#BaruJadiIbu,  Cerita Wenny,  Kesehatan

Dilanda Baby Blues Syndrome, Berjemurlah

Bisa nonton drama korea lagi sampai habis delapan episode dalam sehari itu rasanya anugerah sekali. Dan saya tidak menyangka, waktu luang saya sebanyak itu. Rasanya, dulu – di awal-awal kehadiran Abdillah, hampir-hampir saya tidak punya waktu sekalipun hanya untuk buang air kecil.

Mungkin inilah yang harus dilakukan para mamak-mamak-baru: jalani sesantai mungkin. Ya mungkin istilahnya itu berdamai dengan bayimu. Buat jadwalmu se-fleksibel mungkin dan bersenang-senanglah dengan bayimu.

Saya tahu, berkata-kata itu semudah membuang ludah di parit sementara menjalankannya itu seperti mencari ludah kita tadi di parit – memisahkan ludah dari cairan lain yang ada di sana. (Duh, Gusti, kenapa perumpamaannya harus seperti ini. Maafkanlah.)

Teman dekat saya berpesan untuk tidak stres ketika saya memberinya kabar kehadiran Abdillah. Saya pikir, kenapa harus stres? Memiliki anak bukankah bahagia?

Well, kenyataannya tidak seperti itu Nona.

Didera tangisan bayi 1×24 jam saja sudah membuat hati mencelos. Hal itu lalu terjadi keesokan harinya, keesokan harinya, dan keesokan harinya lagi.

Tanpa saya sadari, di antara pekik tangis Abdillah, hati saya menjerit dan pinggang merintih. ‘Kenapa sih Abdillah nggak diam-diam. Ngantuk nih. Capek nih.’

Tangan memeluk tapi hati memunggungi. Hmm.. mungkin inilah alasan ia selalu menangis dalam gendongan saya dan diam ketika digendong bapaknya.

Saya stress. Itulah stress yang tanpa permisi sudah menggelayuti diri. Saya menangis dalam hati, kenapa tidak ada yang bisa membantu saya menggendong dia. Kenapa neneknya tidak turun tangan saat dia nangis. Ayolah, saya belum pernah punya bayi sebelumnya. Saya tidak ingin bayi saya kenapa-kenapa. Lebih baik ia bersama tangan yang tepat daripada dengan saya yang bahkan tidak bisa membuat tangisnya berhenti.

Belakangan saya tahu, stress itulah yang disebut-sebut sebagai baby blues syndrome. Sindrom ini menjangkiti hampir 50% ibu-ibu baru pasca-melahirkan. Penjelasan ilmiahnya, karena tubuh tiba-tiba kehilangan hormon estrogen dan progesteron dalam jumlah banyak. Hormon yang dihasilkan kelenjar tiroid pun berkurang. Makanya mood pun berubah drastis, cepat lelah, dan perasaan tertekan. Usah menyalahkan diri, hal itu terjadi dengan sendirinya.

Tapi di saat itu, yang saya pikirkan adalah, kalau begini terus, kapan saya punya waktu untuk diri saya sendiri? Untuk mandi saya harus mencuri-curi waktu di sela-sela tidurnya. Bergegas supaya tidak keduluan dia bangun. Yang penting badan basah, sabunan, dan sikat gigi.

Makan pun harus cepat-cepat. Nggak ada cerita menikmati rasa makanan. Yang penting makanan itu masuk perut dan banyak! Setelah makan, buru-buru gendong Abdillah lagi.

Rasanya penat sekali. Susah sekali senyum saat melihat Abdillah. Sebegininya ternyata jadi ibu baru.

Hal itu baru berubah setelah kunjungan ke dokter anak untuk pertama kalinya setelah pulang dari rumah sakit. Berat badan Abdillah turun banyak. Tubuhnya kurus, lemah, dan mudah menangis. Dokter anak menceramahi saya dan suami.

Hati rontok seketika. Rasanya seperti tidak becus. Saya sedih.

Sepulangnya ke rumah, saya langsung bertekad untuk bersemangat mengurusnya. Waktu itu yang terpikir hanyalah bagaimana caranya biar susu masuk ke tubuhnya.

Saya bertukar-kata dengan sanak kerabat ketika mereka berdatangan ke rumah – atau kepada siapa saja yang datang ke rumah untuk menengok Abdillah. Sebagian besar memberikan tanggapan yang menenangkan dan menghibur juga pesan untuk makan yang banyak.

Keluar Rumah, Berjemur, dan Berceritalah

Bercerita ternyata menjadi satu terapi sindrom baby blues. Hal ini saya ketahui dari mahasiswa S2 keperawatan yang datang ke rumah untuk pendampingan ibu pasca-melahirkan. Pendampingan itu merupakan program yang dimiliki Puskesmas di sekitar tempat tinggal saya.

Mahasiswa itu tengah meneliti tentang baby blues syndrome atau depresi pasca-persalinan – tentang seberapa parah depresi yang bisa dialami ibu-ibu pasca melahirkan anaknya. Dia membuat sebuah situs untuk mengecek tingkat depresi para ibu. Nama situsnya: postpartum.tk . Silakan kunjungi jika berkenan.

Dua kali saya melakukan tes di situs itu. Alhamdulillah dua-dua-nya dinyatakan normal. Meskipun, kadarnya berbeda. Situs itu juga memberikan penjelasan terkait hasil pemeriksaan dan saran-saran untuk kita.

Dari konseling dengan mahasiswa itu, saya tahu ada dua hal yang bisa mengurangi stres pasca-persalinan. Yakni, bercerita dan bergabung dengan komunitas ibu menyusui dan berjemur matahari pagi.

Bercerita dan bergabung dengan komunitas ibu menyusui dapat meningkatkan rasa percaya diri. Dari sana kita tahu, kita bukan satu-satunya orang yang mengalami hal itu. Bukankah mendapat kawan membuat kita merasa lebih tenang?

Berjemur matahari pagi juga dapat mengurangi stress karena matahari pagi mengandung serotonin yang dapat membantu menjaga mood tetap positif. Jadi kalau mulai galau-galau, tinggal keluar rumah aja pagi-pagi dan berjemur setidaknya selama 15 menit. Yang bikin galau ya kalau mendung atau hujan turun di pagi hari. Nggak bisa berjemur deh.

Semoga tulisan ini bisa mencerahkan ya, Buibu, dan membantu untuk mengurangi stress yang mungkin sedang buibu alami. Jangan kelamaan stress, Bu, soalnya kondisi psikologis kita juga berpengaruh pada produksi ASI. Jangan sampai ASI-nya ikut mogok keluar, makin stress deh nanti. []

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *