Ketika Diare, Ingat 6 Cara Atasi Diare dengan Tepat dan Benar Ini

Diare sering terdengar sepele, seperti halnya flu dan batuk yang biasa datang dan pergi tanpa permisi. Segera atasi diare dengan tepat dan benar supaya kondisi badan kembali bugar.

***

ilustrasi sakit perut dari clipsartstation.com

Awal pekan lalu, Ibuk mengeluh tak enak badan. Kepala pusing, perut mual, dan badan lemah. Saya tanya kenapa, Ibuk bilang, mungkin masuk angin.

Hari itu memang hujan lebat. Ia pulang dari kondangan dengan menerobos hujan. Di hari sebelumnya, ia juga sempat menerobos hujan. Kemungkinan besar ia masuk angin.

Tetapi, ada kemungkinan juga ia salah makan di acara kondangan itu. Saya tanya, ibuk makan apa saja. Dia bilang, makan bakso yang kebetulannya pedas, tetapi hanya satu butir saja yang masuk mulut. Ia pun menelepon teman yang sama-sama pergi ke kondangan untuk menanyakan kondisi. Si teman tidak apa-apa, hanya pening saja karena perjalanan jauh.

Tetiba Ibuk bangkit dari kasur dan berlari-lari kecil ke kamar mandi. Ia masuk cukup lama. Lalu keluar dengan muka ditekuk. “Kok air semua yang keluar, Dek,” katanya.

Ibuk minta dibaluri minyak kayu putih di dada dan perut. Sempat juga saya pijat telapak tangan – antara jari jempol dan telunjuknya. Konon, kalau sakit, berarti Ibuk masuk angin dan memang sakit katanya.

Namun, tak lama kemudian, dia berlari-lari lagi ke kamar mandi. Lantas keluar dengan ekspresi murung. Hasilnya masih sama. Lah, diare nih Ibuk.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan diare sebagai satu kondisi buang air besar (BAB) yang lebih dari tiga kali sehari dalam bentuk cair atau lembek. Kita orang menyebutnya sebagai mencret.

Di hari pertama itu, tiga kali lebih Ibuk bolak-balik kamar mandi. Sampai-sampai ia takut untuk kembali lagi ke kamar mandi. Hingga kemudian, di akhir hari, ia berhasil kentut. Alhamdulillah.

 

Saya sempat mencari-cari informasi seputar diare di internet. Mengejutkan sekali, diare ternyata menjadi penyakit kedua penyebab kematian balita di dunia, setelah pneumonia. Fakta itu dirilis WHO di tahun 2016 lalu. Organisasi PBB yang menangani permasalahan anak-anak dan ibu (UNICEF) sepakat bahwa ada 9 juta anak-anak yang meninggal setiap tahunnya, 1,9juta di antaranya disebabkan oleh diare.

Di Indonesia, diare menjadi penyebab utama kematian bayi balita. Temuan itu didapat dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) – di bawah bendera Kementerian Kesehatan, pada tahun 2007.

Lalu bagaimana dengan orang dewasa?

Pada tahun 2012, jumlah penderita diare di Indonesia sebanyak 2.843.801 penderita. Di tahun 2013, jumlahnya meningkat menjadi 4.128.256 penderita. Dan pada tahun 2016, jumlahnya menjadi 6.897.463 pasien. Banyak ya? Itu baru yang terpantau di fasilitas-fasilitas kesehatan. Diyakini, masih banyak pasien diare yang tidak memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

 

WHO, dalam penelitiannya, menemukan fakta bahwa masyarakat di negara berkembang, seperti Indonesia ini, rawan menderita diare. Ini disebabkan permasalahan sanitasi dan lingkungan yang cenderung masih kotor. Di situlah kuman, bakteri, virus, ataupun parasit bisa berkembang dengan senang gembira.

Kemenkes menyebutkan enam hal yang menjadi penyebab diare. Yaitu, infeksi – bisa dari kuman, bakteri, virus, ataupun parasit, malabsorbsi (kegagalan usus untuk menyerap zat makanan), alergi, keracunan, dan imunodefisiensi, dan sebab lainnya. Yang paling sering dialami masyarakat itu diare karena infeksi dan keracunan. Nah, kan, cucok sama fakta yang dipaparkan WHO.

Setiap kali ada anggota keluarga yang kena diare, kecurigaan pertama saya selalu jatuh pada makanan yang dimakan. Pasti ada salah makan. Apakah makanan itu terlalu pedas, terlalu asam, atau makanannya sudah basi.

Saya lalu teringat mi goreng yang saya panasi tadi pagi. Mi goreng itu sudah mengendap lama di kulkas. Daripada dibuang, coba dipanasi. Wong belum pernah dimakan. Setelah saya panasi, aromanya sedikit lain. Ibuk mencobanya, katanya masih enak. Ya mungkin, penciuman saya yang sedang sensitif, waktu itu. Tapi melihat kondisi Ibuk sekarang, saya yakin, mungkin mi goreng itu penyebabnya.

 

Meskipun di hari pertama Ibuk sudah bisa kentut, rupanya keesokan harinya tekstur feses Ibuk masih lembek, memang tidak seencer hari pertama. Tubuhnya lemas sekali, tak bertenaga. Ia tiduran saja namun begitu bangun, kepalanya langsung pening.

Jangankan makan, ngemil pun enggan. Minumnya tak sesering biasa. Yang saya takutkan, ia kena dehidrasi

Pada orang dewasa, diare biasa berlangsung selama dua sampai empat hari. Sementara pada anak-anak diare bisa menyerang selama lima hingga tujuh hari. Kalau sudah lebih dari itu, kita harus waspada.

Menurut WHO, ada tiga jenis diare yang bisa dialami orang dewasa maupun anak-anak. Ketiganya, yakni, diare akut dengan air, diare akut dengan darah, dan diare persisten. Ketiga jenis itu dibedakan dari lama waktunya. Diare akut biasanya berlangsung dalam beberapa jam atau hari. Penyakit kolera termasuk dalam kelompok diare akut dengan air. Sementara diare akut yang disertai darah disebut juga dengan disentri. Sedangkan diare persisten merupakan diare yang berlangsung lebih dari 14 hari atau dua minggu.

Jenis Diare dari akun instagram @bloggerperempuarn

Ternyata, ada juga kalangan ahli medis yang menggolongkan diare menjadi lima jenis. Jenis pertama, diare akut. Diare akut merupakan diare yang umum terjadi. Kedua, diare kronis. Diare kronis ini diare akut yang berlanjut hingga lebih dari 14 hari.

Jenis ketiga, diare osmotik. Diare ini terjadi karena terlalu banyak air di dalam perut. Perut pun kehilangan kemampuan untuk menyerap makanan. Biasanya disebabkan karena terlalu banyak konsumsi gula ataupun susu.

Jenis keempat, diare sekretori. Gejalanya mirip dengan diare osmotik. Namun, bukan karena gula atau susu. Jadi, kalau sudah tidak konsumsi gula dan susu tetapi masih diare, berarti ia mengalami diare sekretori.

Terakhir, jenis kelima, diare eksudatif. Diare ini ditandai dengan adanya darah atau nanah di tinja. Kalau sudah begitu, diare ini sering dikaitkan dengan radang usus besar, seperti penyakit Crohn atau Kolitis ulserativa.

Masih bersyukur, diare yang Ibuk alami masih pada jenis awal diare. Diarenya hanya berlangsung selama tiga hari. Dua hari bolak-balik wc dan sehari sisanya pemulihan bodi.

 

Penanganan diare yang tepat dapat menghindarkan pasien dari kondisi gawat darurat. Kunci atasi diare dengan tepat dan benar, menilik dari kondisi Ibuk, adalah minum air dan makan yang sering – meskipun sedikit-sedikit. Air untuk mengatasi dehidrasi sementara makanan untuk memberikan tenaga, supaya ia tak lemah-lemah kali.

Di hari kedua ia mengalami diare, saya buatkan misoa gambas kesukaannya. Hanya dua suap saja yang masuk. Ia minta roti selai kacang untuk makan siang, tapi hanya separuh saja yang dimakan. Sorenya, ia minta dibuatkan setup pisang. Ketika dimakan, hanya kuahnya saja yang masuk. Pisangnya mungkin hanya satu atau dua iris saja. Tak apalah.

Di hari ketiga, semangatnya mulai kembali. Ia mampu menghabiskan semangkok kecil bubur sumsum. Ia memaksa dirinya untuk makan dan minum. Ia juga sempat mengunyah daun jambu biji untuk mengatasi diare. Ayam tulang lunak membuka jalan bagi nafsu makannya untuk kembali. Meskipun, ia masih belum berani makan sambal ataupun sayur asam. Saya lega.

toilet room jadi bersih lagi dari hgtv.com

WHO memberikan lima langkah penanganan bagi penderita diare. Kelimanya:

  • Rehidrasi dengan larutan oralit. Larutan oralit ini merupakan campuran air, gula, dan garam. Oralit ini mudah diserap usus kecil dan dapat menggantikan kandungan air dan elektrolit yang hilang dalam feses.

Oralit bisa dibuat sendiri di rumah. Takarannya itu 1 liter air + ½ sdt garam + 8 sdt gula pasir. Air yang digunakan tentulah harus air masak.

  • Suplemen Zinc. Suplemen ini mampu mengurangi intensitas diare hingga 25% juga mereduksi volume tinja hingga 30%.
  • Rehidrasi dengan cairan infus, ini bila terjadi dehidrasi berat atau syok.
  • Makanan bergizi tinggi. Pemberian makanan bergizi dapat memutus rantai malnutrisi pada kasus-kasus diare. Pada anak-anak, ASI merupakan asupan kaya gizi yang mampu membantu menyelesaikan diare.
  • Pergi ke dokter. Terutama jika terjadi tanda-tanda diare persisten, diare berdarah, ataupun gejala dehidrasi.

 

Untuk berjaga-jaga, saya menyediakan entrostop, obat stop-diare. Selama ini, entrostop manjur untuk menghentikan diare. Saya, suami, dan ayah saya – rahimahullah, cocok dengan obat ini. Khasiatnya sudah terlihat, setidaknya, dalam sekali minum.

Entrostop ini mengandung 650 miligram attapulgite dan 50 miligram pectin. Fungsi dua komponen itu untuk menyerap racun dan bakteri dalam usus yang menjadi penyebab diare. Entrostop juga mampu mengurangi volume tinja cair dan mengurangi gerakan usus. Sehingga, mampu meredakan keluhan sakit perut juga.

Cara minum entrostop lain dengan obat untuk sakit kepala atau flu dan batuk. Entrostop diminum setiap kali habis BAB, bila BAB-nya masih cair. Dosisnya, dua tablet sekali minum.

Nah, sekarang ini ada entrostop khusus anak juga. Bedanya, tidak ada kandungan zat kimiawi di dalamnya. Entrostop anak murni dibuat dengan bahan-bahan herbal. Yaitu, ekstrak daun jambu biji, daun teh hijau camellia, jahe merah, dan ekstrak kunyit.

Tidak adanya kandungan obat dalam entrostop anak itu karena, biasanya, diare pada anak itu disebabkan oleh infeksi rotavirus. Tidak dianjurkan pemberian obat untuk infeksi dari virus tersebut.

Infografis tentang cara atasi diare dengan tepat dan benar

 

Itulah dia pengalaman saya seputar diare yang pernah menyerang Ibuk pekan lalu. Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Seputar Diare gelaran Blogger Perempuan Network dan Komunitas @ibuberAKSI . Ikutan juga yuk! []

 

Referensi:

  • Fakta-fakta diare menurut WHO diambil dari: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs330/en/
  • Fakta-fakta diare menurut Kementerian Kesehatan diambil dari Buku Saku Lintas Diare edisi 2011.
  • Data penderita diare di Indonesia diambil dari laporan Riskesdas 2007

Comments

    1. Post
      Author
  1. Mero

    Ternyata diare itu ada jenisny juga ya. Kalo kita mencret karena makan pedes bisa diare juga yak? Sekarang aku sensitif bgt ama pedes dan asam. Langsung mules.

    1. Post
      Author
  2. ruziana ina

    saya pernah direa
    luar biasa rasanya
    lemas dan tak bertenaga
    mau ke dokter juga mikir takut bocor di jalan
    cuma minum oralit di rumah dan obat warung
    tak mempan
    trus suami beli obat ke apotik..obat paten
    alhamdulillah reda

    1. Post
      Author
      wenny

      iya uni. daya tahan tubuh orang berbeda-beda. ada yang cuma minum oralit bisa sembuh. tapi ada juga yang seperti uni harus makan obat paten.

      semoga tidak terulang lagi ya, uni, diarenya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *