Cerita Papa,  Kesehatan

Serangan Kuman

Dalam suatu pemeriksaan khusus, ia ditemukan. Mengendap dalam kawanan kecil. Kini, ia diusik lalu berbalik mengusik. Dia, Mycobacterium tuberculosis.

***

Mycobacterium tuberculosis kerap ditemukan menyerang organ paru-paru pada tubuh manusia. Meski, ada juga yang menyerang organ-organ lain. Dunia medis Indonesia menyebutnya dengan TB, jika menyerang paru-paru sebutannya menjadi TB Paru. Orang awam mengenalnya dengan istilah TBC.

TBC merupakan penyakit menular. Penularan bisa dilakukan melalui percikan air liur, batuk, bersin, atau kontak dengan pasien. Indonesia berada di peringkat ketiga, setelah India dan Tiongkok, dengan 450.000 kasus baru TB di setiap tahunnya.

***

Dokter memberitahukan hasil pemeriksaan itu sebelum hasil pemeriksaan sol keluar. Saya sedikit lega sebab ia berkata, “Kita tunggu hasil PA (patologi anatomi)-nya. Siapa tahu, sol di otak itu karena TB.”

Kalau memang karena TB, sol di otak itu tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Sebab, TB dapat disembuhkan dengan terapi pengobatan rutin. Di hari itu juga, papa mulai menjalani terapi pengobatan TB. Obat OAT diminum sehari sekali. Sekali minum, empat tablet.

Sepekan pertama, mulai muncul reaksi. Di punggungnya muncul ruam merah-merah. Kami berpikir itu biang keringat sebab setelah tindakan operasi, praktis papa hanya tiduran saja. Mungkin punggungnya berkeringat dan karena tidak diseka, muncullah biang keringat.

Rupanya bukan. Ketika kami minta bedak gatal, dokter bilang, itu alergi. Obat OAT memang kerap membuat alergi pada kulit. Saya jadi ingat, mamak mertua juga merasakan gatal-gatal pada kulitnya. Saya juga. Namun, pengalaman saya, gatal-gatal itu hanya muncul ketika berkeringat saja. Kalau tidak sedang berkeringat, tidak gatal. Well, saya dan mamak mertua sama-sama memiliki riwayat TB paru.

Tepat ketika papa dinyatakan alergi, dokter mengharuskan papa pindah kamar ke ruangan isolasi. Namun, karena kondisinya baru saja selesai operasi, dokter yang lain menolak. Ia menyarankan papa untuk pulang.

Betapa senangnya kami mendapat persetujuan untuk rawat jalan. Sudah sebulan lamanya papa dirawat inap. Kami sudah rindu hawa sejuk perkampungan.

Meskipun sudah diperbolehkan pulang dan mengalami alergi obat, terapi pengobatan TB tetap berlanjut. Dokter membekali dengan obat lepasan. Sekaligus untuk mencari, obat mana yang membuat alergi.

Seminggu menelan obat lepasan, alergi kulit tak kunjung sembuh. Sekujur tubuhnya gatal-gatal, kulitnya merah-merah, dan mengelupas. Dokter pun meminta terapi dihentikan demi memulihkan kondisi kulit akibat alergi.

Sebulan papa tak meminum obat TB. Kondisi fisiknya semakin prima. Efek dari operasi terbilang tidak ada. Tinggal pemulihan gerak pada kaki dan tangan kanan.

Melihat kondisi papa yang fit, dokter memutuskan untuk kembali melanjutkan terapi pengobatan TB. Kali ini, diuji-coba dulu. Papa hanya minum satu jenis obat TB setiap tiga hari. Setelah itu dievaluasi. Tujuannya, mencari jenis obat yang membuat kulitnya alergi.

Baru hari pertama minum obat A (sebut saja demikian), paginya papa gatal-gatal. Obat dihentikan. Ketika kontrol, tiga hari kemudian, dokter memberi obat yang lain, obat B.

Rupanya, fisik papa tidak kuat jika harus bolak-balik rumah sakit setiap tiga hari sekali. Saya meminta dokter memaklumi jika papa kembali sepekan kemudian. Dokter mempersilakan.

Obat B diminum, masih gatal-gatal dan kulit mengelupas. Obat itu dihentikan. Lalu obat C. Tidak gatal-gatal – karena dokter memberikan obat gatal, namun membuat kulit mengelupas. Obat C lanjut ditambah dengan obat D. Sepekan minum obat D, papa ambruk. Kondisinya melemah.

Saya lupa, obat TB ternyata mampu melemahkan badan. Ketika mendapat terapi pengobatan TB, lutut saya kebas – seperti kena asam urat. Badan pegal-pegal dan selalu rindu kasur.

Zawjiy juga mengingatkan kalau mamak mertua pernah begitu. Ketika terapi pengobatan TB, mamak bahkan sampai tak bisa bangun dari tempat tidur. Ia harus menyeret badannya saat hendak buang air kecil atau besar. Lemah.

Itu kami, yang bisa dibilang memiliki kondisi tubuh biasa saja sebelum terserang bakteri. Kondisi papa kan baru saja operasi dan masih ada sol pula, pasti reaksinya akan berbeda. Dokter lain tempat saya berkonsultasi membenarkan. Pengobatan TB bersifat menurunkan daya tahan tubuh. Oh, pantas saja, papa drop.

Sebulan setelah uji-coba obat TB itu, papa mau tak mau harus kembali menjalani rawat inap. Perawatan intensif diperlukan untuk mengobati alergi kulitnya. Namun, di kala kondisi tubuh tengah turun itulah sel-sel ganas dalam tubuhnya menari-nari. Seakan mendapatkan ruang untuk tumbuh dan berkembang. Tubuh papa menciut namun sol membesar.

Dua pekan dirawat, kulit papa dianggap sudah membaik. Lalu dokter kembali melanjutkan terapi pengobatan TB. Baru sekali minum, keesokan harinya, kondisi kesehatan papa kembali menurun. Gatal dan ruam-ruam kembali datang. Dokter pusing bukan kepalang.

“Susah kalau begini. Apa obatnya?” katanya.[]

***

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *