Keluarga

Eid Al Fitr 1439 H: Puaskan Dahaga Silaturahimmu

Assalamualaykum, kawan…

Pemerintah memberikan cuti Lebaran yang sangat panjang di tahun ini. Jika biasanya hanya dua atau tiga hari saja, kali ini sampai satu minggu. Yang tetap bekerja di kala cuti itu senang karena uang lembur besar, yang tidak kerja pun bahagia karena bisa bertemu keluarga. Kamu termasuk yang mana?

Tahun ini, Idul Fitri kedua saya sebagai ibu rumah tangga – ibu yang bekerja di ranah domestik. Panjang-pendeknya cuti Lebaran sebenarnya tak terlalu berpengaruh karena toh everyday is Monday. Selalu ada pekerjaan yang harus dikerjakan setiap harinya.

Namun, secara keseluruhan, cuti yang panjang ini membawa kebahagiaan. Bahagia lantaran bisa menghabiskan waktu bersama sanak keluarga. Silaturahim, begitu istilahnya.

Sejak hamil hingga melahirkan, saya sudah berada di kampung halaman di Semarang. Artinya, saya sudah kumpul bersama mama dan embak, yang alhamdulillah sudah pindah tugas di Semarang,-dan-anak-anaknya.

Hari pertama Idul Fitri, kami menghabiskan waktu di rumah dan pergi ke rumah mertua embak. Keesokan harinya, kami mudik sehari ke Sleman untuk berkumpul bersama kerabat dari pihak papa.

foto keluarga besar papa

Alhamdulillah, sebagian besar keluarga hadir. Ini sangat jarang terjadi. Biasanya, hanya pakde-bude saja yang datang – anak-anaknya tak datang. Kemarin, sampai cucu dan cicit pun hadir. Jumlahnya banyak! Rumah bertipe minimalis itu riuh dengan suara tawa anak-anak.

Ada kesenangan yang berbeda saat berkumpul bersama mereka. Mungkin karena di bulan-bulan sebelumnya, saya bertemu mereka dalam suasana duka. Saat itu, jangankan tawa, untuk tersenyum pun otak ini harus diperintah lebih dulu.

Anak-anak kecil bertambah tinggi dan menjadi dewasa. Batita sibuk mengoceh dan berlari ke sana ke mari. Yang sudah di atas lima tahun, bermain sambil berteriak-teriak kesenangan. Jujur, saya tidak hapal nama mereka semua.

Pakde-bude, om-tante bertambah kerutan di wajah. Beberapa lebih nyaman duduk di kursi ketimbang di lantai. Namun, yang sedang dalam pengobatan rutin tetap gembira saat bersua dengan yang lain.

Momen ini tentu harus diabadikan. Sebab belum tentu, formasi lengkap ini akan terulang lagi tahun depan. Mungkin baru terulang empat sampai lima tahun yang akan datang. Saat itu terjadi, perubahan akan semakin besar. Kami berfoto bersama.

Hari ketiga dan keempat Lebaran, saya bersantai di rumah. Tidak ada karib atau kerabat yang datang. Pun kami tidak mengunjungi yang lain. Ini karena sudah bertemu di Sleman.

Saya jadi teringat momen Idul Fitri di Selatpanjang, tahun lalu. Sanak keluarga Mak dan Abah banyak di sana. Rumah selalu ramai dikunjungi kerabat. Sebab di rumah masih ada Wan – nenek suami.

Di Selatpanjang juga ada tradisi saling mengunjungi ketika Idul Fitri tiba. Meskipun sudah bertemu di rumah, kami juga wajib mengunjungi rumah mereka. Kalau tidak, jangan harap tahun depan mereka datang ke rumah kita.

Suasana Lebaran bisa berlangsung satu atau bahkan dua minggu setelah Lebaran. Pokoknya, sampai kue kering dan minuman kaleng habis disuguhkan. Ramai, meskipun juga melelahkan.

Hari selanjutnya, barulah rumah ramai dengan kunjungan kerabat yang baru pulang mudik. Kini giliran keluarga dari pihak mama yang datang berkunjung. Sebab mama tak bisa mudik ke Cilacap dan berkumpul bersama keluarga di sana.

Ah, inilah yang bikin rumah ramai. Repot, karena ada satu balita, satu batita, dan satu bayi di rumah, tapi menyenangkan karena ada 4 crucils dan satu bayi yang hadir menyambangi. Alhamdulillah. []

25 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *