Jebakan Itu Bernama Waktu Luang

 

Seseorang dengan kesibukan tinggi tentu sangat berharap memiliki waktu luang. Beragam rencana kegiatan sudah disusun sedemikian rupa. Namun, begitu yang diharapkan datang, rencana itu tetap jua menjadi rencana.

***

Dulu, ketika masih aktif bekerja pagi-siang-sore-malam, yang namanya waktu luang itu datangnya tak terduga. Jarang datang malam hari. Seringnya malah pagi hari.

Bayangkan, pagi hari ketika rata-rata orang berjibaku dengan kerjaannya, saya bisa saja cuma duduk di kantin atau kafe. Kalau sudah bosan, saya ambil sepeda motor lalu menyusuri jalanan dalam diam. Masuk ke parkiran mall dan kembali berlalu pergi karena mall belum buka.

Saya memiliki ketakutan yang besar pada sesuatu yang dinamakan ‘waktu luang’. Saya takut waktu luang saya terbuang sia-sia – meskipun pada akhirnya memang seperti itu. hufff… Ini karena waktu luang itu datangnya sebentar-sebentar. Saya bahkan bisa memprediksi hanya memiliki waktu luang sekian jam.

Untuk mengatasi ketakutan waktu luang terbuang sia-sia, saya sudah menyiapkan sejumlah rencana. Namun, pada akhirnya, rencana itu tidak bisa dijalankan dalam waktu singkat. Ah, ia pun berakhir sia-sia.

Lalu kini, setelah tak lagi bekerja aktif, saya berlimpah waktu luang. Ini rejeki atau bukan? Kadang, ketakutan itu muncul lagi.

Bagi orang yang memiliki sistem manajemen waktu yang baik, waktu luang ini rejeki. Tapi bagi yang terbiasa melakukan sesuatu secara spontan, waktu luang ini bisa melenakan dan berakhir sia-sia. Dan saya adalah tipe yang terakhir.

***

Menjadi ibu rumah tangga itu, menurut saya, tidak jauh beda dengan bekerja kantoran. Waktunya bahkan lebih terjadwal. Selama satu tahun ini, saya berpegangan pada lima waktu salat: subuh, zuhur, asar, maghrib, dan isya, untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Azan subuh menjadi alarm bangun pagi. Lalu pergi berbelanja dan membuat sarapan. Bersyukur menu sarapan suami itu sederhana: mi goreng atau nasi goreng dan teh panas. Jadi, tidak perlu waktu lama untuk menyiapkannya.

Tenggat waktu saya adalah suami sarapan. Jadi sebelum suami nongol di meja makan, saat itulah saya harus berjibaku di dapur, menyiapkan sarapan.

Sesudah itu, baru beres-beres yang lainnya. Seperti menyapu, mengepel, atau mencuci baju. Yang beginian ini juga harus dikasi tenggat. Biasanya, saya tenggatkan, pukul 09.00 sudah free dari kerja rumah tangga. Atau paling molor pukul 10.00 WIB.

Lalu saya punya waktu istirahat atau waktu luang selama satu jam. Pukul 11.00 WIB saya harus kembali ke dapur untuk memasak makan siang. Tenggat waktu menyiapkan makan siang itu saat azan zuhur berkumandang.

Kami menyantap makan siang seusai menunaikan salat. Setelah makan siang itulah yang benar-benar namanya waktu luang. Waktu luang itu bisa dimanfaatkan untuk tidur siang atau nonton drama korea sampai sore tiba. Ketika azan asar tiba, itu tandanya waktu luang usai.

Mari bersiap untuk mandi, mengurus tanaman, menyapu, lalu menutup pintu dan jendela. Masak lagi kalau lauk siang sudah habis.

Sambil menunggu azan maghrib tiba, saya biasa memanfaatkan waktu untuk menonton televisi. Atau kalau suami sudah lapar, kami makan. Waktu setelah maghrib dan isya adalah waktu istirahat.

Kalau dipikir-pikir, banyak ya waktu luang saya. Tapi, di sinilah masalahnya kemudian muncul. Saya bosan, bosan dengan rutinitas yang begitu-begitu saja.

Pada akhirnya, saya mbeler juga. Akhir pekan adalah waktu yang pas untuk memanjangkan waktu luang dan toleransi untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga di luar jadwal yang ada. Namun, kadang, waktu luang itu begitu melenakan hingga pekerjaan rumah tangga terabaikan. Akhirnya, terburu-buru mengerjakan ini itu.

Padahal, kalau dipikir-pikir dengan adanya waktu luang itu kita bisa mengerjakan lebih banyak hal. Namun, pada kenyataannya, waktu luang justru bisa membuat hal yang seharusnya dikerjakan jadi terabaikan. Akhirnya menyesal lalu bertekad untuk tidak melakukannya lagi. Namun, di akhir pekan berikutnya, lupa! Ah, memang masih gadungan ni jadi ibu rumah tangganya.

Yah, pada akhirnya, jadwal harian itu memang harus ditepati. Tidak peduli itu di awal, tengah, atau akhir pekan. EH, ibu rumah tangga punya hari libur gak ya? []

Comments

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *