Cerita RayyaKeluarga

Kakak Rindu Bunda

Di usianya yang baru 4 tahun ini, Rayya sudah merasakan rindu – rindu ayah, rindu bunda. Ia sedang liburan di Semarang, sementara ayah dan bundanya giat bekerja di kota lain – di dua kota yang berbeda.

Permintaan berlibur di Semarang itu permintaannya sendiri meski mungkin ditentukan dengan emosi. Sebelumnya, ia merengek minta berlibur ke kota ayahnya. Hampir seminggu penuh, ia menangis minta bertemu ayahnya. Ayahnya bilang, sabar dulu, toh sebentar lagi ia bakal pergi ke Semarang. Mendadak, ia minta diantar ke Semarang.

Bunda, yang kebingungan karena drama tak kunjung reda, akhirnya meluluskan permintaan Rayya. Di akhir pekan lalu, ia membawa sang anak ke Semarang. Bertemu onti dan neneknya.

 

Rindu Berubah Haluan

Terhitung sejak Senin lalu, Rayya tinggal bersama saya dan neneknya. Apakah ia senang karena permintaannya dituruti?

Maybe Yes, Absolutely No.

Saya merasa dia mulai berpikir, permintaannya salah. Setiap hari, ia selalu berkata ‘rindu bunda‘, ‘ingin sama bunda‘, ‘kapan bunda ke sini‘, ‘kenapa bunda lama sekali‘. Dia sudah lupa pada rengekan ‘rindu ayah‘ ataupun ‘ingin sama ayah‘. Ya ini wajar. Lha wong selama ini dia tinggal sama bundanya.

Sedih rasanya melihat anak sekecil itu harus menahan rindu. Sebelum ditinggal, ia selalu memeluk bundanya. Ia menangis di pelukan bundanya sambil bilang, “Bun, kakak sayang Bunda.”

Malam hari sebelum bundanya pergi, ia meminta, “Bunda jangan pergilah, Bun. Bunda jangan tinggalin kakak.”

Di pagi hari menjelang keberangkatan, dia menahan tangis sambil berkata, “Bunda hati-hati ya nanti.” Tetapi saat mengantar di bandara, ia memeluk bundanya sambil bilang, “Kakak ikut Bunda…” Lalu menangis kencang dan tak mau melepas pelukan.

Sedih? Tentulah.

Di sepanjang jalan pulang, ia memeluk neneknya. Ia berkali-kali bilang kalau ia sayang bunda, ia rindu bunda. Belum juga satu hari berpisah, pertanyaan ‘kapan bunda datang‘ sudah berkali-kali diucapkan. Sampai bosan jawabnya.

Bukan hanya bosan, saya dan neneknya juga kebingungan kalau ia mencecar dengan kata tanya ‘kenapa’ dari setiap jawaban yang saya berikan. Blunder.

Ketika terdiam tanpa ada sesuatu yang dikerjakan, ia selalu mengutarakan rasa rindu itu. Hebat, pikirku. Anak sekecil itu sudah merasakan rindu yang teramat dalam dan ia tidak malu mengucapkannya.

“Kakak rindu Bunda.”

Kata Ibuk, Rayya seperti bundanya dulu. Bundanya juga menangis terisak-isak kala ditinggal papa dinas ke luar kota. Kalau saya, saya tidak pernah ingat menangis karena ditinggal pergi orang tua. Malah, tidak ingat pernah ditinggal pergi.

Saya baru merasakan kerinduan yang besar setelah menikah, setahun lalu. Saat diboyong ke Selatpanjang dan tinggal bersama suami. Rasanya beraaaat sekali menahan rindu pada orang tua maupun embak. Mungkin karena saya benar-benar sendiri dan memulai hidup baru dengan orang yang baru saya kenal.

Semakin ke sini, semakin mudah saya merasakan rindu. Rindu pada papa juga rindu pada suami. Ah, benar kata Dilan, rindu itu berat. Saat saya membandingkan apa yang saya rasakan dengan kondisi Rayya saat ini, saya menangis hebat. Beban rindu terlalu besar untuk anak sekecil itu.

anak cenderung lebih dekat dengan ibunya

Keinginannya Dituruti Semampunya

Kami – saya dan neneknya, tentu ingin membuatnya happy di Semarang supaya pikirannya teralihkan. Jadilah kami berpikir untuk menuruti apa yang ia mau.

Namun, di hari ketika bundanya masih ada di Semarang, saya merasa ada yang salah kalau menuruti semua kemauan anak. Ia jadi manja dan ketika ada hal yang tidak dituruti, ia tampak berpikir lalu meledak-ledak. Seperti menangis dan berteriak sudah jadi senjatanya.

Saya pun mulai berpikir untuk menuruti kemauannya sesuai kemampuan saya. Kalau memang tidak bisa, ya tidak usah dipaksakan. Kalau ia meledak, redakan dengan pelukan dan kalimat yang baik. Banyak artikel tentang pola asuh yang memberikan saya keyakinan bahwa semua hal bisa dikomunikasikan dengan anak. Kalau komunikasinya baik, anak tentu bisa mengerti.

Seperti saat ini, ia begitu ingin menyusul bundanya. Ia juga meminta bundanya ke Semarang, SEKARANG. Padahal saat itu jam 7 malam. Tentu susah menurutinya. Saya putar otak cari kata-kata yang bisa menenangkannya.

“Pesawatnya udah bobok jam segini kakak,” jawabku.

“Kenapa? Kenapa pesawatnya bobok?” tanyanya lagi.

“Karena pesawatnya capek mondar-mandir dari pagi.”

“Kenapa pesawatnya mondar-mandir?”

“Karena harus antar orang.”

“Kenapa harus antar orang?”

BLUNDER!

Menjawab pertanyaan anak kecil itu tidak mudah, Tuan. Tapi tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Saya harus yakin bisa. Mungkin inilah saatnya untuk mengenalkan ‘sabar’ dan ‘syukur’ padanya. Namun, sebelum itu, saya harus menjadi pribadi yang sabar dan bersyukur terlebih dahulu. This is Pe-eR.

34 thoughts on “Kakak Rindu Bunda

  1. Rayya usia berapa? Sepertinya sebaya dengan Ziqri anak saya.. Masih insecure dan ga bisa lepas dari ibu (dan ayahnya) plus kalau nanya dicecar terus ga kelar-kelar bikin mumet hehehe.. Ajak Rayya ke Wonderia aja Wen

    1. Rayya usia 4 tahun kak. Ziqri 4 tahun juga kah?

      Duh, kak, sehari-hari dia memang minta main ke playground tapi balik lagi, kalau diturutin terus, takutnya dia jadi manja. jadi kami batasi juga, meskipun dia ngerengek-rengek terus.

  2. Sedih juga ya kalo ada anak yang belum terbiasa pisah lama sama orangtuanya, karena bisa jadi hari ini kita berhasil menghiburnya, nah besok nya lagi ? biasa anak kalo sedang main bisa lupa kalo dia sedang rindu… namun setelah tidur paling sering bertanya banyak hal…
    Memang benar itu PR,PR bagaimana menjawab pertanyaan anak2 yang kadang kita sendiri gak tau cara menyampaikannya agar ia mengerti ,

    1. sebelum dan sesudah tidur itu, kak, saat-saat yang menegangkan soalnya dia bakal keingetan terus sama bundanya. modal pelukan sama kata-kata aja ini buat nenangkan dia.

  3. itulah seni jadi orang tua
    memang hidup sempurna ketika sudah jadi orang tua
    saya 5 tahun cuma hidup berdua dgn suami
    ketika punya anak duh bahagia dan penuh warna
    apalagi saat keluar kota dan anak nelpon bilang rindu
    duh nano nano rasanya

    1. dirindukan itu jadi merasa di-orang-kan ya uni.. bahwa hidup kita ini berharga untuk orang lain.. apalagi yang membutuhkan kita itu anak kita sendiri. masya Allah..

  4. Anak-anak sebesar ini hatinya memang sudah sticky dan attached pada ibunya. Berat banget buat mereka. Ingat salah satu ponakan saat dititip di kampung sementara adik saya berniat bekerja ke Taiwan. Masih di penampungan, tinggal nunggu berangkat. Ponakan yang umurnya baru 4 tahun itu berhari-hari mogok makan cuma bisa minum saja, sakit lemas karena menahan rindu pada ibunya. Sedih banget dengarnya. Ngilu, sekecil itu menderita. Saya jadi sedih dan ikut nangis. Alhamdulillah, adik saya memilih batal kerja dan pulang menemui anaknya.

    1. Waduh, kalau sampai mogok makan itu yang susah kak.. Alhamdulillah sekali ibunya nggak jadi pergi ya kak. Masih kecil gitu soalnya anaknya… Semoga sampai sekarang mereka masih bareng ya kak… Aamiin.

  5. Ini Rayya yang kita ketemu di rumah mbakmu di Nongsa Wen? yg dulu msh bayi… waaaah udh gede ya..

    Sabar ngadepin Rayya ya Wen.. namanya juga Rindu itu berat. Aku aja yg udh gede msh rindu terus2an ama ortu.. aku juga rindu kamu Wen.. ahahaha kapan lahiran??

    1. Iya kak Chay.. Yang dulu masih bayik sekarang udah menjelang gede dan punya pertanyaan yang banyak sekalik.

      Aku juga rindu kakak dan Batam. InsyaaAllah segera lahiran kak… Aamiin

  6. Kenapa pesawat harus antar orang? Soalnya orangnya mau kerja.
    Kenapa mau kerja? Soalnya biar bisa makan. Kenapa mau makan? Hihi gak abis abis ntar sampe Subuh…
    Sabar mbaWenny, saya juga masih belajar jawab pertanyaan anak. Kita pasti bisa ya 🙂

  7. walau anak sebandel apa, kadang kelakuan nya buat senyum senyum sendiri
    tapi gak tega kalau ninggalin anak
    hiks hiks

    walau gimanapun juga, kalau ada anak di rumah, bisa diisengin sambil bermain ceria

    menjadi cerita indah di masa mendatang

  8. Hehehe kemarin kami pun ada drama kayak gini juga.. Waktu aku ama Lala masih di Surabaya, sementara ayahnya balik duluan ke Batam karena kudu kerja. Si Lala sering tiba-tiba nangis kangen ayahnya…

  9. Ahh sedihnya kalau dia sudah bilang rindu bunda …
    Btw, sama umurnya dengan Aal. Dan kalau nanya, juga bisa beranak-anak. MasyaAllah. Sehat terus kakak…

  10. Hahaha Rayya mulai menyesali keputusannya… hehehehe… Anak-anak memang begitu ya, apapun ceritanya crucils sangat susah jauh dari bundanya… pasti ada drama rengekan dan minta pulang. Kayaknya jawaban pesawat da tidur da gak mempan ya Mbak…

    1. udah gak mempan mbak. apalagi terus dia dengar temannya bilang, “kalau malam aku liat pesawat terbang ada lampunya.” Nah loh, pesawatnya gak tidur kan Onti…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *