Keluarga

Eid Al Fitr 1439 H: yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti

Bismillah…

Setiap kali ada kabar duka, timbul pertanyaan dalam benak: “Siapa di antara orang tua saya yang akan duluan?” Secepat kilat segera saya tepis pertanyaan itu. Takut menjadi doa. Saya belum siap kehilangan.

Foto bersama mama dan tiga cucunya di Idul Fitri 1439 H

Namun, saat itu tiba juga. Rupanya papa yang lebih dulu ‘pulang‘. Ini Ramadan dan Lebaran pertama yang saya lalui di Semarang tanpa papa.

Saat Ramadan, perbedaan itu muncul di meja makan. Mama tak terlalu bersemangat menyajikan masakan. ‘Masak sendiri, dimakan sendiri,’ begitu katanya.

Dulu, ketika papa masih ada, makanan di meja makan selalu melimpah. Sampai-sampai tudung saji tidak muat lagi menutupinya. Takjil puasa berganti setiap hari. Masakan lengkap dari nasi, lauk, hingga sayur. Apalagi kalau anak-anaknya sudah datang dari perantauan, papa turun tangan untuk masak.

Sekarang, takjil puasa mengikuti selera mama dan ia hanya berselera pada satu: es blewah. Makanan, yang penting ada lauk. Sayur tak ada tak masalah. Makan pakai abon pun jadi.

Berat bagi mama. Ini bukan sekedar berbeda kota, provinsi, atau pulau. Ini sudah beda dunia. Sinyal ponsel tak mampu menembusnya.

Mama terisak saat Idul Fitri tiba. Biasanya, setelah Salat Id, mama dan papa duduk berdampingan di sofa depan. Bergantian saya dan embak bersimpuh meminta maaf. Idul Fitri kemarin, mama duduk sendiri.

Namun yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Papa pulang, Abdillah datang. Idul Fitri tahun ini, mama tetap berfoto berempat. Bukan dengan papa, embak, dan saya. Tetapi dengan tiga cucunya: Rayya, Rafif, dan Abdillah. Alhamdulillah.

Selamat Idul Fitri 1439 H kawan-kawan. Semoga bahagia selalu.

 

Tabik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *