Cerita PapaKesehatan

SOL

Awalnya cuma satu. Lalu merambat dan menetas di tempat lain. Sesaat, yang satu hilang. Beberapa bulan kemudian, ia kembali menetas – menjadi banyak dan besar. Itu yang nampak, entah yang ada di dalam.

***

SOL, space occupying lesion. Barbara C Long dalam bukunya Perawatan Medikal Bedah (1996) mendefinisikan SOL sebagai generalisasi masalah tentang adanya lesi di ruang intrakranial, terutama yang mengenai otak.

***

“Ada sol di otak. Setelah kami lihat, sumbernya dari paru-paru. Di situ ada sol juga.”

Ucapan dokter kala itu mengagetkanku. Kupikir hanya asam urat atau, paling parah, stroke ringan. Tapi ini…

“Sol, tumor. Biasanya, kalau sudah sampai menyebar berarti ganas.”

Aku tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan ini pada kedua orang tua. Yang bisa kuajak bicara hanya embak, dan kemudian, suami – zawjiy. Reaksi mereka tak jauh beda denganku. Kok bisa?

Mungkin itu pertanyaan bodoh. Dulu, pemerintah mengingatkan dengan pesan, “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.” Ia bahkan meminta – kalau tak bisa dibilang memaksa, perusahaan rokok untuk menyelipkan slogan itu di bungkus ataupun iklan gambar berjalan mereka. (Sekarang, pesan peringatan itu sudah berubah.)

Papa perokok berat. Sejak duduk di bangku sekolah menengah, ia tak lupa menyematkan batangan tembakau itu di bibirnya. Hingga ia pensiun dari pekerjaannya, kebiasaan itu masih terjaga.

Sampai kemudian, di tahun 2015 lalu, ia terserang batuk hebat. Dokter bilang, flek. “Bapak harus berhenti merokok,” kata dokter.

Papa menurut. Namun, dua tahun berselang, ia mungkin merasa kecut. Sesekali, ia masih memenuhi hasratnya. Sebatang atau dua batang sebelum tidur malam. Kuat tercium aroma rokok saat ia berbicara setelah keluar rumah selama setengah jam atau lebih.

Ia lalu batuk-batuk lagi. Namun, lantaran mama sedang tergolek dan harus mendapatkan perawatan medis, ia menunda berobat. Berulang kali kuminta ia berobat, ia hanya pergi ke warung dan membeli obat batuk. Sembuh? Tidak.

Tiga bulan berlalu dari saat itu, ia tak lagi batuk-batuk. Namun, keseimbangannya mulai terganggu. Jalannya mulai pincang. Tangannya melemah. Kuminta ia berobat. Itulah dia. Begitu berobat, saat itu juga dokter memintanya rawat inap. Hingga kemudian muncul vonis itu.

***

Papa tegar menerima kabar itu, tapi tidak mama. Papa yang, justru, menguatkan kami. Ketika itu ia masih sehat. Ia masih bisa ke kamar mandi sendiri, meskipun jalannya tak setegap biasanya.

Di rumah sakit, ia ditangani banyak dokter. Tim dokter pun memutuskan mengangkat sol di otak. Papa setuju – jika memang itu solusi terbaik. Toh ada juga orang yang kembali sehat setelah menjalani pengangkatan sol di otak. Kami berharap, papa juga demikian.

Sepekan setelah menjalani operasi, papa boleh pulang ke rumah. Kondisinya tidak sama dengan sebelumnya. Kini, sebelah badannya tak bisa digerakkan.

“Mungkin ada saraf yang kesenggol,” kata dokter.

Kami heran dengan jawaban dokter itu. Kesenggol kan berarti tidak sengaja disenggol. Kok gitu…

Penyembuhannya, dengan fisioterapi. Papa giat berlatih. Semangatnya untuk sembuh masih ada. Namun, sebulan berselang, ia mulai putus asa. Ketika itu, sudah ada tiga benjolan yang muncul di kepala. Kami pikir itu bisul. Kuoleskan obat hitam. Rupanya bukan. Anehnya, dokter bilang, “Tidak apa-apa itu.”

Papa tidak merasa kesakitan waktu itu. Namun, ketika kondisinya melemah, ia mulai merasakan nyeri. Sebuah nyeri yang menjadi dan diperparah dengan kondisi kulit mengelupas karena alergi. Tiga dokter yang ia kunjungi saat kontrol bulanan mengharuskannya rawat inap. Kami menurut.

Seiring waktu, ketiga sol itu tumbuh kian besar. Bahkan mulai muncul satu yang baru. Waktu itu baru sepekan ia di-opname. Betapa cepatnya.

Ia mulai sering merasakan sakit. Sakitnya hebat. Ia merintih dan kadang, sampai berteriak. Tanpa ia sadari, air matanya meleleh ke pipi.

Hanya sebelah kelopak matanya yang masih bisa terbuka. Ketika berbincang, ia harus mendongakkan kepala, membantu si kelopak membuka lebih lebar. Ingatannya, namun demikian, masih tetap tajam.

Ia tak nafsu makan. Dagingnya habis. Kulitnya kisut. Pipinya kempot. Ia jadi tampak lebih tua dari usianya sekarang.

Baru tiga pekan, namun, perubahan fisiknya sudah demikian drastis. Penyakitnya seperti berkembang pesat. Padahal, ia berada di bawah penanganan intensif medis.

Dokter hanya mengatakan, kondisinya bisa demikian itu karena penyakitnya. Terapi pengobatannya hanya satu dan itu sangat beresiko. Semua berpulang pada keluarga, mau mengambil terapi itu atau tidak. []

8 thoughts on “SOL

    1. Mitos dan lalu muncul kesimpulan baru: jangan berhenti. Kalau berhenti, mitosnya berubah jadi kenyataan.

      Terimakasih teh. Semoga dikabulkan, insyaaAllah aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *