Cerita Wenny

9 Februari, Kami Memperingati HPN

Tanggal 9 Februari, dalam kalender nasional, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Ini berdasar pada Surat Keputusan Presiden nomor 5 tahun 1985. Tanggal itu dipilih melalui lobi Harmoko, Menteri Penerangan kala itu.

Sembilan Februari merupakan hari lahir PWI – Persatuan Wartawan Indonesia. PWI menjadi satu-satunya organisasi profesi kewartawanan yang diakui rezim Orde Baru.

Zawjiy, suami, tak pernah alpa menghadiri peringatan HPN bersama organisasinya. Dia terdaftar sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Berlawanan dengan suami, saya tak pernah memperingati HPN. Sebab, ketika masih berprofesi sebagai jurnalis, saya tergabung dalam organisasi profesi Aliansi Jurnalis Independen (AJI). AJI menentang HPN.

Menurut AJI, kebangkitan pers Indonesia sudah dimulai jauh sebelum itu. Ini ditandai dengan hadirnya Inlandsche Journalisten Bond (IJB) pada tahun 1914. Pelopornya, Mas Marco Kartodikromo.

Lalu ada juga Sarekat Journalists Asia di tahun 1925, Perkumpulan Kaoem Journalists pada tahun 1931, serta Persatoean Djurnalis Indonesia yang hadir pada tahun 1940. PWI sendiri baru lahir pada tahun 1946.

Namun, kini, kami sama-sama memperingati HPN. Kami saling memberi selamat satu lain. Padahal, kami berdua sudah bukan pewarta lagi. HPN bagi kami adalah Hari Per-Nikahan.

 

 

9 Februari

HPN kami jatuh di tanggal yang sama seperti HPN milik PWI, 9 Februari. Kawan se-profesi menilai kami sengaja memilih tanggal itu lantaran kami memiliki latar belakang profesi yang sama. Pernikahan kami bahkan diliput sebagai peristiwa unik pada peringatan Hari Pers Nasional.

Kami hanya tertawa. Kami sama sekali tak bermaksud demikian. Bahkan kami baru menyadarinya sebulan menjelang acara. Seorang kawan menjabat tangan dan berkata, “Selamat ya, nikah pas HPN.”

Saya bengong dan kemudian dia melanjutkan, “Sembilan Februari kan HPN.”

AH IYA!

Sebagai seorang AJI, nurani sempat terusik. Tapi pemilihan tanggal itu datangnya bukan dari kami berdua, melainkan dua keluarga. Kehendak masing-masing keluarga diutarakan lalu diambil jalan tengah. Dan dipilihlah hari Kamis, kala itu, sebagai hari pernikahan. Tanggalnya, kebetulan, 9 Februari.

Tidak ada yang bisa diperbuat untuk mengganti tanggal pernikahan. Undangan sudah disebar. Tenda sudah dipesan. Bahan masakan sudah disiapkan.

Jalani saja dan, belakangan, saya jadi bersyukur menikah di tanggal itu. Sebab, mengingatnya jadi lebih mudah. Kalau ingat HPN PWI jadi ingat HPN kami. Haha.

Seperti yang terjadi tahun ini. Sebenarnya, sejak jauh-jauh hari, saya sudah mengingat tanggal ini sebagai tanggal pernikahan. Namun, tiba waktunya, saya malah lupa.

Chat zawjiy datang mengingatkan.

“Selamat HPN (Hari Pernikahan) kita!”

Hahaha.. jadi ingat. Rupanya sudah setahun saja kami membina rumah tangga. Rasanya sudah bertahun-tahun lamanya kami bersama. Namun, ternyata masih baru setahun.

Perjalanan masih panjang bukan? Seperti yang saya yakini sejak dulu. Menikah bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari tujuan-tujuan baru. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *