Mojokerto: Desa Wisata Kampung Majapahit

Situs cagar budaya hadir memberi makna. Bahwa legenda bukan bualan belaka.

***

Mojokerto bukan kota besar di Jawa Timur. Namun peninggalan sejarahnya membuat kota itu kaya. Mojokerto menyimpan kejayaan kisah Kerajaan Hindu Majapahit. Tepatnya di Kecamatan Trowulan.

What a blink tour! Saya hanya berkeliling sekejap mata, mengitari Trowulan yang kaya akan situs bersejarahnya. Bukan malas berhenti dan masuk, melainkan segan pada kerabat yang mengantar. Pasalnya, kedatangan saya ke Mojokerto kali itu bukan untuk plesiran, tetapi tilik bude yang sedang sakit.

Situs pertama yang saya lihat di sana adalah Candi Brahu. Lokasinya di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Trowulan. Dia berada di persimpangan jalan, di antara kebun-kebun tebu.

Candi Brahu ini berdiri sendirian. Tingginya sekitar 20 meter. Begitu tingginya, pemerintah pun menancapkan cagak anti-petir di puncak candi. Seluruh tubuh candi ini terbuat dari susunan batu bata merah. Di bagian atas tampak lumut menjalar menyelimuti.

Konon, Candi Brahu ini digunakan sebagai tempat pembakaran jenazah para raja. Namun, tidak dapat dipastikan juga kebenarannya. Sebab tidak ditemukan bekas abu di ruangan 4 x 4 meter di dalam candi tersebut.

Jalan aspal kemudian menuntun kami ke situs Kolam Segaran. Kolam ini kolam yang besar sekali. Siang itu, beberapa orang tengah asik memancing di tepian kolam.

“Kolam ini tak boleh ada orang jualan di dalamnya,” kata Bude.

Sebab, dahulu kala, kolam ini selalu menjadi tempat menjamu tamu-tamu kerajaan. Tamu dari luar negeri. Tiongkok, misalnya.

Usai makan, raja menitahkan untuk membuang piring emas yang digunakan para tamu ke dalam kolam. Ini untuk menunjukkan kepada para tamu itu kalau Majapahit negeri yang kaya. Meskipun, konon, di dasar kolam berukuran 6,5 hektare itu sudah terpasang jaring. Kalau para tamu sudah pulang, piring-piring emas itu diangkat lagi ke atas.

Tapi ada alasan lain mengapa, kemudian, pemerintah juga melarang pedagang berjualan di tepi kolam. Alasan itu karena tepian kolam tersebut terbuat dari susunan batu bata merah. Mereka risau, batu-batu itu akan hancur dan ambrol karena kelebihan beban.

Tak seberapa jauh dari kolam itu, ada Pendopo Agung. Pendopo ini sudah ada sejak zaman raja-raja. Biasa digunakan menghelat acara-acara besar.

Setelah itu, masih di tepi jalan aspal yang sama, ada Museum Trowulan. Museum ini menyimpan artefak-artefak bernilai seni tinggi yang ditemukan di wilayah Trowulan, atau di luar Trowulan namun masih terhubung dengan Kerajaan Majapahit.

Jalan aspal di Trowulan mungkin tak terlalu lebar namun papan penunjuk jalan sudah terpasang di tepi-tepi jalan. Papan itu menunjukkan lokasi situs-situs bersejarah. Seperti misalnya, Candi Tikus ataupun Candi Bajang Ratu. Semua itu wajib dikunjungi jika ingin menilik lebih jauh tentang Kerajaan Majapahit.

“Yah, kita nggak lewat tempat itu, Mba. Nggak bisa kesana,” kata Bude lagi.

It’s okay, Bude.

***

Desa Wisata Kampung Majapahit

Satu hal yang membuat saya kagum pada Trowulan adalah kesadaran pemerintahnya akan kekayaan daerahnya. Pemerintah sudah mengemas pemukiman Trowulan menjadi desa wisata. Namanya, Kampung Majapahit.

Ada rumah-rumah bata yang seragam di kanan-kiri jalan menuju area situs purbakala. Rumah bergaya khas Majapahit itu sengaja dibuat untuk menarik wisatawan.

foto milik Antara Foto

Rumah-rumah bata itu, kata Bude, bantuan pemerintah. Warga yang ingin dibangunkan rumah tersebut, perlu mengajukan proposal terlebih dahulu. Ia harus sudah memiliki usaha, misalnya saja, kerajinan tangan ataupun warung kelontong.

Rumah yang dibangunkan itu bagian depannya saja. Bagian tengah ke belakangnya merupakan bangunan rumah lama. Di bagian depan itulah yang digunakan sebagai ruang pamer usaha warga.

Setelah googling, Desa Wisata Kampung Majapahit itu dipusatkan di tiga desa. Yakni, Desa Sentonorejo, Desa Jatipasar, dan Desa Bejijong. Di Desa Sentonorejo, Kampung Majapahit itu untuk mengawal wisatawan ke situs Candi Kedaton, Lantai Segienam, dan Sumur Upas.

Sementara di Desa Jatipasar, Kampung Majapahit ini untuk memandu para pelancong ke Candi Wringin Lawang. Candi ini konon dipercaya sebagai pintu masuk ke Keraton Majapahit. Nah, kalau di Desa Bejijong, Kampung Majapahit ini berada di sekitar area wisata Maha Vihara Majapahit, Makam Siti Inggil, Candi Brahu, dan Candi Gentong.

Sayangnya, ketika saya ke sana, suasananya sangat sepi. Jalan yang dilalui pun terbilang besar untuk ukuran ‘jalan kaki’. Saya mungkin harus berkali-kali menepikan badan ke pagar rumah-rumah kalau berpapasan dengan mobil atau motor yang lewat – kalau saya jalan kaki.

Terik matahari juga menciutkan nyali untuk berjalan-jalan di sana. Sudahlah terik, banyak debu jalanan juga. Jadi merasa sedikit sayang tidak bisa menyambangi ‘lapak rumahan’ itu satu per satu.

foto milik Koran Sindo Jatim

So, kalau kamu mau jalan-jalan ke Trowulan, lebih baik pada pagi hari. Udaranya masih segar untuk berjalan-jalan. Apalagi di Trowulan masih banyak kebun tebu.

Selamat menjelajah! []

Comments

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *