Tak Pandang Kelas di Ruang Isolasi

Pembedanya hanya jenis kelamin. Yang pria dengan pria. Yang perempuan dengan perempuan. Setelah itu, mau beda usia, domisili, atau tingkatan kelas dalam BPJS pun tak ade kesah. Pasien dengan penyakit infeksius musti masuk ruang isolasi.

***

Mungkin kami terlalu egois. Ketika kondisi papa drop, kami menunda-nunda untuk membawanya rawat inap. Alasannya, papa bakal masuk ruang isolasi.

Memangnya kenapa dengan ruang isolasi?

Seorang dokter yang menangani papa, saat pertama kali rawat inap, bahkan berani memulangkan papa karena ia tak setuju papa dipindahkan ke ruang isolasi. “Kurang nyaman,” katanya.

Sekamar berempat. Ventilasi hanya satu. Penunggu pasien juga hanya boleh satu. Itu juga tak boleh tidur di dalam, tetapi di luar kamar.

Kondisi itu yang membuat kami enggan. Mama tak mungkin menunggui sendiri. Riwayat penyakit jantungnya membuat saya khawatir. Mama pun sulit mengizinkan saya menunggui. Saya tengah berbadan dua.

Namun, sekeras apapun kami mengelak, Tuhan pula yang menentukan. Tiga dokter mewajibkan papa rawat inap. Dokter penyakit dalamnya mengharuskan ia menginap di ruang isolasi. Tidak bisakah kalau tidak?

“Ya nggak bisa. BTA (hasil pemeriksaan)-nya positif,” kata dokter.

***

Pengurusan administrasi rawat inap rupanya tak sebentar. Salah satu kendalanya, tak ada ruang isolasi yang sesuai dengan kelas BPJS Kesehatan papa. Papa terdaftar sebagai peserta kelas I.

“Adanya di kelas III dan VIP. Mau pilih yang mana?” kata perawat.

Kalau memilih VIP, bayangan biaya yang membengkak sudah menari-nari di kepala. Sebab, papa harus naik kelas. Banyak cerita beredar, kalau sudah minta naik kelas, tambahan biayanya bisa berlipat-lipat kali besarnya.

Tapi kalau di kelas III… Saya sungguh tak bisa membayangkan. Pilhannya, namun demikian, hanya kelas III atau tidak rawat inap. Masa’ iya tega tetap memilih tidak rawat inap?

“Atau mau lihat kamarnya dulu?” tanya perawat itu lagi.

Setelah diskusi singkat dengan keluarga, dan zawjiy yang lagi mendampingi saat itu, kami memutuskan turun kelas. Papa dirawat di ruang isolasi kelas III. Gambling sekali soal bagaimana perawatan di ruang isolasi waktu itu.

Sekira pukul 19.30 wib, papa masuk kamar isolasi. Kamarnya jauh di gedung paling ujung kompleks rumah sakit. Letaknya di lantai paling atas, lantai 6. Ia berada tepat setelah pintu masuk ruang perawatan khusus pria.

Perawat membukakan pintu ruang isolasi. Pintu itu pintu khusus yang otomatis terkunci bila ditutup. Ia dilengkapi dengan sensor sidik jari di bagian depan. Hanya perawat dan petugas kebersihan yang bisa membuka pintu itu dari luar. Kalau dari dalam, penunggu bisa membukanya sendiri.

Pintu depan itu tak langsung menghubungkan dengan bangsal tempat pasien tidur. Di balik pintu itu ada ruangan sempit dengan pendingin ruangan di kanan-kiri. Di dindingnya ada laci-laci yang berisi masker dan sarung tangan. Lalu juga ada tempat sampah infeksius dan non-infeksius. Serta, sebuah meja, yang kelak saya tahu itu sebagai tempat petugas gizi meletakkan makanan bagi pasien.

Berada di ruangan itu saja sudah membuat saya mual. Meski sudah memakai dua masker, aroma di ruangan itu tetap tercium. Seperti ada makanan yang basi. Hampir pingsan, saya dibuatnya.

Pintu kedua, setelah ruangan itu, barulah pintu menuju bangsal pasien. Ada empat bed yang tersedia. Satu bed sudah terisi. Papa menjadi pasien kedua di sana.

Setiap pasien hanya mendapat fasilitas satu ranjang dengan selimut tipis dan satu bantal, satu set lemari kecil dengan meja di atasnya, dan satu kursi. Tidak boleh ada tas, tikar, atau barang-barang yang diletakkan di kamar. Barang-barang berlebih disimpan di penitipan barang pasien.

Begitu kagoknya kami. Karena sebelumnya, barang kami sangat banyak. Sekarang harus meletakkan barang-barang yang penting saja di dalam. Padahal, menurut kami, semuanya penting.

Ruang itu sungguh pengap. Tidak tahan berada lama-lama di dalamnya. Kami harus menggunakan masker selama berada di ruangan itu. Papa? Tidak. Ia tidak mau mengenakan masker, tidak biasa.

Memang benar, hanya satu penunggu yang diperbolehkan masuk kamar. Kecuali kalau pasien memiliki keterbatasan gerak, seperti papa, yang harus dibantu saat hendak duduk, miring, atau mundur ke belakang.

Yang sedih, penunggu tidak nyaman berada di dalam. Hanya ada satu kursi yang bisa dipakai di sana. Kalau mau tidur, ada sisa ruang di dekat kamar mandi yang bisa dipakai untuk membentang kasur. Itu juga harus berbagi dengan tiga penghuni lain di kamar itu. Namun, karena kondisi ruangan yang seperti itu, sebagian besar penunggu memilih tidur di kursi, atau – benar saja, keadaanlah yang memaksa, tidur di teras depan ruangan. Berhadapan dengan lift gedung.

Mama pernah mencoba baring-baring di sisa ruang itu, hanya dengan beralas tikar. Waktu itu malam pertama. Kami menunggu zawjiy yang sedang pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian. Baru 2,5 jam ia berbaring, begitu bangun, langsung masuk angin.

“Ini hanya soal fasilitas saja,” kata mas ipar tentang perbedaan kelas dalam BPJS Kesehatan. Soal obat dan tindakan tetap sama. Soal kunjungan kedatangan dokter bagaimana? Saya tak yakin, tak berbeda. Dan, fasilitas itu juga menjadi faktor pendukung kesembuhan bukan?

Makanan papa datang dalam wadah kardus. Minumnya air putih yang disimpan dalam gelas plastik sekali pakai. Dulu, ketika dirawat sesuai kelas, makanan datang dalam piring-piring keramik dan dengan gelas kaca.

“Di sini macam tak dihargai pasien yang sakit,” kata mama.

Papa, namun demikian, tak mengeluh banyak soal fasilitas. Ia tengah kesakitan. Namun, melihat teman-teman sebangsalnya yang mulai dikeluarkan dari ruang itu, ia juga ingin segera keluar.

Tak berapa lama, keinginannya dikabulkan. Namun, rupanya, bukan dipindahkan ke ruang inap biasa. Melainkan masuk ke ruang isolasi II. Ini ruang isolasi khusus untuk pasien TB Paru. Ruang isolasi sebelumnya adalah ruang isolasi untuk segala jenis penyakit infeksius.

***

Bukan cuma papa yang mau tak mau harus turun kelas saat dirawat di ruang isolasi. Teman-teman sebangsalnya juga memiliki kepesertaan di kelas I ataupun II. Namun, karena penyakit yang mereka derita, mereka harus dirawat di ruang isolasi yang berstatus kelas III.

Padahal, rumah sakit ini rumah sakit paling besar di Semarang, yang menjadi rujukan masyarakat Jawa Tengah. Namun, rupanya, ruang isolasi belum tersedia untuk semua kelas BPJS Kesehatan. Sehingga, semua pasien mau tak mau harus mau dirawat dengan fasilitas kelas III.

Ruang itu juga jumlahnya tak banyak. Beberapa keluarga pasien lain pernah berbagi cerita, mereka harus menunggu lama untuk akhirnya bisa dirawat di ruang isolasi. Sebab, ruangan itu penuh.

Semoga kelak, rumah sakit itu berbenah dan menambah ruang isolasi untuk setiap kelas BPJS Kesehatan. Sehingga, setiap peserta mendapatkan hak-nya meski mereka menderita penyakit infeksius. Kan bukan mereka yang ingin memiliki penyakit seperti itu. Mereka pasti ingin sehat-sehat saja.

Lebih dari itu, semoga papa tidak lagi menjalani rawat inap di ruang isolasi itu. Cukup sekali itu saja. In shaa Allah. Aamiin Allahumma Aamiin.

Mari jaga kesehatan diri. Mencegah, in syaa Allah, lebih baik daripada mengobati. []

Comments

  1. sri murni

    Semoga sehat selalu ya Mbak kita semuanya…. apapun jenis kelasnya, kayaknya pakai fasilitas BPJS ini memang tidak seenak bayar sendiri…. hiks…hiks..hiks…

    1. Post
      Author
  2. Cucum Suminar

    Waiah jauh banget turunnya ya, mbak. Kelas tiga memang rame, kelas dua yang agak mending, eh tapi sebenarnya tergantung rumah sakitnya ya. Semoga papanya cepat sembuh ya. Amien.

    1. Post
      Author
  3. ade jamil

    Dalam kondisi yang tidak banyak pilihan, kita cenderung mengambil pilihan terbaik yang ada saat itu. Semoga kesehatan dan kebahagiaan diberikan kepada seluruh keluarga setelah kejadian tersebut ya mbak.

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *