‘Bye-bye’ Lahiran Spontan

Sejak awal – bahkan sebelum, hamil, terbersit keinginan untuk bisa lahiran spontan. Pasalnya, seperti embak, saya memakai kacamata dengan minus tinggi. Dan di kedua persalinannya, embak melakukannya dengan membelah diri alias operasi sesar.

Saya sepenuhnya yakin, kelak persalinan saya akan seperti embak. Namun, di trimester ketiga kehamilan, saya mulai memantapkan hati untuk bisa melahirkan secara spontan.

Saya mencari tahu tentang hypnobirthing – metode melahirkan minim trauma, memaksimalkan posisi dedek bayik di panggul hingga mudah dilahirkan, dan mengurangi makan nasi supaya dedek bayik tak terlalu besar untuk dilahirkan. Intinya sih, supaya saya nggak perlu ngeden atau mengejan untuk mengeluarkan dedek bayik.

Yah, manusia boleh berusaha, namun tetap Tuhan yang menentukan. Dokter menyatakan, saraf mata saya terlalu beresiko untuk mengejan dalam persalinan normal – yang kemudian saya tahu, kalau dipaksakan lahiran spontan, resikonya itu minus saya bisa bertambah selepas melahirkan hingga resiko kebutaan. Ngeri! Saya pun pasrah jika harus melahirkan melalui operasi sesar.

 

Jatuh di Selokan

Sebulan menjelang HPL, saya terperosok di selokan depan rumah. Lumayan, kaki bengkak sebelah. Jalan pincang. Sakitnya bukan kepalang.

Kalau dalam kondisi seperti ini, bukan kaki yang dipersoalkan, tetapi si jabang bayi. Banyak orang bertanya, apakah perut saya terbentur atau tidak. Seingat saya sih tidak.

Kaki kiri bengkak.

Kebetulan sekali, keesokan harinya adalah jadwal bertemu dokter. Dokter tidak melihat ada masalah dengan dedek bayik. Lalu dokter mempersilakan saya memilih tanggal persalinan. Ia mempercepat waktu persalinan satu minggu dari HPL. HPL saya jatuh di tanggal 30 April dan dokter meminta saya memilih tanggal di rentang waktu 23 hingga 29 April. Saya memilih tanggal 23 April.

Dua minggu kemudian, saya kembali kontrol ke dokter. Saya sampaikan padanya tanggal persalinan yang saya ingini. Namun, setelah memeriksa, dokter bilang, saya tidak bisa melahirkan di tanggal segitu. Persalinan dipercepat lagi.

Dokter bilang, dedek bayik sudah mendesak ingin keluar – makanya, ada rasa nyeri yang teramat sangat di perut bagian bawah. Kalau menunggu hingga tanggal 23, mungkin saya akan lahiran spontan dan itu tidak bagus untuk mata saya. Dokter tidak mau ambil resiko.

Saya pulang dengan hati was-was. Hari apa yang harus saya pilih. Bukan soal tanggal istimewa lagi yang terlintas di benak, melainkan soal bagaimana bisa membuat suami dan embak datang ke Semarang dalam waktu dekat. Sementara mereka sudah melaporkan cuti menjelang tanggal 23.

Namun, kekhawatiran dedek bayik sudah tak sabar ingin keluar membuat saya segera mengambil keputusan. Saya memilih tanggal 16 April, di hari Senin. Kalaupun suami dan embak belum datang, mau tak mau, hanya mama yang menemani. Dan kalaupun mama tidak bisa menemani karena harus menghadiri pelantikan pengurus organisasinya, ya tak apalah sendirian. Toh di meja operasi juga sendirian. #SokTegar

 

Pikiran Kacau Jelang Operasi

Setelah memutuskan tanggal operasi, dokter memberikan surat rujukan yang harus dibawa menjelang rawat inap. Ini karena saya menggunakan BPJS Kesehatan. Surat rujukan itu untuk memastikan saya mendapatkan kamar rawat inap.

Bukan main risaunya hati saya memikirkan apa yang akan terjadi di meja operasi. Bagaimana kalau begini dan begitu. Bagaimana rasa sakit setelah operasinya. Katanya, bakal lebih lama dari persalinan spontan.

Saya juga risau dengan kondisi anak saya nanti. Bagaimana kalau dia begini dan begitu. Belum lagi memikirkan suami bisa datang atau tidak. Kacaulah pokoknya.

“Bukannya seharusnya kamu senang mau bertemu anakmu?” tanya suami.

Iya juga, pikirku.

Dua hari sebelum hari H, saya pergi jalan-jalan bersama mama. Tujuannya, mencari bayam merah untuk booster Hb sekaligus cuci mata dan mencecap es krim untuk booster mood. Di hari itu juga, embak sudah datang. Ada rasa tenang yang terselip di dada. Tinggal menunggu kedatangan satu orang lagi.

H-1, saya santai-santai di rumah. Tujuannya sih untuk menenangkan diri sebab sore itu saya harus berangkat ke rumah sakit. Menginap semalam sebelum berjuang keesokan harinya. Saya cuma tidur-tiduran di kasur sambil menyetel yutub yang pada akhirnya cuma gonta-ganti kanal yutub karena bingung mau nonton apa.

Sore pun tiba. Saya berangkat bersama embak dan Rayya – anaknya, ke rumah sakit. Di saat yang sama, suami juga dalam perjalanan menuju rumah sakit dari bandara. Saya tiba lebih dulu darinya. Begitu melihat dia datang, rasanya sudah lebih tenang lagi. Embak dan Rayya pulang. Saya tinggal di rumah sakit bersama suami. []

Comments

  1. Sri Murni

    Hehehehe kata orang jelang operasi jangan stres… orang sih enak ya ngasih nasihat. Begitu nak masuk ruang operasi, kalau saya pasti keder dan stres… hehehe

    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *