2018

Satu hal yang sangat saya harapkan di tahun 2018 ini adalah semoga badai segera berlalu. Tahun 2017 lalu, ujian datang silih berganti. Setiap bulan merekam kejadian baru. Semuanya tak disangka-sangka. Ada yang sesuai kehendak hati, banyak juga yang tidak.

  • Januari

Satu keputusan besar bagi saya untuk resign dari kerja kantoran. Tidak ada lagi penghasilan rutin bulanan. Tidak ada lagi keharusan keluar rumah pagi-pagi dan pulang saat gelap gulita. Hidup lebih tenang dan semua berjalan seloooow.

  • Februari

Getting married. Tidak ada lagi yang namanya foya-foya sendirian. Tapi juga jangan ada lagi pusing-pusing sendirian. Percayalah, keputusan untuk melepas lajang itu sulit. Namun, lebih sulit menjalani masa lajang dengan usia yang kian bertambah.

Mamak mertua sakit.
Pernikahan kami kurang asik karena mamak mertua sakit. Mamak tumbang tepat sehari sebelum kami mengikat janji suci. Mungkin kecapekan karena urusan pernikahan.

  • Maret

Kini giliran mama sendiri yang sakit. Sama, kondisi mama drop saat mengurus acara syukuran pernikahan kami. Yang bikin kaget, sakitnya bukan sakit-sakit yang biasa mama derita. Sakitnya lebih parah. Sebulan, saya pisah kota dengan suami.

  • Mei-Juli

Menjalani hari-hari dengan status ‘istri’. Mulai beradaptasi dengan budaya baru, rumah baru, kebiasaan baru, dan orang-orang yang baru. Tidak mudah rupanya, menjadi ibu rumah tangga. Dapur yang biasanya cuma numpang lewat, sekarang jadi tak terlewatkan. Bahkan jadi tempat nongkrong sehari-hari.

Saya bisa berjam-jam di dapur. Bukan lalu menghasilkan beraneka-ragam masakan, bukan. Waktu sebanyak itu bisa habis untuk tolah-toleh resep di ponsel dan wajan, menelaah apa-apa saja yang harus dilakukan lebih dahulu untuk menghemat waktu, juga untuk mencari wadah atau alat yang mau dipakai masak. Hasilnya, cuma satu masakan. Itupun pun yang sederhana kali!

  • Agustus

I’m pregnant! Ini yang ditunggu-tunggu. Alhamdulillah.

Namun, di saat itu juga, papa ambruk. Sakitnya berat. Kami harus bolak-balik rumah sakit demi mengupayakan kesembuhannya. Hingga tulisan ini tayang, papa masih terbaring lemah di tempat tidur.

Tumbangnya papa inilah yang menjadi ujian berat bagi kami sekeluarga. Sebagian besar pikiran, tenaga, materi, dan, tentunya, doa tercurah untuk papa. Tak terkira berapa banyak ‘kenapa’ yang terlintas di kepala. Namun, jawaban juga tak pernah ada.

QadarAllah,” kata banyak orang.

Ujian itu seperti badai. Badai tak akan tinggal selamanya. Suatu saat badai pasti berlalu. Saya yakin, pasti akan tiba saatnya. Badai berlalu dan membawa kami pada hari baru. InsyaaAllah.

Tabik!

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *