Keluarga

Happy Little Soul, Panduan Memahami Anak dengan Penuh Cinta

Kalau melihat postingan akun instagram @retnohening, bawaannya happy melulu. Kirana, anaknya, itu loh, begitu lucu dan menggemaskan. Hayo, siapa yang baper pengin punya anak macam Kirana? Kalau mau nengok cara ‘bikin’-nya, Retno Hening sudah membeberkannya dalam buku Happy Little Soul. Sebuah buku panduan untuk memahami anak dengan penuh cinta.

***

Tanpa saya sadari, rupanya saya memiliki kecenderungan menjaga jarak dengan anak-anak. Alasan utama, saya takut dibodohi. Saya begitu mudah percaya pada perkataan anak-anak. Semua yang mereka bilang, saya ambil peduli. Bahkan kalau mereka minta sesuatu, tak kuasa saya menolaknya. Hingga kadang, mereka berbohong pun saya tidak bisa membedakannya. Teman-teman mengatai saya, “Sama anak kecil kok pinteran (lebih pintar, jawa) anak kecil.”

Belakangan, membaca banyak artikel pengasuhan, saya sampai pada kesimpulan: mendidik anak itu susah ya… Pola pengasuhan ‘kini’ jauh berbeda dengan pola pengasuhan ‘dahulu’. Satu contohnya saja, kita disadarkan untuk tidak menggunakan kata ‘jangan’ saat berhadapan dengan anak. Carilah kata-kata penggantinya.

Hal itu membuat saya lebih menjaga jarak pada anak-anak. Saya takut salah ngomong, terlebih pada balita – bawah lima tahun. Anak balita berada dalam masa-masa emas. Otak mereka sedang aktif-aktifnya mencerna kata-kata dan merekamnya dalam memori bawah sadar. Kalau salah ngomong, nah loh, kebawa sampai tua gimana?

Namun, saya mulai merasa salah sikap setelah membaca Happy Little Soul. Buku karya Retno Hening itu menyadarkan saya bahwa tidak masalah bermain dengan anak-anak, tidak masalah untuk memperhatikannya, tidak masalah untuk berbincang dengannya meskipun mereka belum bisa berbicara, juga tidak masalah untuk mempedulikan segala perkataan dan tingkah lucunya.

Bahwa kita tidak selalu harus tahu tentang segala sesuatu. Namun, kita berusaha untuk tahu. Justru melalui anak kecil-lah kita belajar memperbaiki diri.

“Memiliki Kirana membuat saya lebih banyak belajar, bersabar, tidak egois, dan terus bersyukur.” ~ Happy Little Soul p29.

Kirana, Itu Namanya

Happy Little Soul bercerita tentang keseruan Retno Hening bermain bersama anaknya. Anak itu bernama Mayesa Hafsah Kirana. Ia memanggilnya dengan nama Kirana.

Kalau kalian sering berselancar di instagram, nama Kirana dan Retno Hening tentu sudah tak asing lagi. Kirana menjadi selebgram melalui akun mamaknya @retnohening. Followernya sudah mencapai 1,1 M. Setiap postingan yang dibagikan Retno Hening dalam akun tersebut menuai, tak kurang dari, 100.000 likes.

Karena ketenaran Kirana itulah, tim Gagasmedia mengajak – kalau dalam bahasa Retno Hening, membujuk rayu-nya untuk menulis. Menulis kisah pola asuhnya pada Kirana dan lahirlah buku Happy Little Soul itu.

Tidak seperti artis yang selalu nampak ideal, Kirana memiliki sisi menarik yang lain. Anak itu sungguh pandai, lucu, dan menggemaskan. Ia lugu namun penuh perhatian. Ia kadang membikin malu ibunya, tapi tak pernah merasa malu. Kalau ibunya bilang, “Curhat apapun dengan Kirana, pasti ada solusinya.” – Solusi yang sebenarnya sudah kita ketahui tapi tak pernah kita akui. Layaknya anak-anak, pemikiran mereka masih sederhana.

Retno Hening membuka pengalamannya dalam Happy Little Soul dengan bercerita tentang kehamilannya. Rupanya Kirana bukan buah dari kehamilan pertamanya. Retno mengalami keguguran, namun ia bertekad untuk kembali hamil. Tuhan mengabulkan permintaannya.

Masa-masa kehamilan yang ia ceritakan dalam buku ini hanya dua bab saja tetapi begitu membekas dalam benak saya. Mungkin karena sedang merasakan hal yang sama. Saya jadi membandingkan diri saya dengan dirinya.

Retno Hening sangat bersyukur mendapati doanya untuk hamil lagi terkabul. Rasa syukur itu bukan cuma dalam doa, melainkan ia wujudkan juga dalam perbuatan. Ia benar-benar menjaga makan, sikap, dan ibadahnya.

Retno tak menyia-nyiakan apa yang sudah ia minta. Ia sudah mulai berusaha menjadi ibu yang baik sejak bayinya masih dalam kandungan. Ia mulai membatasi diri dari kesenangan-kesenangannya sendiri, padahal bayi itu lahir pun belum. Ia rajin berbincang dengan bayinya. Rajin berdoa, rajin pula membacakannya ayat-ayat suci.

“Saya ingin selama dalam kandungan, bayi ini sudah mendengarkan Alquran sampai khatam. Jadi saya berusaha mengkhatamkan Alquran selama hamil.” ~Happy Little Soul p8

Membaca itu membuat saya berkaca. Apa yang sudah saya lakukan untuk anak saya? Saya seperti orang yang tak tahu berterima-kasih saja. Maka, sebisa mungkin, saya berusaha mengikuti langkahnya.

Menjadi Ibu yang Bahagia

Perbincangan dengan anak itu terus Retno lakukan, meskipun, Kirana saat itu belum bisa berbicara. Ia hanya bisa melakukan kontak mata. Retno dengan sabar dan telaten melakukan itu. Seolah-olah ia temannya. Sering memang, ia memposisikan diri sebagai teman main Kirana.

Sering berbincang dengan anak ternyata memiliki dampak yang positif. Anak menjadi lebih cepat berbicara. Sebab, ia sudah terbiasa menangkap kata demi kata yang ditujukan padanya. Selain itu, berbincang juga membuat hubungan antara ibu dan anak semakin dekat.

“Saya dengan cepat memahami apa yang Kirana maksud, dia merasa dimengerti dan menjadi anak yang lebih tenang, tidak suka berteriak karena apa yang dia maksud sudah direspons dan dimengerti.” ~Happy Little Soul p44.

Buku ini memberi gambaran seorang ibu yang menghargai anaknya. Rupanya, dengan orang tua mulai menghargai anak, anak akan dengan mudahnya menghargai orang tua. Dengan orang tua mulai mempedulikan anak, anak berbalik akan mempedulikannya. Namun demikian, Retno juga menyadari ada kalanya emosinya tumpah.

Retno bahagia bisa bermain dengan Kirana. Kirana pun jadi gembira. Dalam buku setebal 202 halaman ini, Retno juga banyak memberikan tips, resep, dan tutorial permainan untuk anak-anak. Sayang, buku ini hanya bercerita hingga Kirana berusia 3 tahun. Sekarang, Kirana sudah menginjak usia 4 tahun.

Saya baru menyelesaikan buku ini setengahnya sebab, setengah buku hingga ke belakang sudah bercerita tentang kesibukan seorang ibu bersama anak usia 3 tahun. Saya akan sulit mengingat dan membayangkannya karena belum merasakannya. Mungkin, saat anak saya berusia satu atau dua tahun, insyaaAllah, saya akan lanjut membacanya. []

 

Informasi Buku

Judul: Happy Little Soul

Penulis: Retno Hening Palupi

Editor: Tesara Rafiantika

Penerbit: Gagasmedia

Cetakan pertama, 2017

Cetakan ketujuh, 2017

202 halaman, 13 x 19 cm

ISBN 978-979-780-886-0

20 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *