Doctor’s Life

 

Meski terikat sumpah, setiap dokter memiliki karakter masing-masing. Manner, itu yang membedakan dokter yang satu dan lainnya.

***

Mama tergopoh-gopoh menemui saya. Di ujung pintu masuk, ia sedikit berteriak.

“Dek, sini cepat!”

Saya langsung angkat pantat. Berjalan dengan cepat, menyambutnya. Ia bilang seorang dokter mencari kami. Hendak menjelaskan efek dari tindakan yang akan papa jalani. Mama tak mau salah paham mendengarkannya sendiri. Ia mengajakku ikut serta.

Saat mama meminta ijin untuk memanggilku, si dokter berkata, “Cepat ya, Bu! Saya tak punya waktu banyak.”

Haduhhh.. Rasanyaaa yaaa, pengin misuh-misuh.

Perasaan, dokter yang sudah spesialis saja nggak pernah ngomong begitu. Sementara dia, masih menjalani pendidikan.

Kerabat pernah bilang, kehidupan seorang mahasiswa kedokteran spesialis (residen) itu lebih sibuk daripada dokter spesialisnya. Karena kuliahnya tidak hanya di bangku kelas, tetapi juga di kamar pasien, ruang bedah, icu, igd, dan sebagainya. Belum lagi kalau ada keperluan-keperluan lain.

Tapi, itu kan resiko menjadi seorang dokter. Kalau memang dia tak mau dikejar-kejar waktu, usah lagi jadi dokter. Bukan malah menyalahkan keluarga pasien, atau justru pasiennya, karena terlalu lambat datang.

Saya salut pada seorang dokter senior yang ikut menangani papa. Dia dokter kulit. Ketika itu papa datang kontrol dengan ranjang. Dia memanggil nama, kami segera bersiap untuk membawa papa ke ruangannya.

Namun, belum juga kami beranjak dari ruang tunggu, dokter itu sudah datang. “Periksanya di sini saja ya. Kasian kalau bapak harus masuk,” katanya.

Keesokan harinya, saat kemudian papa rawat inap, ia rutin datang menjenguk. Memeriksa kondisi papa dan meresepkan obat.

Lalu mama juga kagum pada residen dokter tersebut. Residen itu sangat ramah. Ia tak hanya memeriksa papa, tetapi juga menyemangati mama.

“Mungkin, ini didikan dokter spesialisnya,” batinku.

Ada juga dokter yang jarang datang, tapi residennya rajin datang. Setiap pagi, sebelum pukul 07.00 wib, ia sudah terlihat di nurse station. Beberapa saat setelah memeriksa berkas-berkas pasiennya, ia berkeliling kamar, menengok kondisi pasien-pasiennya. Kadang tanpa ditemani perawat.

Pada akhirnya, manner-lah yang menentukan seorang dokter itu profesional atau tidak. Itu menurut saya. Sepintar apapun seorang dokter namun jika tak santun, akan sulit baginya disukai para pasien.

Namun, terlepas dari itu semua, saya kok jadi berharap punya keturunan yang bekerja di bidang medis. Apakah itu perawat ataupun dokter. Apapun itu, semoga manner-nya tetap terjaga. InsyaaAllah aamiin. []

Comments

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
  1. dananwahyu

    aku pernah punya pengalaman nggak enak sama dokter tapi ya sudahlah mungkin dia lelah. apalagi jaman sekarnag kebanyakan orang jadi dokter bukan panggilan hati tapi motif ekonomi jadi nggak melayani dengan hati

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *