Enak-Nggak Enak Lahiran Sesar

Di RS Roemani, ibu hamil yang ingin lahiran sesar harus mendaftarkan diri sehari sebelum persalinan. Jadi, jika saya menginginkan operasi di hari Senin, saya harus sudah datang ke rumah sakit di hari Minggu. Saya datang di Minggu sore.

Pendaftaran dilakukan di IGD. Berbekal surat rujukan dari dokter, saya mendaftar di lobi IGD. Saya pikir pendaftarannya akan memakan waktu lama. Rupanya tidak. Petugas hanya menelepon sekali untuk menanyakan ketersediaan kamar yang sesuai dengan kelas BPJS saya. Alhamdulillah, ada.

Saya langsung diberi gelang pasien – berwarna pink untuk perempuan dan diminta menunggu. Tak berapa lama, nama saya dipanggil masuk ruang pemeriksaan IGD untuk pemeriksaan awal tensi dan berat badan.

Lalu saya diminta pergi ke laboratorium. Letaknya, persis di samping pintu IGD. Di sana, darah saya diambil untuk dicek – seperti misalnya, kadar Hb saya. Saya lalu kembali ke IGD untuk pemeriksaan jantung.

Ketika rekam jantung itulah, suster memberitahukan jadwal operasi saya. Saya dijadwalkan operasi pada pukul 09.00 WIB dan saya sudah harus puasa sejak pukul 03.00 WIB. Puasa makan dan minum.

Pemeriksaan jantung adalah pemeriksaan terakhir. Setelah itu, petugas mengantar saya ke kamar inap. Saya menginap di Gedung Ayyub. Ini gedung khusus untuk perawatan persalinan ibu dan anak.

 

Sekilas Tentang RS Roemani

RS Roemani berlokasi di Jalan Wonodri. Persimpangan antara Jalan Sriwijaya dan daerah Pleburan. RS ini mudah digapai dari jalan manapun. Oiya, singkatan RS pada RS Roemani itu bukan Rumah Sakit, melainkan Rumah Sehat.

Saya memilih RS Roemani sebagai tempat bersalin karena dia pro-asi. Dulu embak melahirkan di Roemani jadi sedikit banyak saya tahu bagaimana perawatan pasca melahirkan di sana.

Karena pro-asi, Roemani tidak mengizinkan ada susu formula di kamar tidur. Ia mengharuskan para ibu yang baru saja melahirkan untuk melakukan IMD – inisiasi menyusu dini. Lalu juga mengharuskan si ibu untuk menyusui anaknya di hari-hari berikutnya.

Roemani juga bernafaskan islami. Pasca-melahirkan embak mendapat siraman rohani tentang apa itu nifas dan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika nifas. Sama, saya pun mendapatkannya. Dan, setiap kali petugas atau perawat masuk kamar mereka pasti mengucapkan salam. Jadi kita tahu ada yang masuk ke kamar meskipun tirai ditutup sempurna.

 

Proses Menuju Persalinan

Jadwal operasi saya hari Senin, tanggal 16 April pukul 09.00 WIB. Saya harus menjalani puasa mulai pukul 03.00 WIB. Karena saya masuk sore hari, pukul 16.00 WIB tiba di RS dan masuk kamar pukul 18.00 WIB, saya masih mendapatkan makan malam.

Rencananya sih mau makan sahur sebelum puasa. Ternyata oh ternyata, saya tidak bangun. Kebablasan tidur. Yasudah, bekal sahurnya ya makan malam itu.

Pukul 05.00 WIB, saya diminta untuk sudah mandi dan mengenakan baju pasien. Perawat datang bergantian untuk memeriksa tensi, detak jantung bayik, dan memasang selang infus. Termasuk juga mencukur bulu kemaluan.

Pukul 08.00 WIB, saya sudah diantar menuju ruang operasi. Di Roemani, aurat kita benar-benar dijaga. Perawat peremuan menjaga saya tetap tertutup dengan baju, jilbab, ataupun selimut. Sampai kemudian dioper ke perawat di ruang operasi.

Detik-detik dijemput perawat ke ruang operasi.

Di dalam ruang operasi, saya dipindah lagi ke meja operasi. Perawat langsung memasang segala bentuk peralatan di tubuh saya. Seorang pria tua datang dan mulai memeriksa sesuatu. Saya diminta duduk. Perawat perempuan memeluk saya dari samping kanan.

“Saya suntik ya, Bu. Mungkin sakit sedikit. Ditahan ya, Bu,” kata pria itu.

Saya merasa sengatan di tengah panggul. Tubuh saya tersentak dengan sendirinya. Perawat perempuan itu mengeratkan pelukannya.

“Sudah, Bu. Rileks saja,” kata pria itu lagi.

Rupanya dia dokter anestesi. Suntikan itu berisi obat bius untuk mematikan sementara bagian panggul-ke-bawah saya. Saya ditidurkan telentang lagi.

Kedua tangan saya terentang ke kanan dan kiri. Di lengan kanan, perawat memasang tensimeter. Tepat di atas dada saya terdapat tirai berwarna hijau. Di depannya, saya tahu, perut saya sedang menjadi tontonan.

Perlahan, kaki saya mulai kebas. Dokter anestesi meminta saya menggerakkan kaki saya. Otak sudah menyuruh bergerak tapi saya merasa mati rasa. Obat bius itu sudah bekerja.

Dokter Prima, dokter kandungan saya, datang. Ia melihat wajah saya sejenak dan menyapa, “Mbak…” Dia lalu memimpin doa bersama sebelum operasi.

Saya memilih menutup mata saat para dokter bekerja. Tapi dengan mata tertutup, saya jadi bisa merasakan banyak hal. Saya mendengar perbincangan dokter saat tangan-tangan mereka terampil bekerja.

Saya mencoba memikirkan hal-hal lain. Saya teringat lagu Sayang-nya Via Vallen yang saya dengarkan versi Tia sebelum saya berangkat ke Roemani kemarin. Saya segera menghapusnya dan mulai memikirkan Payung Teduh. Saya teringat lagu Nurlela versi mereka.

Tanpa saya sadari, saya mulai merapal dzikir. Lalu beralih ke ayat kursi yang diulang-ulang. Awalnya pengulangan itu utuh satu ayat. Hingga kemudian saya sadar, saya hanya mengulang-ulang kalimat awalnya saja, “Wahai Dzat yang Tidak Pernah Tidur…”

Suatu ketika, dua orang perawat mendatangi saya dan menyentuh perut atas saya. Ketika dokter memberi aba-aba, “Ya, dorong!”, mereka mengurut perut saya ke arah bawah. Kemudian saya tahu, mereka sedang mengeluarkan dedek bayik.

Sepertinya susah sekali karena saya merasa lama sekali. Dalam hati saya berkata pada dedek bayik, “Keluarlah anakku. Ayo, Dek, keluar.” Berulang-ulang saya memintanya untuk keluar. Setelah cukup lama, menurutku, kedua perawat tadi mengangkat tangannya.

“Untung segera operasi, Mbak. Ini ketubannya sudah tinggal 20 persen,” kata dokter.

“Sudah keluar, Dok?” sahutku.

“Sudah.”

“Kok saya nggak dengar nangisnya, Dok?”

“Itu masih kedengaran tuh. Sudah dibawa keluar, Mbak, di sini nggak ada penghangat soalnya,” jawab dokter.

Samar saya dengar suara tangisan bayi di kejauhan. Seketika itu juga, hati atau pikiran saya mendendang lagu Indonesia Raya. Entah apa maksudnya, mungkin mereka merasa merdeka. Ada air mengalir pelan di ujung mata.

Malu rasanya menangis di sana. Ingin menyeka tapi tangan masih terikat sana-sini. Lalu dokter anestesi itu datang lagi. Dia yang menyekanya. Sambil menyeka dia berkata, “Saya hapus airmatanya ya, Bu.”

Terharu saya. Sungguh, saya sangat berterimakasih. Muhammad Abdillah Rahman, begitu kami menamainya, sudah lahir ke dunia dengan selamat dan sehat. Alhamdulillah.

 

Pasca-lahiran

Setelah Abdillah keluar, kerja para dokter belum kelar. Mereka harus menutup perut saya dulu. Dan rasanya, lamaaa sekali. Lebih lama daripada menunggu Abdillah keluar. Padahal ternyata, sama-sama satu jam prosesnya.

Total, saya menghabiskan waktu dua jam di kamar operasi. Satu jam untuk mengeluarkan Abdillah dan satu jam sisanya untuk menutup perut kembali.

Setelah pekerjaan para dokter selesai, saya dibawa ke ruang persiapan keluar kamar operasi. Di sana saya dipasangi tensimeter lagi. Sembari menunggu perawat dari ruang inap menjemput saya, perawat kamar operasi membawa Abdillah. Ia menitahkan untuk IMD – inisiasi menyusu dini.

 

Bagaimana IMD itu?

Begini. Bedong Abdillah dibuka. Lalu baju operasi saya juga dibuka. Dedek bayik lalu ditengkurapkan di atas dada saya. Skin to skin – kulit ketemu kulit. Lalu punggung atasnya ditutup dengan selimut saya.

Mulut dedek bayik diletakkan di atas payudara. Ini untuk merangsang mulutnya menuju puting. Ya konon, anak bayik itu bisa mencium wangi puting dan mendekat ke arahnya.

Proses skin to skin ini terus berlangsung sampai saya sudah di kamar rawat inap. Idealnya, IMD berlangsung selama dua jam. Diharapkan, dalam dua jam itu, dedek bayik sudah mendapatkan ASI-nya yang pertama.

Begitu dua jam selesai, tidak juga harus dilepaskan. Kalau mau, dedek bayik boleh tetap berada di dada ibu. Yang dikhawatirkan hanya ibu bayi yang kelelahan dan tidak bisa memegangi si bayik tetap di dada.

 

Kamu Kelelahan?

Capek? Iyalah, bo’!

Meskipun saya cuma telentang aja, rasanya capek. Seperti ingin tidur yang lama. Namun, keinginan menggendong dedek bayik itu lebih besar. Perawat, namun demikian, meminta saya istirahat. Dedek bayik ditidurkan di boks bayi, di samping tempat tidur saya.

RS Roemani menetapkan aturan room in bagi bayi yang baru saja dilahirkan. Alhamdulillah, Abdillah tidak ada masalah jadi Abdillah tetap berada sekamar dengan saya. Paling-paling untuk mandi – dua kali sehari dan dihangatkan. Abdillah pernah dihangatkan sekali.

Karena room in, kalau si bayik nangis ya harus ditandangi dhewe alias ditangani sendiri. Kalau bayik nangis tengah malam ya harus diatasi sendiri. Nggak enak kalau harus manggil perawat, apalagi kalau dari pagi sudah sering manggil perawat karena butuh ini butuh itu. Segan rasanya mengganti popok juga harus manggil perawat – sebab, adek bayik berulang kali pipis dan pup. Sampai-sampai bawa popok kain dari rumah karena segan pinjam popok kain dari Roemani.

Nggak enaknya sih karena waktu itu saya sekamar berdua. Jadi takut tetangga sebelah keganggu waktu Abdillah nangis. Sudahlah itu nggak tahu nangisnya karena apa. Makin panik kalau nangisnya nggak habis-habis.

 

Mengabaikan Rasa Sakit

Kalau lahiran spontan, rasa sakit muncul ketika melahirkan. Kalau lahiran sesar, rasa sakit muncul setelah melahirkan. Lebih tepatnya, ketika obat bius sudah habis.

Ketika itu terjadi, adoooow sakitnya bukan main. Saya sempat teriak tapi karena nggak enak sama tetangga sebelah, jadilah diempet saja sakitnya. Dan begitu melihat si anak, sakitnya itu bukan apa-apa.

Saat obat bius habis, saya harus mulai menggerakkan kedua kaki. Padahal, membuat kaki geser sedikit saja sakit sekali. Saya juga harus belajar miring kanan dan miring kiri.

Di hari  pertama setelah lahiran, infus dan kateter dicopot. Saya harus belajar duduk dan kalau bisa belajar jalan karena sudah harus ke kamar mandi sendiri.

Di hari kedua, saya sudah harus bisa jalan. Alhamdulillah, di hari kedua setelah lahiran itu, saya sudah boleh pulang. Yeah!

Biasanya, ibu hamil yang melahirkan dengan operasi sesar baru boleh pulang setelah tiga hari perawatan pasca-persalinan. Ini untuk memastikan jahitan kering dan si ibu sudah dapat beraktivitas – setidaknya sudah bisa jalan sendiri.

Waktu itu saya sudah tidak betah tidur di rumah sakit. Meskipun makanannya enak dan dilayani, masih lebih enak tinggal di rumah sendiri. Waktu itu pun embak sudah mau terbang lagi ke Batam jadi kalau saya tidak pulang, mama bakal sendirian di rumah. Alhamdulillah dokter mengizinkan.

Nah, sebelum pulang, pengurusan administrasi sudah harus selesai. Suami yang wira-wiri mengurus administrasi. Alhamdulillah biaya persalinan ter-cover BPJS. Namun demikian, tetap ada biaya yang dikeluarkan. Seperti, biaya makan-minum suami selama di RS dan juga biaya beli ini beli itu. Saya beli korset setelah melahirkan di sana.

Sebelum pulang juga, saya dibekali pengetahuan cara merawat bayi baru lahir. Paling utamanya, merawat tali pusarnya hingga puput. Setelah itu, barulah kami boleh pulang. Alhamdulillah. []

Comments

    1. Post
      Author
  1. desyoktafia

    Selamat ya Kak atas kelahiran adek Abdillah.
    Saya terharu bacanya.
    Ada bagian yang mirip dengan kisah kami.
    mengingatkan perjuangan SC Khalid.

    Semoga segera pulih seperti sedia kala dan dedeknya sehat tumbuh menjadi anak sholih ya.
    Aamiin

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
  2. Juli

    Selamat ya, Kak. Semoga Abdillah jadi anak sholeh, berbakti pada orangtua.. aamiin. Sesar bisa IMD, jarang loh RS yang mau melakukan ini. Beberapa RS bilang IMD hnya utk ibu yang lahiran normal…hiks.

    Tapi aku kagum dg RS ini, bukan Rumah Sakit, tapi Rumah Sehat. MasyaAllah…

    1. Post
      Author
      wenny

      Taglinenya itu RS Roemani, Rumah Sehat Islami.

      Awalnya saya pikir juga kalau sesar gak bisa IMD. rupanya di Roemani yang namanya IMD itu tetap diutamakan.

  3. Lubnah Lukman

    selamat yah kak atas kelahiran ananda abdillah,

    sumpah aku mengiri loh klo ada yang SC namun langsung IMD

    aku ingat anak ke-2 saya SC saya sampe bersitegang sama dokter karena gak diizinkan IMD dengan alasan ditubuh saya banyak masuk obat-obat kimia 🙁

    1. Post
      Author
      wenny

      Saya juga bersyukur sekali bisa IMD, kak. Memang nggak semua rumah sakit punya prosedur IMD kak. Tapi akhirnya tetap bisa ASI juga kan kak, pas anak keduanya?

  4. Indy Ummu NeishaArfa

    Barakallahu fikum mbak. Semoga Abdillah jadi anak Sholeh dan penyejuk mata orangtuanya. Jadi ingat waktu lahiran. Walaupun normal tapi waktu lahiran anak pertama sempat ngalamin yang namanya induksi dan proses pengguntingan. Terasa sekali sakitnya sisa-sisa jahitan. Langsung ngebayangin kalau yg operasi pasti lebih sakit ya. Tapi begitu lihat anak memang semua ilang rasa sakitnya.

    1. Post
      Author
      wenny

      Jazakillah khairan Ummu NeishaArfa. Kalau yang pengguntingan gitu tetap menyisakan rasa sakit ya pas udah lahiran? Kalau yang sesar, sampai sekarang juga saya masih agak-agak ngerasa sakit, Ukh..

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
      wenny

      Makasih Ka. Saya bayangin suntikan itu macam digigit semut – seperti yang dibilang ke anak-anak jaman dulu. Lah, ternyata, gigitan semut aja lewaaat..

  5. Citra

    Wah….. Susah ya jadi emak mau sesar juga Ada plus Dan minusnya… Anyway selamat udah jadi emak…. Semoga anaknya tumbuh menjadi anak yang baik, amen

    1. Post
      Author
      wenny

      Terimakasih kak Citra. Mau lahiran spontan atau sesar tetap ada plus minusnya. Ayo mulai dipertimbangkan kak, mau spontan atau sesar… hehe

      Makasih doanya ya kak citra..

  6. Sri Murni

    Duh Mbak saya bisa merasakan saat-saat nak dibawa ke ruang operasi. Rasanya deg-degan bangets dan menangis. Tapi kalau saya syukurnya gak jadi sesar walau sudah tandatangan suami. Si oldest lady bisa lahir normal di saat-saat menjelang operasi. Ah baca tulisan mbak jadi kerasa lagi. BTW IMD itu sangat penting ya, walau rasa pertamanya geli dan bingung karena baru lahiran langsung menyusui. Hehehe

    1. Post
      Author
      wenny

      Jadi, lahirannya tetap di meja operasi atau gimana, Mba Menik?

      Iya, agak-agak gimana gitu sih pas IMD. Apalagi baby abdillah ini mungil jadi agak-agak takut mau nyentuh badannya.

  7. ruziana ina

    selamat ya atas kelahiran dedeknya..moga sehat selalu
    meski pas baca perut saya yang nyeri nyeri gimana gitu heheh
    mungkin ikut membayangkan prosesnya
    sehat sehat ya mba

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
      wenny

      Semangat kak. Yang enaknya sih ya, karena sakit gitu, jadi ada yang ngebantuin kita ngapa-ngapain. Nah, itu bentuk dukungan dan sokongan moril juga buat kita. Biar nggak galau abis melahirkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *