Jajan

Sarapan Bubur Manado ‘Mama Alyn’

Ini pertama kalinya saya mencecap bubur manado. Beruntung sekali lidah saya bertemu dengan masakan Mama Alyn. Rasanya tidak mengecewakan. Mungkin saya akan mencobanya lagi lain kali.

***

Sabtu pagi kemarin, ibuk dapat undangan senam lansia. Namanya juga senam, penyelenggaraannya pasti pagi. Senam itu akan dimulai pukul 06.30 WIB. Jadilah, kami berangkat dari rumah pukul 06.00 WIB. Sampai sana, baru satu orang peserta senam yang hadir. Ibuk memang ketat kalau soal waktu.

Perut masih keroncongan. Hanya sempat mengisinya dengan susu dan sereal sebelum berangkat. Snack senam sudah tersedia, penginnya sih nyomot satu, tapi oh, aku maluu…

Lalu di kejauhan kulihat sebuah foodtruck berhenti di tepi jalan. Wah, kebetulan sekali. Mungkin saya bisa sarapan sembari menunggu ibuk senam. Spanduk di mobil itu berbunyi: Bubur Manado.

“Enak tu, Dek. Ada bayamnya,” kata ibuk.

Tak terbayangkan seperti apa penampilan bubur itu. Hingga kemudian, senam pun dimulai dan saya mau tak mau harus menyingkir dari sana. Saya duduk di salah satu bangku foodtruck yang tersedia lalu memesan satu mangkok.

Porsi Besar

Begitu menu itu sampai di depan mata, kagetlah saya. Besar betul porsinya! Mangkok itu penuh terisi bubur dan bubur itu juga bubur yang padat – bukan seperti bubur ayam yang berwarna putih. Saya jadi teringat dengan nasi tim yang dijual di kedai-kedai bubur bayi kaki lima.

Bubur manado atau disebut juga Tinutuan merupakan jenis bubur yang sudah dicampur dengan aneka sayuran. Selain beras, sebagai bahan baku bubur, ada juga sayur bayam, kangkung, dan gelandir – daun ubi jalar, jagung, ubi, dan labu kuning. Teksturnya padat. Sampai habis pun, tidak ada air yang tersisa dari bubur itu.

Mama Alyn, si penjual, bilang, kalau bubur manado ini ada dua jenis: padat dan agak encer. Awalnya, dia menjual yang encer.

“Tapi orang-orang nggak suka. Soalnya, kalau dibungkus, sampai rumah cair,” katanya.

Di atas bubur itu lantas diberi topping ikan asin goreng tepung dan daun kemangi. Ikan asinnya benar-benar asin dan renyah. Kalau daun kemangi, saya tidak berani mencampurnya. Takut rasanya aneh.

Bubur ini disajikan dengan sambal ikan cakalang. Saya mencobanya, sedikit saja. Sambalnya enak lho, memang benar-benar ada ikan cakalangnya. Rasa dagingnya manis namun pedas di cabainya.

Lebih sedap memang kalau diaduk dengan sambal ikan cakalang. Namun, saya masih ada agenda senam juga pagi itu – di lain tempat. Kalau tetiba mules, kan nggak asik juga. Lagipula, bubur itu sudah pas rasanya, meskipun tanpa sambal. Rasa gurihnya tidak terlalu. Kalau ditambah ikan asin, barulah rasa gurih itu keluar lebih jelas.

Awalnya saya berpikir tidak mampu menghabiskannya. Ealah, ternyata habis juga! Hahaha, saya heran sendiri. Mungkin karena saya makan pelan-pelan jadi tanpa terasa habis juga.

Seporsi bubur manado ini bisa dinikmati dengan harga Rp 12 ribu. Kalau ingin membeli sambal cakalangnya, Mama Alyn juga menyediakan dalam bentuk toples plastik kecil (seperti toples selai). Harganya Rp 25 ribu per toples.

Dengan porsi yang begitu besar, saya pikir harga itu sangat pantas. Perut kenyang dengan kantong tak terkuras terlalu dalam. Pantas saja, pelanggannya hilir mudik – lalu lalang. Memang tidak sampai antri, tapi kedatangan pengunjung tak pernah putus.

Pukul 07.45 WIB, Ibuk sudah selesai senam. Kami bersiap pergi. Ketika Ibuk bertanya, buka sampai jam berapa, si Mama Alyn menjawab, “Sampai buburnya habis.”

Biasanya habis jam berapa?

“Sekarang juga udah mau habis ni, Bu.”

Laah… Cepat sekali yaaa…. Kalau suatu saat saya ingin mencobanya lagi, harus datang pagi-pagi nih! []

 

KONTAK

Bubur Manado Mama Alyn
Foodtruck Depan Bank Mandiri Taspen (Mantap) Jl MT Haryono – Semarang
IDR 12K

22 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *