk, bijak konsumsi susu kental manis – sumber: instagram @bpom_ri

Tapi kenapa harus ada label ‘susu’-nya?

Pertanyaan itu juga menari-nari di pikiran saya. Kenapa tidak dihilangkan saja itu kata ‘susu’nya?

Kalau yang saya dapat dari BPOM, susu kental manis itu nyatanya memang termasuk dalam produk susu dan analognya. Sama halnya keju, yogurt, es susu, atau susu UHT.

Produk susu dan analognya. – sumber: instagram @bpom_ri

“Susu kental manis adalah produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh dengan cara menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan gula,” kata BPOM, “atau hasil pencampuran susu bubuk dengan penambahan gula, dengan atau tanpa penambahan bahan lain.”

Dalam proses pengolahannya, susu kental manis kemudian dipasteurisasi untuk menghilangkan kandungan mikroba dan dikemas secara kedap.

Ya, baiklah kalau susu kental manis tetap akan menyandang label ‘susu’. Kesalahan persepsi mungkin masih akan bisa terjadi. Namun… kesalahan persepsi itu tidak akan fatal¬†jika kita mau melihat label dari si susu kental manis.

Aturan terkait susu kental manis – sumber: instagram @bpom_ri

Yuk, Buibu! Mari mulai berdayakan diri untuk melakukan Cek KLIK sebelum membeli susu. KLIK itu Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa. Cek KLIK merupakan jaminan keamanan pangan yang akan kita konsumsi. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *